Puas!

Hidupku tidak sempurna tapi mensyukuri setiap hari lepas hari adalah rutinitas yang tidak bisa kulepaskan akhir-akhir ini. Hari ini aku sungguh-sungguh bersyukur buat semua yang telah terjadi. Dimulai dari menyambut matahari dan berjalan pagi di lapangan basket komplek, membeli kebutuhan di Ps Tanah Abang dengan harga murah, membeli tiket untuk pulang kampung, sampai akhirnya (yang ditunggu-tunggu) bertemu dengan sahabat dansa.


Rindu untuk bertemu dengan sohib yang satu ini sudah tertahan sejak lebih dari enam bulan yang lalu. Satu-satunya waktu adalah ketika aku libur sekolah dan satu-satunya tempat adalah ruang latihan dansa. Jadilah siang ini aku berangkat menemuinya di kantin Prima Rektorat UI. 

Sesuai dugaan, aku tiba lebih dulu daripada dia yang datang dari tempat kerjanya. Waktu untuk menunggunya kumanfaatkan dengan ngobrol dengan kedua guru dansaku. Sebuah momen yang manis karena dengan tak terbendungkan mataku memerah menahan tangis haru. Ya, guru dansaku bercerita tentang pengalamannya selama mengajar Viennese Waltz untuk 30 murid sekolah milik TB Silalahi di Sumatera Utara. Bagaimana ia sempat ragu apakah anak-anak SMA ini dapat menguasai dansa tersebut dalam waktu 8 hari. Namun dugaannya meleset. Mereka mampu melakukannya dengan baik. Kami berdua yang kebetulan sama-sama guru akhirnya larut dalam haru melihat semangat murid-murid tersebut. Guruku pun dengan detail menceritakan bagaimana suasana tempat itu sehingga aku bisa tertarik untuk pergi kesana. 

Puncaknya adalah ketika sohibku ini memberi pelukan dari belakang. Seketika itu tubuhku menghangat sampai ke ujung-ujung jari. Yah, dibalik ketegaran, aku masihlah mahluk penikmat sebuah pelukan dari sahabat: tanpa nafsu hanya kasih sayang. Sungguh aku terkesan ketika mendapatinya berpakaian rapi dengan kemeja merah marun. Lebih terkesan lagi bahwa dia mulai menikmati pekerjaannya dan memikirkan masa depan. Setelah ngobrol ngalor ngidul, akhirnya aku memutuskan pamit kepada guru dansaku. Namun guruku memberikan sebuah perpisahan yang manis : lagu dansa cha cha cha dengan iringan lagu batak dengan harapan aku akan mengunjungi daerah yang ia ceritakan. Aku pun tidak bisa menolak permintaan temanku untuk berdansa dengannya. 2 dansa berikutnya (yang masih dengan lagu batak) aku hanya bisa duduk karena tidak menguasai koreo Jive dan Vienna Waltz tapi aku bisa membayangkan bagaimana ke-15 anak-anak nun jauh di pelosok danau Toba itu akan membawakan Vienna Waltz dengan indah.. 

NB: Dengan bodohnya temanku bertanya apa arti lisoi lisoi.. aaaaaaaaaaaaa iat! sejak kapan gue ngerti basa batak!! G kan batak karo! Gadungan pulak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s