P&W bukan cuma soal nyanyi

Banyak pengajaran soal kasih, banyak pengajaran soal perpuluhan, lebih banyak lagi pengajaran yang bicara datar cari aman. Jauh dalam hati, aku bertanya mengapa tidak banyak yang bicara soal pujian dan penyembahan. Satu topik yang terlihat remeh tapi seringkali dilihat sebagai indoktrinasi denominasi* tertentu. Belajar praise & worship (pujian dan penyembahan) terbaik adalah belajar dari Daud. Dia menulis banyak tentang ucapan syukur dan bagaimana dia menyemangati dirinya sendiri ketika dia urung menjadi raja, punya affair, sampai akhirnya ingin dibunuh anaknya sendiri. Namun untuk memahami bahwa Daud adalah seorang yang sangat luar biasa di dalam P&W perlu membolak balik Perjanjian Lama (dengan P&Wnya, dia juga bisa mengusir roh jahat).

Paling mudah dan cepat, tiliklah kisah hidup salah seorang pemimpin P&W yang bernama Israel Houghton. Terlahir sebagai anak campuran kulit putih dan kulit hitam, dari seorang ibu remaja yang harus membesarkan anaknya tanpa dukungan keluarga, dia tahu pahitnya menjalani hidup. Semua pengalaman hidup negatifnya menjadi titik tolak sehingga dia mampu menghasilkan dan menyanyikan P&W sekaligus membawa orang ikut P&W dengan luar biasa. Mengapa dia bisa melakukan itu semua sekaligus ?

Memang kunci melakukan P&W yang sungguh-sungguh adalah kerendahan hati & bersandar cuma kepada Tuhan saja. Diatas itu semua, P&W terbaik biasanya dilakukan oleh orang yang paling hancur hatinya dan satu-satunya yang ia bisa lakukan adalah P&W. Itu sebabnya jarang bisa melihat P&W yang genuinely awesome, karena kebanyakan orang ketika terluka antara mellow atau curhat ke orang lain. Kebanyakan menunggu tenang dulu baru melakukan P&W akhirnya P&W tetap terlihat biasa. Lah wong sudah menjerit dulu kepada manusia, begitu ke Tuhan akhirnya tinggal sekedarnya.

Namun orang-orang yang memilih P&W justru ketika mereka hancur hati tahu ada curahan damai & sukacita yang luar biasa ketika mereka melakukannya. Mereka mungkin awalnya akan melakukan dengan terisak-isak tapi mereka bisa merasakan itu tidak berlangsung lama karena setelah beberapa lama akan ada seperti selimut hangat yang melingkupi mereka. Itu sebabnya mereka dalam P&Wnya lebih memilih menutup mata dan tidak melihat sekeliling karena ini soal hubungan intim dengan Tuhan. Mereka bisa mengangkat tangan begitu saja dan bahkan bertepuk tangan karena mereka yang hancur hati inilah yang tahu cuma Tuhan satu-satunya yang mencintai mereka lebih dari siapapun (*ini yang kemudian org dgn sentimen bilang, memuji Tuhan koq begitu, koq ditepukin, koq ga khusyuk,, kalau saja mereka pernah baca kisah Daud yang sampai menari & istrinya bilang ia aneh.. istrinya sendiri akhirnya mandul karena kata-katanya..). P&W itu punya kuasa yang besar termasuk untuk mengalahkan musuh, menghapus keputusasaan, dan menyelesaikan kepahitan. P&W itu katalis untuk berpikir positif. Makanya saya seringkali ga habis pikir, orang yang tidak merasa bersalah terlambat untuk P&W, karena P&W ini juga bagian untuk mempersiapkan otak untuk mendengarkan Firman.

Nah, orang-orang ini yang telah mengalami P&W sesungguhnya sebenarnya cocok untuk jadi P&W leader kalau punya suara bagus & tahu psikologi massa. Sayangnya tidak banyak orang yang satu paket seperti itu. Maka kadang saya beberapa kali melihat pendeta terdorong utk membawa jemaat dalam P&W yang benar sehingga ketika ia memegang mike dan seharusnya memulai atau menutup khotbah, ia membuat sesi P&W singkat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s