kutunggu kau di pasar minggu

Mengutip dari judul FTV yang dibintangi Desi Ratnasari dan Anjasmara beberapa

welcome-home.jpg.jpeg
kenapa rumah berbentuk birkin?

tahun yang lalu, akhirnya aku menggarap tulisanku ini yg sudah beberapa lama terbayang di kepalaku.
Pasar Minggu adalah sebuah kecamatan di Jakarta selatan yang meliputi Pejaten, Kebagusan, sedikit Cilandak dan tentu saja tempatku hidup selama 24 tahun 11 bulan: Jati Padang. Sebuah daerah yg kupikir; deptan banget, karena tersebarnya kantor-kantor Departemen Pertanian termasuk perumahan pegawai Pertanian.

Aku ingat beberapa tahun yang lalu jaman sekolah dulu tepatnya ketika aku masuk siang, aku suka menonton TPI yang menayangkan film-film Indonesia tahun 70an. Satu hari aku melihat adegan film,ntah apa judulnya, di film itu ditunjukkan seorang istri dokter muda yang memprotes suaminya yang memilih ditempatkan di puskesmas terpencil. Dan tahukah kamu, dimana dokter itu memilih? Ya, puskesmas pasar minggu. Begitu terpencilnya Pasar Minggu di mata pembuat film tahun 70an.

Aku tidak bisa menyalahkan film itu karena di era 90an pun, Pasar Minggu masih berwajah sederhana dengan Bioskop Nirwana yang ramai dikunjungi orang (termasuk aku) karena menayangkan Tutur Tinular. Untuk membeli baju, aku harus pergi ke Blok M, karena di Pasar Minggu cuma ada Ramayana dkk. Sekarang dua puluh tahun berlalu, aku spertinya masih menjadi penikmat Pasar Minggu. Terbukti dengan masa sekolah sedari TK sampai SMA yang berkutat di kecamatan Pasar Minggu, bekerja beberapa tahun di sekolah yang lokasinya juga di ps minggu, bahkan masih berbelanja entah itu furniture atau bra, di pasar tradisional tercinta: Pasar Minggu. Aku mungkin kelewat berakar di daerah ini. Ntah kenapa, aku tidak bisa berpisah dengan Pempek Pak Jenggot, Soto Betawi Hj Awi, Toko Matahari tempat beli cat rambut, si Linda salon yang memotong rambutku sejak usia 12 tahun, sampai berbagai rupa toko bangunan langganan. Mungkin ini karena aku tidak punya kampung halaman, Pasar Minggu akhirnya kujadikan kampung halaman walaupun aku ini hanya anak dari keluarga pendatang

Sekarang Pasar Minggu semakin semarak. Beberapa apartemen mulai dibangun, mall pejaten dengan nama prestigiusnya: Pejaten Village sudah dibuka dengan teater 21 anti mesumnya. Kalau dulu orang Pasar Minggu hanya mengenal Tetap Segar untuk membeli kebutuhan rumah tangga, sekarang sudah berdiri Ace Hardware di seberang kantor Republika. Jalur buswaypun melewati sebagian wilayah kecamatan ini. Jalan Ragunan yang dulu lengang, sekarang tiap pagi padat merayap, apalagi jalan raya pasar minggu, macet macet macet bahkan di hari Sabtu.

Aku tidak tahu sampai kapan aku di Pasar Minggu tapi satu yang kuharap, pohon-pohon besar yang banyak bertebaran di Pasar Minggu tidak habis ditebang untuk pelebaran jalan atau menambah fasilitas umum bagi manusia Pasar Minggu yang makin padat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s