Kediri, Malang, Trenggalek, Tulungagung

Ke sungai aku terbuai, ke laut aku melangut, ke gunung aku termenung. Kira-kira begitulah tema mudik ke kampung halamanku kali ini di Jawa Timur. Sepanjang 2010 sudah 3 kali aku ke Pare dan untuk yang terakhir ini aku berangkat dengan 2 teman kostku dengan naik kereta Senja Kediri (Jatinegara-Kediri). Harga tiket mengalami kenaikan karena liburan sekolah dari Rp.160,000 menjadi Rp. 190,000. Menurutku pribadi, mengunjungi tempat-tempat indah di Jawa Timur harus memakan waktu 1 sampai 2 minggu karena lokasi yang berjauhan antar tempat sehingga memerlukan waktu istirahat yang cukup. Keputusan untuk mengunjungi 4 kabupaten ini dalam waktu 3 hari benar-benar menguras energi terutama si pengemudi. Namun apalah peduliku mengingat bukan aku yang menyetir 😀

Tiba di Stasiun Kediri pukul 6.30 (mundur 1.5 jam dari waktu tiket), kami langsung ke Pare, Kab Kediri untuk beristirahat di rumah ibuku. Butuh waktu 20 menit untuk tiba di Pare. Tubuh demam ini rasanya tidak kuat untuk rafting. Namun tidak mungkin untuk membatalkan, akhirnya berangkatlah kami ke Kasembon yang berada di Kabupaten Malang berjarak sangat dekat dari rumah. Cuma 20 menit. Dengan membayar 150 ribu kami sudah rafting plus mendapatkan snack berupa pisang goreng dan wedang jahe yang sangat saya butuhkan plus makan siang khas pedesaan. Untuk foto, kami membayar 15ribu per foto.

Kami bertiga sebenarnya sempat gentar ketika rafting akan dimulai karena ternyata jatuhnya boat kami (yang disebut ‘boom’) terjadi beberapa detik begitu kami duduk di boat. Tidak ada yang mau duduk di depan. Jadilah saya pasrah di depan sambil mempertahankan kesadaran antara demam dan pengaruh Procold. Ada 5 boom di paket family yang kami pilih dengan jarak 7 km. Cocok buat pemula apalagi pemandangannya sangatlah menyenangkan. Mengingatkanku pada masa kecil di Pare ketika kota kecil ini tidak seramai sekarang.

Setelah dari Kasembon, perjalanan dilanjutkan ke Gunung Kelud yang berada di Kediri. Ibuku sempat mampir ke warung bekicot untuk makan siang sementara aku memilih untuk tidur di jok belakang mobil. Perjalanan ke Gunung Kelud hampir mirip dengan ke Gunung Bromo. Pemandangannya indah. Aku sangat suka berada di tengah-tengah kepungan pegunungan sambil melihat jalan berkelok dan aliran sungai yang jauh di dalam jurang. Benar-benar Eden. Ada jalan misteri yang mana mobil akan tetap berjalan walaupun mesin dimatikan dan kondisi jalan menanjak. Bingung? begitu juga aku..Oh iya, Tahun 2007 Gunung Kelud menunjukkan tanda-tanda akan meletus namun tidak jadi sehingga di kawah gunung tersebut muncul lagi anak gunung Kelud.

Setelah dari Gunung Kelud, kami akhirnya pulang ke Pare dan makan malam di Warung Sego Pecel yang merupakan kenangan masa kecilku tiap kali libur sekolah. Nasi pecel disini pedas dan tidak ada tambahan lauk. Benar-benar seleraku. Salah satu teman perjalananku justru lebih suka nasi pecel yang ada di seberang pompa bensin jalan lintas luar kota di Caruban 😀

Esoknya, pagi-pagi kami berangkat mengarah ke Trenggalek. Kami langsung meluncur ke Pantai Pasir Putih. Sayang sekali hari itu adalah hari terakhir libur sekolah sehingga pantai dipenuhi pengunjung dari berbagai kota sekitar. Kami menyewa kapal untuk berkeliling sampai ke karang dan pantai yang biasa digunakan orang untuk memancing. Sewa kapal 150 ribu. Biasanya para pemancing tersebut datang pagi hari kemudian akan dijemput menjelang petang. Kami sendiri hanya berkeliling kurang lebih 45 menit. Dari pantai Pasar Putih, kami makan siang di Pantai Prigi. Baik Pasir Putih maupun Prigi memang untuk berwisata keluarga. Sekedar duduk-duduk dan menggelar makan siang

Setelah dari Trenggalek kami melanjutkan perjalanan ke Kab. Tulungagung. Mengapa? Demi membeli hadiah perkawinan yang cuma bisa didapatkan di Jawa Timur. Oh iya, seorang teman pernah bertanya kepadaku, oleh-oleh apa yang cuma bisa didapatkan di Jawa Timur. Aku langsung teringat dengan kerajinan onix dan marmer yang cuma ada di CampurDarat. Sayang mereka saat ini kekurangan bahan baku jadi sudah mulai langka menemukan kerajinan onix. Kalaupun ada, harganya jauh lebih mahal dari sepuluh tahun yang lalu.

Setelah membeli hadiah ini, kami berlanjut ke Puh Sarang, tempat berdirinya gereja Katolik yang unik di Kediri. Ada penjual tahu petis yang sangat enak disini. Kami ke tempat ini bukan untuk ziarah namun sekedar numpang foto-foto di beberapa sudut yang unik.

Hari terakhir di Pare, aku hanya beristirahat total untuk melanjutkan perjalanan naik kereta ke Jakarta. Kami makan siang di sebuah warung makan ayam panggang terenak dan terpedas di Kediri. Warung makan ini cukup terisolir. Tidak ada angkutan umum yang lewat. Hampir sebagian besar pengunjung datang dengan mobil. Untuk menuju ke tempat ini, pemandangan romantis sawah dan pohon pinus terhampar di kiri dan kanan jalan. Lagi-lagi warung makan ini adalah kenangan masa kecil.

Sambil menunggu jam keberangkatan kereta, kami sempat mampir ke gua Selo Mangleng. Tidak ada yang istimewa dari tempat ini selain cuma tempat Dewi Kilisuci, anak dari Raja Erlangga dari Kerajaan Majapahit, yang memilih untuk menjadi pertapa daripada memimpin kerajaan. Kami kembali pulang dengan kereta bisnis & lagi-lagi kehabisan selimut dan bantal. Pelajaran untuk mudik berikutnya? Beli sleeping bag di Tandike Vi!

Total Biaya Perjalanan? silakan hitung sendiri: kereta pulang pergi 380ribu, rafting 150rb, patungan foto 25rb per orang, jajan di kereta 20rb. Selebihnya biaya bensin dan makan sepanjang di Jawa Timur ditanggung ibu 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s