48,500,000 jadi 10,200,000

Andai yang diminta cuma lembaran daun pasti mudah untuk dikumpulkan, tapi ketika yang diminta adalah lembaran rupiah, aku cuma bisa tersenyum (yak begitulah kebiasaanku menghadapi sesuatu yg bikin shock..senyum..cengar cengir ga jelas). Aku baru saja melewati 1 minggu paling menyakitkan berupa iritasi mata gila akibat ulah pribadi yg mengabaikan peringatan dokter mataku soal debu dan bulu kucing. Kemudian siang ini ketika selesai mengurus 6 muridku, aku mendapat sms soal biaya sertifikasi tanah sebesar Rp. 48,500,000. Aku pikir mataku masih error sehingga 4 juta terbaca 48 juta. Namun tiada yang salah dengan mataku dan sah sudah biaya sertifikat rumahku (rumah ibu tepatnya) sebesar 48 juta. Ternyata biaya harian sebesar 200-300 ribu per hari untuk ‘uang tip’ ke pegawai pemerintah di instansi Jakarta Selatan* tersebut belum sebanding dengan ketetapan biaya sertifikat tanah yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional.

Pegawai yang melakukan penghitungan pun sama terkejutnya melihat nominal tersebut. Dengan senyum terkejut dia hanya bilang, “Mungkin karena di daerah elite?“. Waduh daerah boleh elite, tapi dompet kan tetep dompet bangsawan (bangsane karyawan bukan bangsane tangi awan-orang2 bangun siang). Memang semenjak kebijakan pemerintahan yang baru ini untuk mencari pendapatan negara lebih giat melalui pajak- karena PAJAK adalah cara mudah pemerintah dapat uang– aku merasakan kepungan pajak dimulai dari lonjakan kenaikan PBB plus sekarang yang terbaru adalah biaya sertifikasi tanah. Untung pajak motorku tak terlalu menyesakkan dada.

Untuk membuat situasi lebih menegangkan lagi, uang tersebut harus dibayar sebelum pergantian tahun sebab jika tidak diselesaikan tahun ini maka aku akan dikenakan tarif kenaikan baru 2010 . Untunglah (yak gini lah orang Jawa ya.. masih bilang untung) keluarga pensiunan pegawai negeri bisa memanfaatkan kenistaannya untuk mencari keringanan ke pihak pajak.. mengemis keringanan yang setelah didiskon pun uang tersebut tetaplah bernilai besar

*Sempet panas karena berulang kali diminta uang pelicin tapi proses diperlambat berputar-putar, bgitu diancam akan dipublikasikan di internet, smua kembali ke ‘jalan yg benar’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s