Pengganti Sebuah Pelukan

Kelas Psikologi Anak baru saja berakhir satu jam lalu dan sepanjang perjalanan pulang aku sibuk berdialog dengan diriku sendiri. Dalam kondisi saat ini, yang membuatku menoleh ke belakang untuk melihat masa kanak-kanak, jujur ada jeritan hati ingin mendapat pelukan sekedar untuk membiarkan hormon oksitosin mengalir deras dalam tubuhku.

Aku bukanlah manusia yang cuma menerima apa yang telah terjadi di masa lalu tanpa mencoba memperbaiki diriku menjadi lebih baik. Idealnya, aku diberi sebuah pelukan lalu melanjutkan perbaikan diri yang belum tuntas* tapi ketika pelukan tidak bisa didapatkan ada alternatif tindakan yang kulakukan.

Pertama-tama, aku menulis disini sekedar untuk writing therapy. Kedua, aku meng-sms beberapa teman lama yang sudah lama tidak kuhubungi untuk sekedar menyapa. Aku pelan-pelan bisa mendapat ketenangan dan kemudian tersenyum pada diriku sendiri sambil dalam hati berbisik: kamu akan semakin terus disempurnakan sayang

* aku tidak tahu dengan orang lain, setiap kali aku menemukan sisi diriku yang mesti diperbaiki dan berhasil mengatasinya, tak lama kemudian, aku menemukan sisi lain dari diriku yang jg mesti diperbaiki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s