Supermarket Rohani

Melihat perjalanan spiritualku nampaknya terlihat biasa saja,,,mengingat aku sejak lahir sampai saat ini masih berkutat di protestan protestan juga tapi tetap ada pergeseran yg terjadi. Bapakku Protestan Calvinis (atau Lutheran?) yang memilih menjadi protestan ketika ia kuliah di BOGOR dengan satu alasan sederhana (tempat ibadah yg paling deket kampus ya Zebaoth..) Sejak kuliah itu lah bapak dengan setia bernaung dibawah GPIB. 


Ibuku terlahir di lingkungan ibu kejawen sedikit masih berbau Kristen dan bapak kejawen yg memilih Islam supaya tidak dianggap pro Komunis. Ibuku pergi ke gereja Pantekosta karena di jamannya aliran Pantekosta termasuk aliran Protestan yang paling kuat di Jawa timur. 

Ketika aku lahir, aku dibaptis percik sewaktu bayi di GPIB dan ketika aku berusia 2-4tahun aku dibawa ibuku datang ke persekutuan-persekutuan doa secara sembunyi-sembunyi karena bapakku tidak pernah tertarik dengan kegiatan ibadah yang tidak tenang dan tidak taat liturgi (berdoa koq menangis, nyanyi koq tepuk tangan..). Ketika aku mulai memasuki SD, tidak ada lagi masa kucing-kucingan. Kami setia dan patuh mengikuti gereja pilihan bapak dan bapak menjalani karier rohaninya sebagai penatua gereja tapi sebenarnya di rumah, aku tetap dididik kerohanian ala pantekosta dengan gaya berdoa berlutut & air mata, bacaan Alkitab harian ditambah pula bude yang istri seorang pendeta dari Pantekosta Kabar Mempelai.

Menginjak masa SMP, aku seperti berdiri di dua kaki. Aku mulai mengikuti kebaktian di Tiberias karena aku merasa tidak mendapat siraman rohani apa-apa di gereja lama namun di sisi lain aku sebagai remaja tidak bisa meninggalkan kebaktian remaja yang sebagian besar adalah teman-teman sekolahku di sebuah sekolah Katolik di Pejaten. Kelas 2 SMP, aku dengan berani menghadap bapakku utk baptis ulang di Tiberias dan aku minta dia hadir. Bapak marah besar tapi bapak juga tahu. Ada tidaknya dia di baptisanku, aku akan tetap berangkat. Jadilah dia mendampingiku dan sampai aku SMA, aku tetap rutin ke Tiberias dan ikut Sidi di gereja bapak. Selepas masa Sidi yang menyiksa (karena aku sudah punya pemahaman sendiri soal baptisan dan Roh Kudus yg beda dari gereja bapak), aku memutuskan utk tidak lagi ke gereja bapak sampai saat ini. 

Aku juga tidak pernah mau terlibat aktif dalam gereja budeku karena aku tahu persis, di depan mereka mengagungkan kekudusan tubuh; tidak zinah, tidak cabul, tidak rokok, tidak minum, tidak make up berlebih, tapi di balik itu smua..aku harus menghadapi kenyataan budeku yang depresi berat karena perselingkuhan pakde yang terjadi selama bertahun-tahun.

Saat ini aku masih di Tiberias,,gereja yang disebut bapakku sebagai supermarket kristen karena bisa datang dan pergi sesuka hati. Dengan sekali kebaktian ada skitar 1000 orang dan puluhan jadwal gereja yang bisa dipilih sesuka hati memang kecil untuk mengenal satu sama lain secara intim. Dari ribuan orang tersebut, ada beberapa orang satu gereja yang kukenal akrab tapi merekapun tidak sepertiku yang dimata mereka militan karena ritual perjamuan kudusku tiap dua kali sehari termasuk juga 1 sendok minyak urapan (zaitun) sekali sehari. Ajaran gereja ini yang berbau kemakmuran dan penentangan mereka terhadap adat-adat yang menyembah roh leluhur pun tidak semua jemaat Tiberias bisa terima. Sementara aku? plek plek aku setujui & tidak keberatan dgn itu smua. 

Nah dari masa SMA sampai kuliah setiap di mata kuliah Agama, aku bisa merasakan bahwa aku sendirian di sudut kelas. Sekali murid-murid kelas Agama Kristen tau aku bergereja Tiberias, seketika itu juga aku mendapat pandangan “hmm extrimist nih..” Akupun ingin bilang: jangankan di kalangan Protestan, di kalangan Tiberias pun aku minoritas. Yah aku sadar tidak banyak yang punya aktivitas dan pemahaman rohani sepertiku.

Saat ini selain kebaktian Tiberias, aku masih rajin mengikuti segala bentuk siraman rohani ntah itu dari rekaman kebaktian atau buku Joel Osteen karena dari sekian pendeta, dia satu-satunya pendeta yang pernah kulihat menyampaikan Firman Tuhan singkat dalam waktu 30 menit, tidak bertele-tele dan tidak pula menghakimi..yah seperti sebuah supermarket, berbagai pilihan produk bisa dipilih sesuai kebutuhan, begitu juga urusan spiritualitas



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s