Ajining Rogo Songko Busono

Hari ini sangking kepinginnya menjajal lumpia semarang tidak jauh dari tempat kost, setelah tiba dari skolah, aku ingin langsung ngacir ke tempat lumpia itu mangkal. Namun langkahku tertahan karena perkara sepele : aku cuma pakai daster. Rasanya aku seperti mendengar kata-kata ibuku yang sering bilang: Ajining Rogo Songko Busono. Sebenarnya versi lengkapnya adalah :Ajining diri songko lathi, ajining rogo songko busono artinya cara berbicara dan cara berbusana akan selalu dijadikan dasar pemberian penghormatan kepada seseorang. Soal tutur kata bukanlah masalahku, tapi masalah penampilan memang aku luar biasa cuek. Njomplang sekali dengan ibu yang memperhatikan penampilannya dari kepala sampai ujung kaki.


Slogan berbahasa jawa itulah yang selalu dijadikan acuan ibu setiap kali melihatku keluar rumah dengan pakaian asal-asalan. Lucunya, bahkan ketika ibu sudah tidak ada di dekatku, hari ini aku memutuskan kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan keluar membeli lumpia dengan celana pendek dan T-shirt. Aku sadar kesan pertama begitu penting dan lagipula siapa lagi yang bisa menghargai diriku kalau tidak dimulai dari diriku sendiri? Kalau aku nekat pakai daster, aku hanya terlihat seperti young desperate housewife..

Sepanjang perjalanan aku jadi teringat bagaimana soal pakaian sempat benar-benar menjadi PR besar untukku. Ketika aku remaja, aku hidup di kalangan menengah atas yang sangat brand minded. Bilabong, Kutalines, Esprit, Guess adalah deretan merek-merek wajib dipunya. Tanpa melupakan Nike & Adidas tentunya. Dulu, aku begitu ingin terlihat keren dengan semua merek itu (except Guess, for me Guess is too bitchy..). Rasanya sembah syukur kuhaturkan kepada bapak ibu yang notabene cuma pensiunan PNS mengijinkan aku membeli tas ESPRIT dan sepatu NIKE ketika aku kelas 1 SMP. Tapi aku ingat pelajaran penting dari ibu berikutnya, JANGAN MELIHAT KEATAS TERUS, ndak selalu yang bermerek itu bagus, nanti kamu capek sendiri hidup mengikuti merek. Rasanya sedih sekali dibilang seperti itu, namun buatku kata-kata ibu adalah kata-kata Tuhan. Aku segan untuk membantahnya. Ibu kemudian mengajariku berbagai tips bahwa dengan uang yang sedikit kita tetap bisa berpenampilan apik dan terlihat elegan. Lama-lama akhirnya aku pun tidak mengejar merek terutama untuk pakaian. Bahkan ketika aku sudah bekerja, aku tidak sama sekali tertarik dengan ZARA dkk (ini juga merambah mengapa aku tidak tergoda mengejar segala teknologi terbaru gadget). Buatku, berpetualang di Tanah Abang ataupun ITC untuk mendapatkan pakaian yang berpotongan manis adalah kepuasan tersendiri. Prinsipnya, semua yang kubeli telah melewati pertimbangan yang benar sehingga dipastikan akan kukenakan. Pantang buatku membeli barang akhirnya hanya tersimpan di lemari tanpa pernah dipakai. Itu sebabnya sampai saat ini aku tidak membeli stiletto walaupun kadang keinginan itu muncul. Aku sadar aku tidak punya waktu dan tempat untuk meningkatkan keseksian dengan stiletto
Aku masih peduli merek. Aku peduli untuk tas ransel aku memilih Karrimor dkk (apapun keluaran toko Tandike lah), aku peduli bahwa parfum yang kubeli harus bermerek dan asli walaupun beli di C&F (cari yang testeur gicu) karena penggunaannya jauh lebih tahan lama daripada aku beli body spray biasa. Untuk tas, aku tidak tertarik membeli tas-tas aspal walaupun KW 1 keluaran Mangga Dua. Buatku, kalau memang tidak sanggup beli birkin Hermes ataupun handbag Channel ya ga usah beli copy catnya. Cuma bikin malu. Ketahuan ga pernah nyentuh yang asli. Tas yang aku miliki sebenarnya ada merek-merek aspal. Namun mereknya cukup tersembunyi sehingga tidak norak lah. Hehehehe. Aku suka Mango & tergoda Baby Phat tapi karena aku melihat aku belum ada keperluan menambah koleksi aku bisa mengabaikannya begitu saja. Segala kaos, celana, sepatu olahraga termasuk baju renang aku juga lebih pasti bermerek walaupun keluaran Sport Warehouse. Ya aku sadar merek dengan budget yang jelas. Itu sebabnya aku tidak tergoda mampir melihat great sale for branded items di Plasa Bapindo. 

Kesimpulannya, aku memang tidak menaruh kepercayaan diriku pada merek, tapi aku sering tidak sadar bahwa aku cuek. 2 minggu lalu ketika ibu ada di kost dan melihatku bersiap mengajar skolah minggu, aku pun diprotes ibu yang polos tidak bedakan dan pakai lipstik. . aku memang suka lupa karena bangun kesiangan dan berpikiran toh yang kuhadapi cuma 1 anak yang tidak mempedulikanku. Namun sebenarnya teguran ibu itu benar, aku bertemu dengan orang-orang selain murid sekolah minggu itu.Bukankah aku juga yang membeli jeans 300rb untuk urusan sekolah minggu.. Masa urusan rapi dikit susah.. Apapun terjadi terlihat enak dipandang sangatlah penting karena orang mau tidak mau menilai kita dari penampilan kita. 



NB: gaun-gaun di gambar ini cantikkk ya… inginnn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s