mengatasi luka

Beberapa terakhir ini aku menerima beberapa curhatan dari beberapa teman soal kisah kasih masa lalu*) mereka. Sekalipun judulnya masa lalu, tetap saja berdampak di masa sekarang. Rata-rata pertanyaannya sama, bagaimanakah mengatasi luka hati ketika logika dan perasaan saling berkecamuk di dalam diri.

Aku biasanya memberikan saran yang telah kuterapkan di diriku sendiri:

1. writing therapy
silakan menulis dimanapun merasa nyaman, status FB, plurk, twitter, tumblr, agenda, pinggir buku pelajaran, atau semua itu sekaligus.

2. art therapy atau olahraga
melukislah untuk meluapkan emosi, menarilah sesuka hati, dan berolahragalah setiap hari. Aku tidak pernah peduli soal olahraga untuk kurus atau apapun, yang aku tahu, olahraga membuatmu lebih bahagia dan lebih jernih dalam berpikir.

3. beri dukungan orang lain
terkesan aneh, mengapa disaat mellow malah memberi dukungan kepada orang lain. Aku mendapat resep ini dari seorang yang kukagumi, Joel Osteen, dia pernah bilang, setiap kali dia merasa down, dia akan menyapa hangat orang yang ia temui atau sekedar memberi pelukan. Aku pun menerapkan hal yang sama. Ketika aku memberi dukungan untuk teman-temanku, bukan berarti aku dalam kondisi mental yang prima. Justru di saat yang sama aku pun sebenarnya sedang sedih, sedang terluka, patah hati, atau apapun itu namanya. Namun aku tidak pernah membiarkan perasaan itu berlama-lama bergelayut di dalam pikiranku. Ketika aku melihat status teman yang nampaknya sangat sedih, aku segera menyapa dan menawarkan pelukan (walaupun itu cuma emoticon) tanpa mempertanyakan apa masalahnya. Dia terharu karena ada yang mempedulikannya dengan tulus, aku pun dipulihkan dari segala kelabu yang tidak perlu.

4. Curhat
Tetaplah curhat kepada orang-orang yang nyaman untuk dijadikan tempat curhat tapi ingat resep no 3. Soalnya kadang setelah curhat, plong tapi masih ada rasa menohok.. luka itu masih ada. Ketika aku menerapkan #3, aku bisa merasakan luapan perasaan yang hangat dan tenang. Luka itu berlalu dan aku bisa bilang: hore! berhasil! berhasil!

5.Nikmati diri
ayo lah ngaku, ketika seseorang telah berlalu dari kehidupan dan melihat ia dengan yang baru, seringkali kita langsung menilik diri dan bilang: ah emang sih g kurang cakep, g kurang gaul bla bla bla. Aku pun juga merasakan hal yang sama. Aku yg selalu begitu percaya diri ini pun bisa drop jg sebenarnya tapi buatku tubuhku adalah kuil pemujaanku. Aku memuja setiap jengkal yang ada. Kalau memang mau buat foto narsis terbaik di Gloss dan pajang di FB silahkan, atau bersenang-senang di kolam renang yuk hayuh. Manicure, pedicure, retail therapy atau sekedar berjalan-jalan keliling kota. Apapun itu, iklan Nike bilang: Just Do It!

Yang selalu aku wanti-wanti:

a. Jangan terlalu keras pada diri
Kalau memang masih ingin menyapa orang dari masa lalu, atau mengamati profile FBnya, atau kecengan terbarunya, silakan saja. Tidak perlu menyumpah-nyumpah diri karena masih saja galau melihat dia dengan orang lain. Kalau masih ingin membalas smsnya, atau sekedar bertanya pertanyaan tidak penting, lakukan saja. Waktu yang akan memulihkan segalanya. Termasuk memulihkan logika, menyelaraskan perasaan dan nalar, sehingga diri secara penuh bisa bilang: selamat tinggal masa laluku. Beneran deh, semua hal-hal yang terkesan konyol itu, lama kelamaan akan berlalu seiring berjalannya waktu

b. Jangan mencari sang penghibur
Ketika seseorang telah menjadi masa lalu, ada kecenderungan untuk segera mencari pengganti karena manusia selalu butuh objek cinta. Aku paling tidak pernah mensetujui cara ini sekalipun resep ini paling sering diucapkan orang, ‘alah masih banyak laki/perempuan diluar sana‘. Mencari pengganti hanya menambah luka karena diri yang paling terdalam belum sembuh benar sudah disodorkan dengan kisah baru yang bisa jadi bukan berujung bahagia, melainkan hanya prahara. Aku sadar begitu banyak orang yang sulit melakukan poin ini. Mereka cenderung langsung mencari pengganti yang baru dan berakhir dengan komentar yang sama: duh g mengalami hal ini lagi. emang semua cowok/cewek itu sama ya Vi. Hmm, aku tidak setuju… bukan orang-orang tersebut yang salah, kita sebagai individu yg tergesa-gesa lah yang membuat kita berakhir pada orang setipe.. Koq bisa begitu? karena refleksi diri atas apa yg terjadi di masa lalu belum cukup, sudah ingin segera mencari objek cinta yang baru.

*) curhatan klasik:

  • putus dari pacar, lalu masih komunikasi dan ujung-ujungnya dicurhati soal kecengan terbaru
  • putus dari pacar, lalu si mantan bilang masih sayang tapi tetap juga sama pacar baru
  • putus dari pacar atau udah ilfeel ama HTSan tapi masih kebaret2 juga melihat status barunya: in a relationship.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s