bali hari terakhir: kupergi ke gunung untuk merenung

hari terakhir, Senin, 29 Maret 2010, aku pergi mengarah ke daerah pegunungan. Aku menyewa mobil Rp. 375,000 sudah termasuk sopir dan bensin. Lagi mencari mobil dari Okie House. Sopirku pak Putu benar-benar menyenangkan. Dia 5 tahun diatasku. Chubby dan menarik dengan penampilannya yang casual. Kami berangkat jam 8.45 dari Poppies. Jeda waktu antara sarapan dan menanti Putu dipakai ibuku lagi-lagi untuk membeli oleh-oleh. Ampun dah makkkkkkkkk.. Senang sekali mengamati anak-anak berangkat sekolah memakai pakaian tradisional karena hari itu adalah hari terang bulan. Aku tiba di lokasi satu setengah jam kemudian dan masih sepi. Per orang membayar 10 ribu. Baik ibu maupun aku tidak naik kapal untuk berkeliling danau karena alasan yang berbeda: dia takut air, aku sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan..

Kami makan siang babi guling sesuai tradisi setiap kali ke Bali hihihi. Makan dan minum menghabiskan biaya Rp. 15,000 per orang. Entah mungkin karena beberapa tahun lalu makan babi guling di warung Oka Ubud dalam kondisi sakit campak, atau memang lidahku error, aku merasa depot Babi Guling ini lebih enak. Aku lupa nama tempatnya tapi bisa terlihat jelas di kanan jalan jika berangkat menuju Bedugul.
Dari sini, kami mengarah ke airport dengan mampir ke Joger dan membeli oleh-oleh makanan untuk anak kost di Jakarta. Aku di Joger membeli jaket merah muda untuk naik motor dan ibuku lagi-lagi beli berupa-rupa kaos. Dari situ kami langsung masuk airport untuk mengejar penerbanganku. Ibuku sendiri baru 45 jam kemudian terbang karena penjadwalan ulang. Aku rasa ini terjadi karena sepinya jalur Ngurah Rai-Juanda sehingga akhirnya ibu diterbangkan jam 8.45 WITA dari jadwal jam 5 WITA.
Oh iya aku menggunakan Batavia Airlines karena yang paling murah ketika aku mencari tiket. Baik Jakarta-Bali PP maupun Surabaya-Bali PP sama-sama menghabiskan biaya Rp 900,000.. Penerbangan Jakarta memakan waktu 1 jam 20 menit sedangkan ke Surabaya hanya 45 menit.

Perjalanan dari Jumat sampai Senin telah memuaskanku untuk melangut ke laut dan merenung ke gunung. Perjalanan ini sebenarnya nekat kulakukan karena aku tahu ini bisa jadi menjadi perjalanan terakhir kami berdua. Di masa yang akan datang belum tentu kami memiliki waktu untuk bertamasya berdua seperti yang biasa kami lakukan selama ini. Sepanjang perjalanan kami mendiskusikan banyak hal. Kegamanganku menentukan pilihan dan keputusanku untuk mengalir seperti air menghadapi masa depan tanpa memaksakan kepada Pencipta untuk mendapatkan yang kuinginkan adalah topik utama. Ya selama 4 hari ini kami berbicara dengan penuh keseriusan ditengah gelak tawa melihat tingkah laku orang-orang yang kami amati. Aku sendiri terus berdialog dengan diriku sendiri dibalik hembusan nafasku yang dalam ketika aku berjalan-jalan sendirian..

4 hari adalah waktu maksimal untukku keluar kost karena aku sudah mulai rindu kamarku, rindu waktu pribadiku, rindu Jakarta yang keras, jorok, tapi tetap menarik persis seperti aku. Dengan membayar Rp. 20,000 untuk bus Damri jurusan Pasar Minggu, aku kembali ke kota tercinta.

Satu waktu nanti aku akan kembali ke Bali. Juga ke Lombok untuk bersepeda di Gili Trawangan. Aku belum berani mendaki Rinjani karena sadar belum pernah menaklukan Gunung Gede.. Masih ada perjalanan ‘Ke Laut untuk Melangut – Gunung untuk Merenung’ episode 2.. tunggu duitnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s