kicauan

Menyusun Impian : Sekolah Komunitas Indonesia

Awal 2015 sepertinya waktu yang tepat untuk melanjutkan tulisan di bawah. Saya menemukan gambar karya Wahyu Aditya ini di Twitter. Seorang yang saya lihat sebagai Pak Tino Sidin Abad 21 :p Saya suka gerakan #beranimenggambar yang ia teriakkan. Anak Indonesia perlu berhenti menggambar dua gunung dan matahari di tengah. Banyak hal yang bisa digambar. Banyak juga beberapa langkah gambar Wahyu di twitter yang juga saya bagikan ke murid-murid. Namun gambar ini menurut saya yang paling bisa merangkum semua soal pendidikan. Siswa bukan dididik untuk cuma menghapal dan takut salah. Siswa itu didorong untuk berani mencari tahu. Nah tulisan saya sendiri mengenai pendidikan selengkapnya dari 2013 ada di sini :

kicauan
kicauan

Ok ini memang ide gila, bisa jadi terlaksana, bisa cuma jadi sketsa. Bisa jadi terlaksana oleh saya dan orang – orang satu visi, bisa jadi dilaksanakan oleh orang lain. Yang jelas saya tidak merasa perlu menyimpan rapat-rapat ide ini. Silakan ambil, kembangkan, tiru, wujudkan! Indonesia butuh disadarkan dari sekedar pendidikan klise melalui ruang-ruang kelas bimbingan belajar ataupun pengajar-pengajar yang cuma mengharkat dirinya berhasil atau tidak dari jumlah murid yang lulus dengan nilai (yang menurut mereka) memuaskan.

Di blog ini saya banyak menuliskan soal pendidikan sebenarnya tapi entah mengapa pembaca yang mampir semacam gagal move on dari tulisan saya mengenai Josua Tumakaka. Sebenarnya tulisan tersebut juga dari sudut pandang pendidikan tapi mbok ya orang yang memberi komentar rata-rata tidak bisa berpikir rapi dan sistematis menanggapi logika berpikir penulisan saya *keluh*. Saya tidak menyalahkan mereka. Orang Indonesia tidak pernah dilatih untuk berargumen secara sistematis. Orang Indonesia dididik untuk mendukung kelompok sosialnya dengan penuh perasaan tanpa berani sedikit bertanya ‘ih koq gitu sih’ Baiklah sekedar ulasan beberapa tulisan saya mengenai pendidikan ada di :

  1. Kritik terhadap pengajaran Matematika di Indonesia
  2. Anda gila jika hanya belajar untuk tes
  3. Belajar di rumah aja yuk!
  4. Saya tidak bangga dengan hasil Ujian Nasional 🙂

Sekolah Komunitas Indonesia ini harapan saya adalah pengembangan setelah saya berhasil dengan homeschooling yang saya laksanakan sendiri. Tentunya saya tidak bisa memulai homeschooling karena saat ini saya sendiri belum memiliki anak jadi belum memiliki kelinci percobaan untuk riset kan. Atas nama Tuhan dan patuh kepada hukum Indonesia, saya tidak bisa memiliki anak sebelum nikah. Tentu saja kalau 2 hal itu tidak menjadi jerat, saya sudah bisa merintis homeschooling ini begitu saja melahirkan anak. Namun sudahlah.

Di dalam benak saya Sekolah Komunitas Indonesia ini seperti sebuah sekolah yang dekat dari rumah sehingga murid-murid tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam untuk datang ke sekolah. Mereka datang, belajar dan beraktivitas lalu pulang. Pengajar di Sekolah Komunitas Indonesia ini adalah orang-orang yang sungguh ingin merangsang anak untuk belajar secara aktif mencari tahu apa yang sedang mereka pelajari. Mengapa disebut Komunitas ? Saya mau ada pembicara-pembicara tamu yang menginspirasi baik pengajar maupun anak-anak yang mana pembicara-pembicara ini adalah orang-orang sekitar yang menguasai betul ilmunya. Bagaimana seorang murid belajar ? Mungkin diagram ini bisa jadi acuan :

aha!

Tema pengajaran yang tematik per semester sehingga dalam waktu 6 bulan ada payung besar tentang 1 topik yang kemudian menjadi landasan untuk kelas Seni Kriya dan Pertunjukan, Berhitung dan Nalar, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Kewarganegaraan, Etika dan Pancasila. Memang nama-nama pelajarannya agak aneh. Berhitung dan Nalar ? Kewarganegaraan, Etika dan Pancasila? Apa ini ? Sederhana, berhitung bisa dengan kalkulator, bernalar pakai otak. Neuron-neuron di kepala ini perlu disetrumkan satu sama lain sehingga menghasilkan perhitungan yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Mengapa ada Kewarganegaraan, Etika juga Pancasila ? Belajar tentang etika sejak dini itu sangat penting untuk menjadi manusia yang bukan cuma bernalar tapi bermoral. ETIKA loh ya bukan ETIKET.

Saya mau di tiap pelajaran semua dikupas tuntas sampai tiap murid bisa meresapi betul apa yang mereka pelajari dan hasilnya dalam bentuk seperti ini :

landasan mengajar dan menguji pemahaman anak di abad 21.

Saya suka bagaimana diagram ini menggambarkan seharusnya belajar mengajar terjadi. Pengajaran memberikan penugasan yang membutuhkan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu dengan tugas yang relevan dan penilaian dari tugas bisa dari penilaian pribadi dan teman satu kelompok. Penugasan ini merangsang mereka menulis secara terarah dan berani tampil mempresentasikan apa yang sudah mereka susun dengan bicara lugas serta siap menerima masukan. Bagaimana penerapannya di kegiatan belajar mengajar Sekolah Komunitas Indonesia ? Ya nanti ketemulah caranya. Anggap saja saya menteri, lalu saya akan tunjuk-tunjuk orang sebagai staf ahli untuk mewujudkan isi kepala saya.

Dari segi bangunan saya membayangkan bahwa lingkungan kelas akan begitu cair dan memudahkan murid untuk bergerak. Mungkin ini akibat saya terlalu banyak mengintip galeri foto Green School Bali bahkan kalau boleh juga mengadaptasi ide-ide mereka termasuk urusan berkebun. Hehehe. Ya kira-kira baru segitu bayangan saya soal sekolah ideal. Seperti yang pernah saya bilang, jika uang bukan masalah tentu saja segera saja pindah ke Bali dan menyekolahkan anak saya di Green School Bali. Namun dunia berputar bukan dengan poros keinginan saya. Hidup berlanjut dan saya pun berkhayal selama bermimpi itu masih bisa gratis. 🙂

One thought on “Menyusun Impian : Sekolah Komunitas Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s