sabtu sore di angke

Tetap Tidak Setuju dengan Konsep Kerja Keras

sabtu sore di angke

Beberapa kali saya membaca tulisan orang-orang yang sukses, mereka selalu mencantumkan kunci sukses mereka adalah kerja keras. Saya tidak tertarik untuk mengikuti jejak mereka karena saya telah menemukan formula yang membuat saya puas dengan hidup saya sendiri. Buat saya yang terpenting adalah KERJA CERDAS bukan kerja keras. Dalam bekerja cerdas itu, ada 3 elemen yang selalu saya gunakan dalam menjalani hidup.

  1. Menggunakan Waktu dengan Efektif. Ada 2 benda yang hampir saya selalu bawa sejak saya kelas 3 SD : jam tangan dan agenda. Semua yang harus saya kerjakan pasti akan saya tulis di agenda. Saya mengalokasikan waktu untuk semua aktivitas termasuk waktu santai dan bercengkerama dengan orang-orang terdekat. Di kepala saya seperti sudah ada alarm otomatis yang mengingatkan jika saya berlarut-larut melamun dan tidak melakukan aktivitas yang berarti. Seperti pagi ini, cuaca di Depok mendung dengan sedikit rintik-rintik. Sebenarnya saya berencana untuk menyebarkan brosur sendirian tapi saya pikir itu tidak efektif karena brosur akan basah. Saya lalu teringat untuk memperbaiki motor saya. Jam 6 pagi saya bangun. Memulai hari dengan membaca Alkitab dan menulis blog. Jam 7.30 tepat saya selesai bersantai dan segera membuat kopi, mandi, dan berangkat. Saya memastikan setiap kali keluar kantor saya bisa mengerjakan 2-3 hal sekaligus. Untuk itu saya membawa baju kotor untuk dicuci jadi selesai dari bengkel saya bisa langsung mengantar baju ke cuci kiloan. Saya pulang. Kembali menulis blog dan siap memberikan waktu istirahat kepada diri saya sendiri. Intinya, saya selalu memastikan bahwa saya punya cukup waktu untuk diri saya sendiri sambil tetap menyediakan waktu untuk orang lain.
  2. Disiplin. Hal sepele seperti meletakkan barang pada tempatnya (sehingga tidak perlu repot membuang waktu untuk mencari ketika membutuhkan) dan tidak menunda pekerjaan (seperti mencatat pengeluaran harian) adalah hal yang selalu utamakan. Saya tidak pungkiri bahwa saya sendiri masih perlu belajar dalam hal ini tapi saya menikmati proses belajar ini karena saya tahu yang akan menikmati buah dari kedisiplinan adalah diri saya sendiri
  3. Tidak Diatur Mood. Saya bukan orang yang moody. Selelah apapun saya selalu berusaha menyelesaikan tanggung jawab saya. Memang ada masa dalam hidup ketika saya merasa terpuruk. Menerapkan aturan #1, saya akan membiarkan diri saya larut dalam perasaan saya selama beberapa waktu setelah itu saya akan melanjutkan aktivitas saya. Kesedihan dan kekecewaan bisa datang kapan saja, namun perginya semua tergantung kita sendiri apakah mau berlarut-larut atau menjadi terpacu untuk bangkit.

Dengan modal inilah saya bisa menyelesaikan kuliah 3,5 tahun (dan sempat 2 tahun ikut Senat Mahasiswa) dan sekarang dengan metode yang sama, saya menjalani peran sebagai seorang guru dan wiraswasta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s