Belajarlah Sampai ke Finlandia

Saya mendapatkan video ini (

) dari kicauan salah satu akun Twitter yang saya ikuti tentang pendidikan di Finlandia. Menarik sekali bagaimana sistem pendidikan yang tidak memberatkan membuat anak-anak ini berhasil memperoleh peringkat no 1 dalam tes PISA jauh melampaui anak-anak di Amerika. Anak-anak Finlandia ini belajar di sekolah ketika mereka usia 7 tahun. Tidak diteror ketakutan soal UN, tidak dinilai dengan rangking, tidak dianggap ‘bodoh’ kalau lemah dalam berhitung, tidak ada PAUD! Mereka pulang tanpa membawa PR, tapi mereka adalah bibit-bibit yang siap dalam bidang riset dan pengembangan (kalau ada membaca PISA secara mendalam anda akan mengerti maksud saya).

Ujian Nasional, tuntutan bahwa anak masuk SD sudah bisa membaca, anak kelas 3 SD sudah hafal perkalian, tidak akan pernah berhenti selama orang tua hanya menuruti kurikulum yang dibuat oleh pemerintah. Orang-orang Depdikbud sebenarnya adalah manusia biasa. Kebanyakan adalah orang-orang biasa yang tidak bisa melihat kekurangan dari program yang mereka buat sehingga mereka hanya menciptakan problem yang sama setiap tahunnya. Berbeda total dengan pejabat pendidikan di Finlandia.  Mereka tahu mereka nomer 1, tapi mereka masih memikirkan untuk membuat pendidikan mereka lebih baik lagi dengan menggelar konferensi mengenai target pendidikan 2020.  Di Indonesia ? ini tahun 2012, dan pemerintahnya mau membuat kurikulum 2013.. Selama orang tua tidak mau buka mata soal ini, dan juga berperan aktif dalam perubahan, ya semuanya hanya akan jalan di tempat.

Mengapa orang tua tidak pernah ada yang protes ? Orang tua memprotes beban pelajaran terlalu berat, tapi mereka juga tidak melakukan tindakan berarti untuk meringankan beban tersebut. Mereka malah terus mendorong anak-anak tersebut untuk mengikuti bimbingan belajar semata-mata mengejar nilai. Saya tentu tidak menyalahkan orang tua jika mereka bertindak seperti itu. Siapa sih orang tua yang tidak ingin anaknya menjadi yang terbaik di mata umum ? Siapa sih orang tua yang mau anaknya dicap ‘bodoh’ karena nilai matematikanya pas-pasan? Kalau saja orang tua Indonesia tahu bahwa anaknya yang dibangga-banggakan peringkat no 1, kalau dalam standar internasional menjadi tidak berarti karena pendidikan di Indonesia masih fokus ke penalaran rendah.

Saya merasa tidak berhak menggurui orang tua ataupun memberikan masukan kepada pemerintah. Saya memutuskan untuk melakukan perubahan kepada diri saya sendiri dan anak saya (nantinya). Masa-masa tanpa anak ini saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk terus menambah ilmu tentang home schooling termasuk belajar dari video ini. Saya memberikan tepukan kepada bahu saya sendiri karena saya mungkin bukanlah calon mantu yang baik karena saya enggan beramah-tamah, tapi saya adalah calon ibu yang jelas tahu mengarahkan anaknya ke mana 😀

Video-video ini seperti memberikan saya seminar singkat tentang bagaimana saya nantinya memberikan pelajaran di home schooling anak saya. Saya jadi berani mikir bahwa misi home schooling untuk mencetak anak yang disiplin, tekun, dan penuh kasih. Saya juga ingin menerapkan kunci sukses pendidikan di Finlandia : TRUST!

5 thoughts on “Belajarlah Sampai ke Finlandia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s