Lihat Ke Depan Bukan ke Belakang..


Our Performance in Autism Awareness Seminar & Workshop – Senayan City 31st July 2010

Sepanjang saya mengajar di dunia Special Education, saya sering menghadapi pertanyaan dari orang-orang apa penyebab anak-anak autis atau mengapa sekarang banyak anak-anak autis?

Sebenarnya saya tidak pernah tahu jawaban pasti apa penyebab terjadinya autis, hyperaktif, dan special cases lainnya karena sampai saat ini belum ada penemuan akurat tentang penyebab kondisi ini. Yang jelas semua gangguan ini terjadi di otak. Bukan cuma pada anak orang kaya tapi juga pada orang-orang miskin. Mungkin karena kebanyakan anak-anak orang kaya bisa memiliki akses pada sekolah yang tepat dan pusat terapi maka terkesan anak-anak orang kayalah yang selalu kena autis. Padahal banyak juga anak-anak dari kalangan bawah yang mengalami hal ini namun orang tua tidak bisa berbuat banyak.

Orang banyak berasumsi anak autis lahir dari ibu yang stres, pola makan salah, atau lingkungan ibu hamil yang tidak sehat. Namun jangan salah, ada juga bayi-bayi autis yang lahir dari ibu hamil yang tidak mengalami hal itu semua. Menurut bijak saya, daripada meributkan soal apa penyebab dan menjadi paranoid menghindari ini itu, hal yang perlu dilakukan adalah bagaimana membuka wawasan orang awam tentang special needs itu sendiri.

Seperti manusia pada umumnya, mereka juga butuh rasa diterima. Bagaimana mereka bisa diterima di masyarakat jika masih banyak orang tua yang tidak ingin ada anak special needs di sekolah mereka. Jangankan orang tua, sekolah sekolah yang punya nama pun belum tentu mau menerima anak special needs dengan alasan klasik tidak ingin menurunkan kualitas (yang tentu dibungkus dengan alasan manis lain yang enak didengar orang tua).

Buat saya seorang anak seperti sebuah sponge.. masing-masing punya kemampuan untuk menyerap berbagai bentuk pengetahuan dan tugas kita orang-orang dewasa ini lah yang mengisinya sampai penuh dan melatih mereka sampai akhirnya mencapai kemandirian.  Tidak perlu menghabiskan waktu melihat kekurangan mereka, tapi memfokuskan pada kelebihan dan kondisi yang ada pada mereka yang bisa dikembangkan sampai optimal. Buat saya melihat murid saya mau membuat roti sendiri untuk snacknya atau mau melepas pelampung ketika di kolam renang adalah sebuah langkah besar. Saya tidak tertarik untuk membandingkan mereka dengan siapapun di dunia ini. Saya malah gampang dibuat terharu ketika melihat mereka dengan usaha maksimal melakukan hal-hal sederhana yang mungkin dianggap remeh oleh orang biasa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s