statistik oh statistik

Minggu lalu aku memberikan les privat kepada muridku yang sedang mengalami kesulitan dengan pelajaran statistik. Sub pelajaran ini merupakan momok buat anak-anak yang belajar matematika. Aku ingat ketika aku SMA (kelas 1 atau kelas 2, yang jelas gurunya Pak Lubis), aku nyaris gila dengan penghitungan angka-angkanya. Tidak seperti murid lesku yang bisa pakai Excel. Aku harus mengerjakan ulangan dimulai dari talis data, sampai menghitung angka manual. Aku dapat nilai 3 atau 5 kalau tidak salah.

Namun entah mengapa aku tertantang menaklukan statistik ketika aku kuliah. Maklum aku memilih mengerjakan skripsi kuantitatif alias menyebar alat psikologi, dihitung, & menyimpulkan berdasarkan angka-angka pengolahan software statistik. Namun bukan berarti aku gemilang di kuliah Statistik (stat 1 & stat 2). Aku  tetap mendapat nilai C. Maklum aku tipe orang yang learning by doing. Aku baru benar-benar serius belajar statistik ketika aku mesti mengerjakan tugas akhir kuliah dan skripsi di semester yang sama. Aku ingat dengan sungguh-sungguh membaca beberapa buku Statistik di liburan Juli-Agustus 2005.

Lalu tahun berlalu & aku bertemu dengan Statistik ketika mengajar murid les ku ini. Si guru memberikan tugas untuk melakukan survey. Dengan kriteria yang ditetapkan, SEBENARNYA data yang dihasilkan cuma bisa dikategorikan jadi dua : 1 untuk suka 0 untuk tidak suka. Namun si guru nampaknya tidak menyadari bahwa penghitungan statistik untuk menghitung skor (seperti hasil ulangan) berbeda dengan penghitungan statistik untuk survey preferensi. Huah. Jadilah selama beberapa menit pertama aku terbengong-bengong melihat hasil yang dikerjakan muridku.

Aku pun akhirnya menjelaskan panjang lebar soal penghitungan yang benar. Berharap mata si guru pun terbuka bahwa dia berada di jalan yang salah dan membawa sekian puluh murid ke jurang. Sayangnya si guru ternyata tidak menghayati, tidak menguasai, tidak menikmati statistik. Dia tetap kukuh dengan penghitungan yang dia ajarkan dan aku hanya mengelus dada membayangkan anak-anak ini nantinya harus menyusun ulang pengetahuan yang salah ketika mereka kuliah.

Sekali lagi aku melihat banyak orang melihat mengajar cuma sebagai pekerjaan, bukan sebuah panggilan hidup. Banyak orang menjalankan hari-hari sebagai guru sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup (yang tentunya mewah mengingat si guru ini bergaji dollar ditengah kehidupan Jakarta yang rupiah), tanpa sungguh-sungguh terpanggil untuk membuat sebuah materi pelajaran menjadi menyenangkan, tanpa sungguh-sungguh berpikir bagaimana anak-anak ini merasakan manfaat ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Statistik yang akan banyak ditemui sebagian besar murid-murid tersebut menjadi sebuah ruang gelap gulita hanya karena guru yang tidak tahu bagaimana menerangi ruangan tersebut dengan pemahaman yang mendasar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s