menghentikan luka, meneruskan cinta

Ketika seorang teman memposting soal kekerasan yang sepertinya ditransferkan dan diteruskan dari generasi ke generasi tanpa ada yang ingin mengubah, aku jadi berpikir bahwa seringkali hal itu terjadi karena memang tidak ada yang melihat bahwa itu salah.

Temanku mengajukan 3 kasus bagaimana kekerasan tidak berhenti: kekerasan Nazi kepada Yahudi lalu Yahudi kepada rakyat Palestina, bullying di sekolah atau universitas melalui aktivitas ospek, dan terakhir bullying di kantor. Setujukah anda bahwa gambaran yang terjadi di masyarakat bisa dilihat dalam lingkup terkecil yaitu keluarga? Mari sebentar lari ke keluarga dan ijinkanlah saya memakai diri saya sendiri sebagai contoh. Ketika saya kecil, saya biasa dicubit atau dipukul oleh ibu kalau saya melakukan kesalahan. Bapak saya juga biasa membentak-bentak saya ketika saya tidak bisa mengerjakan PR matematika. Saya ingat rasa sakit, sedih, malu, terpukul ketika berada di situasi tersebut. Lalu seiring saya dewasa, ketika giliran saya harus mengajar adik sepupu saya sendiri, saya ternyata mengulangi hal yang sama persis seperti yang dilakukan bapak dan ibu saya. Dalam hati saya menjerit, mengapa saya harus mengulangi hal yang sama. Mengapa saya hanya meneruskan luka yang sama..

Saya kemudian bertemu dengan orang-orang yang mengajari saya tentang mengajar dengan cinta. Saya kemudian  lebih banyak menggunakan reinforcement daripada punishment. Saya sadar butuh kemampuan introspeksi untuk bisa menghentikan penyebaran luka yang pernah dialami. Kembali ke 3 contoh yang diajukan teman saya. Mahasiwa atau karyawan senior yang meneruskan bullying padahal mereka pernah merasakan bullying yang tidak enak, secara tidak sadar meneruskan pengalaman pahit yang mereka alami. Didorong subconscious mind, mereka melakukan balas dendam. Namun conscious mind mereka mengajukan logika berpikir yang klise dan dangkal: ah ini kan supaya mental mereka tangguh, supaya mereka solid, supaya mereka merasakan situasi kerja yang sebenarnya. Padahal semua itu bisa diajarkan tanpa melalui metode kekerasan. Banyak bentuk training yang bisa mengubah pola pikir orang tanpa harus melukai perasaan orang tersebut ataupun tanpa membuat orang itu cedera secara psikologis. Nah, mengapa tidak ada yang mencoba alternatif kedua? Karna lebih mudah buat manusia untuk mengikuti pola yang sudah tertanam kepada mereka tanpa mencoba hal yang baru.Manusia biasa adalah manusia yang enggan keluar dari zona nyaman dan terus melakukan kebiasaan yang sama walaupun jauh dari kata efektis, sementara manusia luar biasa adalah manusia yang memiliki kemampuan introspeksi dan berani mengubah kebiasaan lama.

Kekerasan yang terjadi di sekolah, universitas, ataupun di kantor juga terjadi dimana-mana di permukaan bumi ini.  Bangsa Yahudi yang menyiksa Palestina sekalipun mereka pernah menderita dibawah Nazi. Seorang ayah yang menyiksa fisik anaknya persis seperti yang dialami dia dulu ketika kecil. Atau seorang perempuan yang menikahi pria penyiksa persis seperti ayahnya dulu kepada ibunya. Mereka semua hanyalah manusia biasa yang menyadari bahwa kekerasan itu menyakitkan namun tidak bergerak untuk berubah.

2 thoughts on “menghentikan luka, meneruskan cinta

  1. untuk kasus apa nih yang jadi suka kekerasan itu? kalau kekerasan rumah tangga, mostly terjadi karena mereka tidak merasa layak utk dicintai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s