Terinspirasi Pria Itu

Sabtu lalu seperti biasa aku menjalani rutinitas bulananku untuk pergi ke Linguistic Council Indonesia demi menjalani course setahunku mendalami Special Needs Education. Modul terakhir adalah Counseling, sebuah materi yang mengingatkanku pada cinta pertamaku: PSIKOLOGI. Ada sepotong kisah nyata yang disampaikan oleh pengajarku (dia seorang ketua asosiasi psychoterapist di Singapura) yang membuatku terhenyak:

Ketika dia masih kecil, dia telah terbiasa mendengarkan pertengkaran orangtuanya. Mereka pikir dia tidak pernah mengerti apa-apa. Dia mungkin tidak pernah mengerti apa yang mereka ributkan tapi dia tahu pasti ada pertentangan diantara kedua orangtuanya. Dia terlalu takut untuk lari sehingga yang dia lakukan hanyalah menutup kupingnya rapat-rapat di kamar sampai suara-suara itu berhenti. Ketika ia mulai beranjak remaja, ia mulai berani angkat kaki. Ia hanya pulang ketika dia telah memastikan keributan itu telah berakhir. Orang tuanya selalu bertengkar karena ayahnya selalu sibuk bekerja dan berakhir minum-minum di pub. Ketika dia bertemu dengan seorang perempuan yang ia cintai, ia bersumpah kepada perempuan tersebut untuk tidak akan memperlakukan perempuan ini seperti ayahnya memperlakukan ibunya. Dia tidak akan mau minum-minum. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Ketika akhirnya dia menikah, dia mendapati kenyataan dia mulai takut berhenti dicintai oleh istrinya. Dia selalu merasa akan ditinggalkan. Dia takut jika dia menunjukkan cinta ke istrinya, suatu waktu nanti istrinya akan meninggalkannya dan dia akan merana. Dia sangat mencintai istrinya tapi dia pun mulai memasang jarak. Dia bekerja sampai larut malam dan berakhir di pub.. Jauh di dalam lubuk hatinya dia masih mencintai istrinya dan logikanya berkata bahwa ia telah mengulangi kesalahan yang sama dengan ayahnya. Namun ia tidak mampu untuk menghentikan semuanya. Dia terus mengulangi hal yang salah sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti konseling. Kognisinya sadar bahwa dia salah, namun emosinya penuh dengan self helplessness. Self awareness therapy diterapkan oleh konselor. Kemudian si konselor ini pun mengingatkan bahwa perubahannya yang positif bisa jadi membuat istrinya tidak nyaman. Benar juga, tipikal perempuan yang melihat suaminya menjadi baik, istrinya berpikir bahwa dia selingkuh. Butuh waktu untuk istrinya menyadari bahwa memang sang suami benar-benar berubah. Tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh ayahnya. Berani menunjukkan cinta.

Aku terhenyak. Aku tercekat bertanya pada diriku sendiri apakah aku telah cukup membongkar kedalaman diri? Bagaimana kalau justru partnerku yang tanpa sadar mengulangi kesalahan yang sama persis seperti yang dibuat orang tuanya?

Terinspirasi kisah tersebut, aku sadar sebaik apapun aku mengantisipasi sebuah pernikahan (walaupun tidak akan menikah dalam waktu dekat) pasti selalu ada celah untuk ketidaksempurnaan. Aku hanya bisa menyusun janji* dan berdoa aku akan tetap memiliki kemampuan berdialog dengan diri dan menganalisis semua kesalahan dan kebaikan yang telah kubuat hari per hari .

*) ketika beberapa minggu yang lalu aku melihat sebuah video perkawinan klien teman, aku sadar sebuah pengucapan janji diluar janji nikah yang terbaku standar sangatlah berarti. Sebuah janji yang memang disusun sendiri oleh orang yang akan menikah.. Kalau nanti kawin minta ijin pendetanya untuk baca janji sendiri ahhhh biar kaya yang di video

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s