13 tahun..

9 oktober nanti aku merayakan hari jadi perjalanan spiritualku..Jika rentang waktu ini disetarakan dengan usia sebuah relationship maka aku sudah merasakan semuanya.. cinta mula-mula.. adu argumen.. menjadi tawar dan melakukan pertemuan mingguan sekedar ritual..having an affair..memperbaiki hubungan.. jatuh cinta lagi.. mengadu.. menangis.. tertawa.. setia.. 


Seperti yang aku pernah ceritakan di Supermarket Rohani, aku bisa dibilang backstreet atau kawin lari ketika memutuskan untuk bernaung di tempatku sekarang. Aku masih ingat tempat pertama yang kuinjak adalah Cawang Kencana. Dibawa oleh om ku dengan amanah serius dari ibu: pakai rok, jangan terpengaruh dengan orang kharismatik yang ke gereja pakai celana. . Lucu sekali mengingat jaman itu. Aku justru saat ini jarang sekali memakai rok ke gereja. AC nya terlalu dingin. Aku lupa siapa yang berkotbah saat itu. Sebenarnya om ku ingin mengajakku untuk ke sesi Yuda Mailool. Sayang sekali dia salah baca jadwal saat itu. Aku sempat beberapa kali datang ke Cawang Kencana dan 9 Oktober 1997 aku pamit kepada bapak untuk baptis. Itu rasanya seperti meminta ijin untuk menikah dengan pria yang dibenci bapakku sampai titik darah penghabisan. Bapak akhirnya memberikan restu, mengantarku baptisan di sebuah sport club di pantai mutiara (kalau tidak salah.. yg jelas dari tempatku baptisan aku bisa melihat PLTU Muara Angke), & menggerutu. Nama baptisku : Febe – yang disinari. Saat itu aku tidak mengerti mengapa pakde memberiku nama itu…

Tahun pertama aku ke gereja tergantung jemputan om ku. Lama-lama aku merasa tidak enak menjadi beban keluarga om ku. Aku memutuskan pergi bersama ibuku. Itu pun tidak pernah mudah. Selalu setor muka di kebaktian jam 9 di gereja bapak lalu memastikan makan siang bapak siap baru kemudian berangkat. Ketika itu kami pergi ke Panin jam 1 siang. Mengenang masa-masa itu rasanya sedih sekali. Panas-panas pergi ke gereja dan pulang ke rumah siap-siap dengar komentar bapak. Tapi tidak ada yang mengalahkan nikmatnya makan bakwan sepulang gereja. hehehe.

Kadang jika aku tidak pergi bersama ibuku, aku pergi bersama tetanggaku. Dia sebenarnya memiliki anak perempuan dan anak laki-laki. Sayang anaknya tidak pernah mau ke gereja. Jadilah aku yang selalu ditenteng. Setiap kali pergi bersama tetanggaku, aku selalu dibawa ke Djakarta Theatre. Aku senang tempat itu. Kursinya empuk lampu temaram bisa bobok. Yah saya remaja biasa yg jg bs tidur di gereja

Seiring berjalannya waktu, aku tidak bisa berpura-pura lagi untuk ke gereja bapak baru kemudian ke gerejaku sendiri. Aku terlalu lelah secara fisik dan mental. Aku masih muncul di kebaktian natal tapi nyaris tidak pernah ada di kebaktian Minggu. Aku mulai pindah kebaktian ke Gedung Global di Gatot Subroto karena bisa ditempuh dengan bus dari rumah. Berada di lantai 23, lift adalah satu-satunya penghubung yang bisa diandalkan. Aku pernah mengalami terjebak di lift. Pintu tidak terbuka dan aku sendirian disitu. Aku pernah juga harus turun 23 lantai karena lift rusak. Aku ingat pendeta saat itu Yuda Mailool mengumumkan bahwa kami tidak bisa lagi di gedung itu karena posisi kami yang terlalu tinggi dibanding tempat ibadah yang berada di sebelah kami. Maka pindahlah kami ke Plasa Sakti (atau Sakti Plasa?) di MT Haryono. Saat pindah itu aku sudah SMA. Gedung ini menjadi saksi bisu bagaimana teman SMAku menjadi teman seperjuangan dan sahabat rohani.  

Di tempat ini aku mengalami kejadian yang aneh. Ibuku sedang altar call (kalau tidak salah pendetanya yg wkt itu dari US deh).. aku menoleh ke kiri melihat sebuah tiang putih yang bercahaya seperti ada lampu-lampunya dibalik jendela gereja. Aku terus menatap tiang tersebut sampai leherku sakit. Tepat ketika aku ingin menunjukkannya kepada ibuku, tiang itu telah hilang. Aku mencoba berlogika bahwa itu hanyalah tiang listrik. Hmm tiang listrik bisa terlihat dari lantai 21? Bukankah dibalik jendela gereja langsung menghadap ke jalan tol? Bagaimana bisa ada tiang listrik? 

Aku menceritakan hal tersebut ke ibu, bude, dan bapak. Bude terharu. Ibu kaget. Bapak dengan rasionya bilang : khayalanmu saja. Itu tiang listrik tegangan tinggi. Sejak itu aku tidak pernah berani cerita hal itu ke siapapun. Bahkan aku baru bercerita soal ini ke temanku 13 tahun kemudian.  

Dari Sakti Plasa, pindah ke Aldiron Dirgantara, lalu ke Wisma Dharmala Sakti & Plasa Sentral, maka harap maklum jika aku sedikit hapal dengan gedung-gedung perkantoran di Jakarta. Belum lagi dengan kebaktian Natal-Paskah yang sering mengambil lokasi di Bidakara, Hotel Sahid atau Pacific Place.  

Setelah bapak tidak lagi menjadi majelis di gereja, entah angin apa dia memutuskan ikut ke gerejaku di tahun 2003. Aku terlalu terbiasa ke gereja tidak dengan keluarga lengkap lalu jreng-jreng bapakku ikut. Menangis di kebaktian persis seperti yang terjadi ketika aku pertama kali ke Cawang. Dasar sukuisme, dia bangga sekali ada Thomas Bangun jadi pendeta. Ketika bapakku sekarat tahun 2004, aku berlari minta dukungan doa dan begitu sakit menerima jawaban : tidak bisa. Aku awalnya sempat getir pahit tapi akhirnya aku bisa mengerti hikmah semua kejadian itu. Sehari setelah bapakku meninggal, aku datang ke gereja seperti biasa. Menangis lalu mempersiapkan kebaktian pengucapan syukur (yup,, kami tidak tertarik menggunakan istilah kebaktian penghiburan.. kami tidak berduka cita atas kepergiaannya.. kami bersukacita utk itu)  

Di tempat ini aku:
  1. belajar untuk tidak mengandalkan orang siapapun itu. Pendeta bisa masuk dan keluar kapan saja. 
  2. belajar bahwa cara termudah mencari pria brengsek adalah di gereja terutama di barisan pengerja.. (should i mention tim musik..). 
  3. belajar selalu ada politik organisasi. 
  4. belajar utk sabar dgn org yg level rohaninya berbeda denganku
  5. belajar utk hormat dgn pimpinan bahkan ketika pimpinan ini seenak-enaknya menembak nada masuk yang tertinggi
  6. belajar bahwa perempuan punya kekuatan menggerakkan keluarganya (termasuk si suami.. bukan bgitu bude, ibu tumakaka..ibu bawareh.. dan ibu bangun? 
  7. belajar untuk berani bertanya ini itu.. (apa itu Talmud.. mengapa bolak balik hidup kudus melulu.. mengapa pakde sensitif banget sama sound system..)
  8. belajar bahwa orang yang spiritual pun masih belajar banyak hal tentang hidup & yang terpenting : memelihara hubungan dengan pemilik alam semesta ini butuh ketekunan.. kalau ga mau bernasib sama dengan orang-orang yang membungkus dirinya dengan tampilan rohani.

Pertengahan tahun ini, aku bergabung menjadi guru sekolah minggu di Sarbini. Tim pewawancara bertanya mengapa setelah sekian lama di gereja ini, baru sekarang aku bergabung melayani. Aku pun dengan jujur menjawab bahwa buatku yang terpenting adalah melayani keluargaku dulu baru aku keluar. Untuk apa aku melayani keluar sekedar untuk lari dari keluarga. Masuk ke dalam barisan pengerja tentu membuatku melihat lebih banyak hal dibanding ketika aku sekedar menjadi jemaat (yang kadang membuatku bertanya terus kepada Tuhan.. mengapa begini mengapa begicu.. mengapa ada orang seperti itu). Aku telah siap dengan konsekuensi itu. Buatku, semua ini kulakukan karena nazarku dulu 9 tahun silam dan karena mengajarkan anak-anak tentang Tuhan jauh lebih penting daripada sekedar mengenalkan ritual. 


3 thoughts on “13 tahun..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s