aku & ibu

Yg pake Google Search buat cari cerita xxx aku dan ibu : BERTOBATLAH ! Selamat menyimak cerita saya.

Selama bertahun-tahun aku memilih untuk menyimpan konflik batin di dalam pikiranku sendiri tentang hubunganku dengan ibu (kusapa mamak.. maklum pengaruh Karo..). Aku begitu ragu untuk bercerita kepada teman-temanku karena dua alasan : pertama, aku merasa masalahku tidaklah menarik untuk mereka yang sudah cukup penuh dgn masalah pekerjaan dan cinta, kedua aku merasa sebagai satu-satunya anak yang diam-diam mengkritisi hubungan ibu dan anak.

Aku memiliki hubungan yang luar biasa dekat dengan ibu dan banyak hal yang kami bagikan. Tidak ada yang kami sembunyikan baik itu masalah uang, cinta, ataupun seks. Namun seiringnya bertambah usia dan kematangan jiwa (huek..) aku mulai merasa aku mulai keracunan atas cinta kami berdua. Hal ini kurasakan ketika bapakku meninggal di tahun 2004. Ketika itu, aku mendapati ibuku terpuruk dalam kesedihan berlarut-larut. Aku sering menjadi bahu sandarannya ketika ia menangis dan sejak itulah aku tidak pernah menunjukkan air mata kepadanya karena aku merasa perlu menjadi kuat untuknya. Aku melakukan apapun untuk membuatnya tenang, membuatnya bahagia, dan aku tidak pernah ingin mengecewakannya.

Seiring berjalannya waktu, terjadi gesekan-gesekan diantara kami berdua yang aku yakin hanya aku yang merasakannya. Aku tidak pernah sedikitpun mengkritiknya & tidak pernah bisa menemukan ada yang salah dengan dirinya (aku cenderung menyalahkan diriku sendiri setiap kali ada masalah yang terjadi). Pernah di satu titik, aku menumpahkan semua tekanan perasaan yang kurasakan pada seorang teman. Kepada dia lah pertama kali aku mengungkapkan kegalauan yang kurasakan. Aku ingat aku berkata kepadanya : gw selalu ingin menjadi anak yg baik, anak yg membanggakan, tapi kadang gw sering merasa garis kesempurnaan itu bgitu jauh, selalu ada yang salah. Aku pun bilang kepada temanku waktu itu, alasanku takut dengan perkawinan semata-mata karena aku ragu bisakah aku hidup satu atap dengan orang lain, sementara dengan ibuku sendiri aku kadang merasa kacau..

Temanku tersebut menyarankan bahwa jalan terbaik adalah untuk tinggal terpisah sehingga hubungan menjadi lebih sehat. Namun tentu saat itu aku tidak sanggup. Aku tidak bisa membayangkan bekerja di luar Jakarta lalu di saat yang sama ibu bertahan hidup di Jakarta sendirian. Lalu, datanglah tahun 2009 ketika akhirnya kami sama-sama memutuskan untuk menjual rumah peninggalan bapak. Ibu pindah ke Kediri, Jawa Timur, dan aku terus menjalani hidup di Jakarta.

Perlahan tapi pasti aku mulai menata kehidupanku sendiri. Dengan jarak yang terpisah dan kepala yang lebih jernih, aku akhirnya telah melampaui garis kesempurnaan itu. Dalam menyikapi berbagai masalah aku bisa melihat aku jauh lebih memiliki sikap yang positif dibanding dirinya. Aku sampai kagum kepada diriku sendiri karena selama bertahun-tahun aku merasa jauh dibawah ibuku tapi akhirnya aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik (ps: skill memasak tidak dihitung..kl yg ini jelas mesti berguru sama ibu 1 bulan non stop)

Sempat minggu lalu aku sedikit gamang dengan keadaan kami berdua yang terpisah jauh. Aku memikirkan egois kah aku membiarkannya menjalani kehidupannya sendirian termasuk pergi ke gereja sendirian padahal aku cuma anak satu-satunya yang ia miliki. Aku teringat seorang bapak di kereta perjalanan pulang Kediri-Jakarta bertanya kepadaku: Toh kan tidak ada calon suami di Jakarta kenapa masih di JKT? mending cari kerja di jawa timur dan menemani ibu tho?

Pertanyaan si bapak itu sempat lama kupertimbangkan, apakah seharusnya aku mulai mencari pekerjaan di Jawa Timur lalu menetap disana selamanya.. tapi kemudian aku sadar, pesan salah seorang soulmate ku: JANGAN TERLALU MEMBENCI, JANGAN TERLALU MENCINTAI. Aku akan tetap mencintai ibuku, namun sudah saatnya aku berhenti terlalu mencintainya. Memutuskan pindah ke jawa timur hanya akan membawaku pada pusaran yang sama. Sudah saatnya aku belajar mencintai tanpa sampai terasa sakit..

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s