My Little Jesus

my inspiration

Di satu masa ketika aku masih menjadi asisten guru, aku pernah harus menjadi shadow teacher di satu kelas ( kelas 8 ) yang sama dengan murid ini. Awalnya aku melihat murid ini sebagai murid yang angkuh, hanya ingin berteman dengan satu teman yang sama-sama dari satu negara. Namun lama-lama aku menemukan bahwa dia tidak bermaksud untuk sombong dan tidak ingin berteman dengan teman-teman yang lain. Dia hanya tidak bisa meninggalkan sahabatnya yang kebetulan saat itu sedang dalam kondisi tidak bahagia karena perceraian orang tuanya.

Di kesempatan yang santai aku pernah bilang kepadanya bahwa dia telah diintimidasi dan dimanfaatkan oleh sahabatnya. Namun mereka terus bersahabat sampai akhirnya sang sahabat kembali ke negara mereka. Aku bisa melihat betapa ia sangat terpukul karena perpisahan tersebut. Seiring berjalannya waktu dia mulai bergaul dengan teman-teman lainnya dan disitulah aku mulai melihat dia yang sebenarnya.

Dia seperti cahaya terang yang memancar di kegelapan malam. Dia sangat penyayang kepada murid-murid special needs yang berintegrasi di kelas mainstream. Dia berbicara dengan penuh kelembutan dan dia sama sekali tidak pernah habis kesabaran. Jujur aku belajar menjadi lebih sabar menghadapi murid-muridku dari dirinya. Aku berprinsip jika dia bisa sabar dan tenang, aku pun juga harus bisa.

Semakin lama aku mengenalnya, semakin aku mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang pengurus gereja karismatik untuk kaum expatriat di Jakarta. Dia sendiri terlibat aktif dalam aktivitas gereja tersebut. Aktivitas inilah yang sering dijadikan alasannya mengapa dia sering tidak sempat mengerjakan assignments dan PR nya terutama matematika.

Dia begitu sempurna, begitu tenang, begitu penyayang, begitu lembut, begitu hati-hati namun dia begitu sulit utk mengerjakan sesuatu yang menjadi kewajibannya seperti PR. Semua kelebihannya seperti menggambarkan Yesus abad 21 namun kelemahannya begitu nyata. Aku dan kolegaku sering mendiskusikan anak ini. Mengagumi sekaligus tidak habis pikir dengan kebiasaannya menunda-nunda pekerjaan. Aku bahkan pernah memberanikan diri bilang kepada ayahnya bahwa anak ini begitu istimewa dalam hal interpersonal skill.

Sampai akhirnya ia jatuh cinta. Tiba-tiba ia menjadi rajin mengerjakan PR terutama Math, tiba-tiba dia menjadi cuek namun tetap perhatian di belakang layar. Ah.. My Little Jesus akhirnya jatuh cinta. Ya.. My Little Jesus benar-benar sudah remaja..  Dia selalu menjadi inspirasiku untuk tenang dan sabar dan kisah petualangan cintanya membuatku senyum senyum sendiri.. what a beautiful life..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s