Bali hari pertama kedua: berlari ke laut untuk melangut..

keputusan untuk berangkat ke bali sebenarnya baru terjadi 14 hari sebelum keberangkatan. Tiket pun dibeli waktu malam sambil terngantuk-ngantuk. Jujur secara mental belum siap untuk ke bali karena uang tidak ada (berasa mau kawin aja gw pake acara siap mental..).

Terbang ke Bali Jumat Malam 26 Maret 2010 dengan keadaan terburu-buru mengingat langsung dari sekolah. Tidak mendapati kemacetan berarti sepanjang tol dalam kota, tapi nyaris hilang kesabaran ketika menghadapi tol masuk bandara karena pelebaran jalan. Aku mengeluarkan Rp. 150,000 untuk taksi dan tol lalu segera check in dan membayar airport tax Rp. 50,000. Setibanya di Ngurah Rai aku sudah terlalu lelah untuk berjalan ke arah pintu keluar mencari Blue Bird demi mendapatkan argo resmi. Jadi kubayar saja taksi yang ada di airport dan setelah menawar kubayar Rp. 50,000 untuk ke Poppies Lane II (Argo resmi 20rb).

Oh iya aku menginap di Palm Garden. Rp. 150,000 per hari untuk berdua. Ibuku yang datang lebih dulu dari Surabaya langsung mengarah kesini karena disinilah kami menginap dulu waktu ke Bali tahun 2007 (atau 2008 ya?). Penginapan ini pun kami ketahui dari teman kami yang biasa menginap disini selama dia bekerja di Indonesia.

Sabtu pagi, 27 Maret 2010, aku segera mencari pinjaman motor dari office boy di hotel. Untunglah masih ada Mio tersisa dari losmen sebelah, okie house. Modal 50 ribu dan bensin 20 ribu, aku memakai motor ini selama 9 jam lebih.. Aku memilih motor karena aku ingin menikmati desir angin sepanjang perjalanan plus bisa berhenti sesuka hati kapanpun aku mau.

Dari Kuta melewati bypass, aku mengarah ke Tanjung Benoa. Iseng parasailing, flying fish, dan banana boat. Aku membayar Rp. 330,000 utk 3 permainan ini (kalau tidak salah namanya Bali Hai..). Karena bikini masih diperlukan untuk kupakai di Kuta, akhirnya kusangkutkan di besi motor yang seharusnya untuk stang papan selancar supaya cepat kering 😀

Dari Tanjung Benoa, kubawa motorku mengarah ke Uluwatu. Aku langsung ke pantainya tanpa ke Pura. Biaya parkir motor telah ditetapkan Rp.3000. Sebenarnya aku sedikit bingung mengapa ada yang menyebut pantai ini Suluban ada pula yang bilang Uluwatu. Ah apalah arti sebuah nama.. Aku terus menuruni dan menaiki anak tangga dan sampai di pantai.. sayang sekali aku tidak membawa bikini ke pantai ini. Kalau saja aku ingat untuk membawa aku bisa berjalan menyusuri pantai lebih jauh. Untuk menghindari pakaianku basah akhirnya aku hanya berjalan di tepian, itu pun berakhir dengan basah di pakaian bagian bawah akibat terpaan ombak. Aku suka sekali dengan pantai ini. Ombaknya besar dan bisa mengamati para peselancar itu berburu ombak dari pinggir pantai atau dari atas tebing. Ibuku memilih untuk menunggu di tebing atas tidak jauh dari tempat menginap para peselancar. Memang untuk turun ke pantai butuh perjuangan terutama untuk ibuku yang tidak tahan dengan sesuatu yang curam. Para peselancar ini menyewa fotografer-fotografer lokal untuk memotret mereka ketika beraksi. Aku jadi membayangkan untuk belajar berselancar juga disini.. istilahnya menang kalah yang penting eksis.. ada potonye sodara-sodara..

Setelah di Uluwatu aku tidak kembali ke jalur sama namun sedikit memutar iseng mengintil dua anak muda Australia yang mau ke Padang-Padang sekaligus mencari suasana baru perjalanan. Aku memang belum menjelajahi Bali secara keseluruhan, tapi jalur Uluwatu-Padang-Padang sangat kusukai. Aku memang dibuat kaget dengan turunan curam diluar perkiraan, tapi toh aku masih bisa mengendalikan motor dengan baik hihihihi.. Sempat mampir ke GWK.. tapi ibuku memilih untuk minum kelapa Rp. 15,000 daripada harus naik melihat Wisnu.. Huh payah dah..

Jam telah menunjukkan waktu makan siang, sehingga mampir dulu makan siang di sekitar Bypass (sekaligus numpang ke toilet untuk pakai bikini.. beuh tetep). Dari situ perjalanan lanjut ke arah Tanah Lot. Kalau tidak salah aku membayar Rp.17,000 untuk tiket masuk dua orang dan parkir motor. Masuk ke Tanah Lot sebentar, aku tidak masuk ke Pura karena langit mulai mendung sementara kami masih harus motoran kembali ke Kuta.

Di pantai Kuta langit berawan sehingga tidak bisa melihat matahari terbenam dengan sempurna, tapi aku cukup senang mengamati seorang bapak yang sibuk menggali pasir sampai dalam untuk bermain kedua anaknya dan seekor anjing yang mirip babi menemani pemiliknya jalan-jalan sore. Ibuku cukup kaget melihat seorang beach boy menemani perempuan Australia dan berciuman disitu. Sungguh ibuku sangat bias gender.. dia maklum jika perempuan jadi pelacur, tapi prihatin dengan pria yang jadi gigolo..

Pulang ke hotel untuk mandi kami segera berjalan untuk mencari makan malam. Aku makan di Restaurant Fajar di daerah Poppies II, tepatnya di gang Ronta. Restoran ini dikelola oleh seorang tante yang ramah. Dia menyediakan nasi rames untuk memenuhi kebutuhan orang lokal dan juga masakan internasional untuk turis luar. Untuk makan dan minum per orang menghabiskan Rp15,000 yah standar makan siang di kantor lah. Dari situ berjalan ke jalan Legian untuk kesekian kalinya dengan dentuman musik yang sama.. Sebenarnya aku ingin menenggak Long Island setelah hampir 1 tahun tidak meminum ‘es teh manis’ tersebut tapi sayang ibuku sedang tidak tertarik minum malam itu jadi kami hanya melintas di Legian untuk foto di Monumen Pemboman Bali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s