Yang penting Keriaan

Dibesarkan di tengah keluarga besar yang berbeda agama dan suku membuatku belajar mengenai satu hal: selalu saja ada alasan untuk makan-makan. Beberapa tahun yang lalu, Lebaran pergi ke rumah bapak tengah (adiknya bapak) di Kalimalang, Natalan dengan keluarga inti plus keluarga om (adiknya mama), Tahun Baru dengan keluarga besar bapak. Tidak perlu dihitung acara makan-makanku setiap kali mbah pergi ke sesembahannya bukan?


Karena tidak pernah ada yang abadi, maka Lebaran tidak lagi ke rumah bapak tengah, tapi dua kali lebaran ini dirayakan dengan khusyuk di rumahku sendiri dengan membuat ketupat plus acara sungkeman antara anak kost dan ibuku. Yup, salah satu anak kostku memang tidak pernah pulang setiap Lebaran, sebagai gantinya dia berlebaran di rumahku. Setelah sholat Ied, waktunya datang halal bihalal RT sebelum kembali menikmati opor sampai bosan

Natal? Bisa ramai bisa juga tidak. Acara selalu dimulai setelah kebaktian pagi usai. Cuma makan siang dengan tamu silih berganti karena harus bertamu ke tempat lain. Biasanya ada tamu seharian setiap kali natal: Keluarga om ku (nampaknya tahun ini tidak dtg), satu sahabat SMA ku, keluarga sepupuku. Menu makanan disesuaikan kemampuan sang koki yaitu ibuku sendiri. Jaman muda, dengan idealisme tinggi, masih buat nasi kuning komplit, jaman sekarang, beli bahan-bahan plus arang, kami sendiri yang masak lalu makan siang. Aku biasanya lega luar biasa jika Natal telah berlalu. Hilang sudah kelelahan level tinggi menerima tamu..

Tahun Baru selalu jadi favoritku. Berangkat ke gereja malam tahun baru sendirian, pulang, mengamati bintang, makan jagung bakar dan rebusan kerang bersama anak kost, mengamati kembang api baru kemudian tidur. Sederhana, Tenang & Penuh Penghayatan. 

Mengapa tahun baru? Mengingat aku tidak puasa, tentu aku tidak bisa menghayati makna Idul Fitri yang sesungguhnya. Yang kutahu itulah kesempatan besarku menikmati 1 toples nastar tanpa ada yang mengganggu. Natal..mengapa tanggal 25 terasa berlalu begitu saja..karena biasanya gerejaku sudah merayakan di stadion Gelora Bung Karno tiga minggu sebelumnya..Jadi tanggal 25 tinggal urusan makan dan cuci piring.. Nah malam tahun baru paling istimewa sejak hampir lima tahun ini karena aku biasanya menuliskan target apa yang ingin kucapai di tahun yang akan datang sambil membaca ulang kisah di agendaku apa yang terjadi di tahun ini. Rasanya ada kenikmatan tersendiri utk merefleksikan kembali apa yang telah kulalui dan membuat target-target kecil untuk dilakukan.

PS: target tahun 2009 sebagian besar gatot! ya mungkin bisa ditindaklanjuti tahun depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s