DSC_0028

mengadu pada ibu (part 1)

Seiring berjalannya waktu, minat saya bergeser. Saya lebih memilih tas ransel jadi tidak capek. Bela-belain ikut kuis demi tas ransel ini :

 

Gara-gara membaca Eve edisi lawas, aku tidak bisa berhenti menghapus bayangan Louis Vutton ini dari pikiranku. Sebenarnya aku jarang sekali membeli pernak pernik wanita. Aku masih memakai dua sepatu yang kubeli ketika aku lulus SMA tahun 2002, ada juga tas tangan dan ikat pinggang yang kubeli dari magang di perpustakaan di tahun 2003. Memang ada masa yang mana setiap tahun aku membeli tas tangan Mango tapi dua dari tiga tas tersebut dipakai ibuku hehehe. Harga yang kubeli pun cuma 200rb (harga JKT 500rb). Keenggananku berbelanja sebenarnya karena prinsip: must be classy jadi bisa bertahan lama menembus jaman . Aku tidak suka membeli barang musiman, yang begitu membumi saat ini, lalu jadi norak di masa yang akan datang. Mungkin itu sebabnya sampai sekarang aku belum membeli tas pesta karena belum menemukan yang tepat. Contoh paling klasik dari koleksiku mungkin adalah dompet yang sudah dipakai sejak 2001 (yup my wallet will celebrate her 10th anniversary this year). Aku tidak membeli dompet ini karena ketika ditawarkan harganya terlalu mahal. Akhirnya dompet ini dihadiahkan kepada ibu lalu diwariskan kepadaku. Hitam polos tanpa merek & cuma dibeli di pinggiran lapak penjual tas di Italia tapi buatku ini masterpiece karena dompet Braun Buffel KW Super hadiah kado ulang tahun yang ke-19 pun tidak sesempurna ini.

Begitu aku melihat koleksi tas diatas (plus dari website ini) aku seperti menemukan seleraku sampai aku mem-print gambar-gambar tas ini untuk dikirim kepada ibu. Yah siapa lagi orang di bumi ini yang bisa kuajak bicara soal tas kalau tidak kepada ibu? Nyonya yang satu itu senang berburu tas replika sementara aku anaknya tidak. Setidaknya kami sama-sama bersepakat Channel is a must to have, LV & Gucci menjemukan, & Mango terjangkau tapi ga pasaran.

Pembicaraan dengan ibu soal tas akhirnya merambat kemana-mana termasuk soal tas bekas bermerek yang dijual di bebelian dan bagaholic. Kupikir-pikir menunggu sampai koleksi LV itu turun ke pasar bekas akan membutuhkan masa yang panjang & belum lagi harga yang ditawarkan tetap tak tergapai tak terkira. Jadilah kreativitasku menyala . Aku ingat ada pusat pengrajin tas di Sidoarjo. Aku meminta ibu untuk menanyakan berapa harga pembuatan custom made bag, cukup meniru bagian luarnya, tanpa perlu pakai embel-embel LV. Aku tidak tahu apakah keinginanku untuk punya tas seperti itu akan tercapai setidaknya aku bisa bermimpi yang indah untuk pelipur lara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s