Rest in Peace. Life in Glory

Kematian Impian

20 Februari 2010 saya pernah menulis hal di bawah ini

Lalu saya berpikir kematian tidak seharusnya menjadi sebuah perayaan

apalagi sampai harus berutang

ala membuat resepsi perkawinan.

Saya sekarang memutuskan

jika memang kematian menyapa

ijinkan tubuh saya didonorkan saja.

dari ujung rambut sampai ujung kaki,

untuk yang membutuhkan organ

ataupun penelitian.

Aku tidak pernah takut menghadapi kematianku sendiri kapanpun itu harus terjadi. Yang selalu kutakutkan adalah kematian orang-orang yang kucintai, orang-orang yang kuanggap berarti dan itu bisa dihitung dengan jari.

Aku telah menulis tentang pernikahan impian, rumah impian, day care impian, dan kupikir mengapa tidak aku menulis soal kematian impian. Kalau boleh aku memilih, aku ingin mati meledak diatas pesawat yang sedang terbang. Aku mati dan meninggalkan uang santunan yang cukup untuk ahli warisku. Tidak ada ritual. Tidak ada upacara. Namun kupikir itu terlalu menyakitkan untuk orang-orang yang mencintaiku. Sesuatu yang mendadak tanpa ada kesempatan kata terakhir adalah hal yang tidak adil buat orang lain. Maka kupikir mati secara wajar buatku adalah pilihan yang menyenangkan untuk berbagai pihak. Aku tidak mau mati akibat penyakit menahun. Aku hanya ingin mati jika tugasku di bumi ini selesai.. Aku ingin terus berkarya sampai detik terakhir aku hidup.. Jika memang sudah tidak ada lagi yang bisa kubuat.. lebih baik aku angkat kaki..

BUNGA
Jika nanti aku mati, tidak perlu banyak bunga, karena sungguh aku lebih menghargai pemberian bunga itu ketika aku hidup. Aku selalu suka warna mawar, harum melati dan semarak kamboja. Selama ini aku belum pernah mendapat pemberian bunga dari orang, tapi aku pastikan aku akan sangat berbahagia mendapat bunga ketika aku masih bisa menikmatinya daripada sekedar menjadi pemanis diatas pusara.

PETI
Pilihkan saja peti mati termurah untukku toh aku tinggal jasad.. Biarkan tubuhku cepat hancur dan mengurai.. Tak perlu meletakkan barang-barang apapun di dalam peti itu. Aku tak perlu Alkitab di dalam peti karena aku tidak tertarik membacanya ketika aku telah mati. Aku tidak perlu salib untuk menunjukkan pilihan religiusitasku. Tak perlu ada perhiasan menghiasi tubuhku.

TEMPAT
Kuburkan aku dimana saja ada tempat yang tersedia. Tidak perlu menyatukanku satu liang dengan orang tuaku atau dengan siapapun yang hanya membuat orang-orang yang kutinggalkan menjadi repot.

WAKTU
Aku mau ketika aku mati, aku telah mengungkapkan perasaan cintaku kepada orang-orang yang kucintai. Aku telah memberi ciuman perpisahan lalu menghembuskan nafas terakhir. Kapanpun aku mati, saat itu pula secepatnya aku dikebumikan. Tanpa formalin untuk menunda pembusukan, tanpa acara pelepasan berkelamaan.

ACARA
Jangan berdoa di depan jasadku karena sungguh aku hanya butuh doa-doa itu ketika aku hidup bukan ketika aku mati. Pun tidak perlu memanjatkan doa berhari-hari setelah aku mati karena aku pun tak kan tertarik untuk bergentayangan mengamati orang yang kutinggalkan setelah aku mati. Ijinkanlah dia yang mencintaiku menunjukkan rasa kehilangannya sesuka hati. Biarkan ia menangis jika itu melegakan hatinya dan tak perlu dipertanyakan jika hanya diam seribu bahasa tanpa meneteskan air mata. Jangan buat acara berlarut-larut terlalu lama.

MUSIK
Ah..My Girl from the Temptations kurasa tepat untuk mengiringi kepergianku. Tak perlu irama menyayat hati karena aku pergi dengan berbahagia. Kenanglah aku sebagai orang yang telah memberi sentuhan-sentuhan hangat ke beberapa manusia di muka bumi ini tanpa perlu berlarut-larut dalam kesedihan.

PAKAIAN
Apapun yang mudah dimasukkan ke tubuhku.. tapi aku rasa akan sempurna kematianku jika aku masuk ke dalam peti dengan pakaian terakhir yang kukenakan. Sebuah gaun merah panjang nampaknya terlihat manis untuk masuk peti mati. Orang yang melayat pun tak perlu memakai pakaian gelap. Warna warni, motif bunga, apapun itu, buatlah hari kematianku menjadi semarak bukan suram. Tidak ada perlu yang diratapi dari kematian seorang Vivi karena ia hanya menjalani sebuah kehidupan baru yang dia hadapi dengan senyuman bukan ketakutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s