etnosentris lah

Penggunaan kata etnosentris atau etnosentrisme mengingatkan pada tema skripsiku lima tahun yang lalu. Etnosentrisme adalah pandangan bahwa kelompoknya (bisa kelompok etnis, kelompok agama, kelompok latar belakang pendidikan) superior (lebih baik) daripada kelompok lainnya.

Manusia, terutama bangsa Indonesia yg komunal, kuperhatikan sangat membutuhkan identitas kelompok sebagai salah satu komponen untuk mengidentifikasi dirinya. Sementara jujur, buatku, pertanyaan aku orang apa (dalam hal ini kesukuanku & agamaku) sangat-sangat mengganggu untuk kujawab. Bukan karena aku sedang menyangkal tentang leluhurku atau keyakinan yg kuanut, tapi seringkali orang awam (orang yang tidak banyak menggali tentang identitas etnis & social psychology thingy, red.) tidak memahami dan menyadari bahwa tidak semua orang mengidentifikasi dirinya berdasarkan suku ayah melainkan lebih ke lingkungan dia dibesarkan plus ada orang-orang yang tidak suka digeneralisir berdasarkan aliran agama yang ia peluk.

Ah tapi toh ini hanya cuap-cuap semata, tentu aku hanya bisa bercerita tanpa bisa berharap orang-orang diluar sana berhenti melakukan labeling berdasarkan suku atau agama. Berikut ini kalimat-kalimat yang kusimak bagaimana orang-orang di sekitarku yg terdengar wajar tapi sebenarnya etnosentris (halah come on, mo pake bhineka tunggal ika, namanya labeling sih ga bisa dibendung) :

  1. Seorang tante bertanya kepada keponakannya : Jadi dapet orang suku apa? Lalu keponakannya menjawab : Batak. Tante itu kemudian tersenyum & bilang : Oh ya sudahlah gak pa pa kalau dapetnya itu yang penting seiman. Ya yang penting kamu belajar beradaptasi orang batak itu tuturnya kasar. Di medan pun mereka yang disebut orang batak, kalau kita Karo. (dan keponakan itu dalam hati berseru : 3 lagi orang Karo bilang begini, dapet piring cantik)
  2. Seorang sepupu kepada sepupu yang lain : Eh spupu kita tercinta dapetnya orang kita juga loh.
  3. Seorang perempuan bilang kepada prianya : Balik aja ke toko sebelumnya deh. Lebih sreg disana soalnya penjahitnya Cina. Kalau penjahit jas gw percayanya ama orang Cina.
  4. Seorang teman curhat : ada ga sih cewek yg deep thinking tapi Jawa?

Tidak bisa terhindarkan bahwa orang melakukan labeling kepada orang lain 5 detik pertama bertemu, orang cenderung mencari & bergaul dengan orang yang punya banyak kesamaan (banyak yang melandasinya berdasarkan kesamaan identitas kelompok, ada pula yang melandasinya berdasarkan kesamaan nilai hidup..), orang cenderung men-judge orang lain begitu mengetahui suku/agama/aliran yg dianut. Menyedihkan tapi sekali lagi.. tak terhindarkan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s