kuciwa

Jujur awal aku bekerja di dunia pendidikan terutama dunia anak-anak berkebutuhan khusus, aku merasa masuk ke dunia kerja yang salah. Namun setelah waktu berjalan, aku sadar mengajar adalah passionku bahkan menjadi guru sudah tercetus ketika aku masih di TK. Almarhum ayahku pernah memintaku untuk lebih mendalami autis, tapi sebagai anak pemberontak, aku merasa perlu untuk tidak mengikuti maunya. Nampaknya sehebat apapun aku berusaha melawan jalan hidup, akhirnya aku mengajar.

Tentu keputusanku untuk terjun total di dunia ini bukan jalan indah dengan taburan bunga.. ada lika liku..ada air mata karena merasa gagal..ada pula merasa kelelahan karena beradaptasi dgn murid bukanlah hal yang mudah..tapi dunia ini adalah cintaku..rasanya smua manis pahit pengalaman yang kuhadapi justru membuatku semakin mencintai dunia special needs. Setiap kali menatap mata murid-muridku, aku selalu berbicara pada diriku sendiri: buat apa lagi ya supaya pelajaran ini menyenangkan buat mereka? Buatku mereka adalah guru-guru terbaikku. Tanpa mereka aku tidak akan pernah menjadi begitu sabar (walau buat mereka aku masih saja guru yang keras..), aku tidak akan bisa lihat persis efek reinforcement dalam membentuk perilaku seseorang, dan tidak akan pernah tahu rasanya in a flow experience

Lalu seiring berjalannya waktu, semakin jelas aku terbeban untuk mengarahkan murid-murid ini ke program internship sehingga mereka bisa mandiri ketika orang tua sudah tiada. Tentu untuk itu semua, aku masih perlu menempuh pendidikan lebih lanjut mengingat latar belakang s1 ku dari Psikologi dan selama bekerja aku belum menemukan orang yang bisa dijadikan tempat berguru untuk masalah ini. Solusinya ya ambil s2 Special Education yang sayangnya tidak ada di Indonesia. Mengharapkan beasiswa? Ya untuk orang biasa sepertiku, beasiswa adalah pilihan. Namun beberapa ratus menit yang lalu aku baru saja mengalami kisah sedih pencari beasiswa.. Menindaklanjuti iklan Kompas yang kulihat hari ini soal beasiswa s2 Education di US, aku langsung melihat ke website dan sibuk membaca secara detail..lalu jreng jreng jreng.. beasiswa itu diperuntukkan hanya untuk staf diknas,  dosen yang universitasnya dibawah diknas, ataupun anggota LSM. Guru dari primary education tidak bisa apply. Huah kesal rasanya. Mengingat special education di Indonesia belum digarap serius oleh pihak Diknas.. jadi bagaimana ada staf mereka yang terpikir untuk mengambil master degree in Special Education? Tapi ya sudahlah..lupakan saja beasiswa US itu.. kembali ke dunia nyata.. daily report belum dikerjakan.. course Special Needs Management di Linguistic Council Indonesia minggu depan.. ditambah persiapan mengerjakan rapot dan portfolio murid-murid..

3 thoughts on “kuciwa

  1. mau tanya, anda ikut kelas di linguistic council? bisa saya kontak secara pribadi, saya ingin bertanya2 tentang kelas tersebut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s