darling you are just too cute

Kisah Guru : Kebudayaan Kaum Autis

Sama seperti ketika kita melihat kelompok etnis tertentu, kita bisa melihat keunikan kebudayaan mereka dibanding kelompok lainnya, begitu juga kita bisa melihat kebiasaan adat budaya yang unik dari anak-anak autis. Nah kalau untuk melihat perbedaan kebudayaan antar etnis dilakukan oleh para antropolog, untuk kebudayaan anak autis, yang bisa melihat adalah penerjemah lintas budaya alias orang-orang yg sehari-hari bersama mereka yaitu orang tua, guru, ataupun terapis.

Dalam kebudayaan autis ada 3 karakteristik yang jelas terlihat:

Perbedaan pola pikir

1. Fokus dalam hal-hal detail. Semua harus serba lurus atau semua harus dalam keadaan tertutup

2. Mudah hilang konsentrasi. Di tengah mengerjakan soal matematika bisa lupa langkah berikut yang mesti dikerjakan

3. Berpikir konkrit. Sulit untuk memahami konsep abstrak terutama emosi

4. Sulit dalam mengintegrasikan ide.

5. Sulit dalam mengorganisir dan mengurutkan

6. Sulit untuk mengambil kesimpulan umum

7. Tidak tahu konsep waktu. Bisa bekerja terlalu lama atau terburu-buru

Perbedaan dalam belajar

1. Belajar melalui visual.

2. Sangat tergantung pada prompt karena mengalami kesulitan untuk tahu kapan memulai sesuatu atau harus melakukan apa

Perbedaan pola perilaku akibat pengaruh kognitif

1. Impulsif yang sangat kuat. Bisa seketika menutup file komputer tanpa menyimpan terlebih dahulu

2. Kekhawatiran yang berlebihan karena perubahan rutinitas

3. Perbedaan sensori dan persepsi yang bisa jadi terlalu berlebihan atau malah terlalu kurang.

Akibat budaya ini, maka perilaku yang biasa muncul adalah:

1. Sangat sulit lepas dari rutinitas karena perbedaan neurofisiologis, tingginya kecemasan, dan pemahaman bahasa akibat perbedaan pengolahan sensori

2. Sering tantrum dan agresif karena terbatasnya kemampuan untuk berkomunikasi

3. Terbatasnya kemampuan sosial dan empati terhadap emosi yang dilihat. Mereka sebenarnya memiliki emosi yang melimpah tapi mereka tidak tahu bagaimana mengekspresikan melalui bahasa ataupun perilaku.

emosi disini bukan cuma marah tapi menyangkut cinta, sedih, tertekan dsb yang melibatkan perasaan

One thought on “Kisah Guru : Kebudayaan Kaum Autis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s