Pendidikan : Buka Matamu untuk Politik, Sejarah & Pengelolaan Uang

Hari ini di twitter sempat linimasa saya ramai mengenai kejadian Biak ’98. Semua orang harusny menolak lupa ’98. Militer telah membuktikan kekuatannya menginjak-injak kemanusiaan. Entah berapa orang hilang, mati, diperkosa, kehilangan harta, dianiaya dan semua tidak pernah terungkap tuntas. Semua jenderal di balik itu semua tidak pernah mempertanggungjawabkan kesalahannya. Bahkan lebih seru lagi, mereka mencalonkan diri jadi presiden. Saya jadi berpikir bahwa pendidikan untuk generasi muda baik itu anak-anak maupun remaja seharusnya menjangkau tiga hal ini. Dibicarakan terbuka dan memperkaya logika mereka. Bukan cuma sekedar hafalan dan tidak menggerakkan mereka menghasilkan perilaku baru (yang harapannya) lebih baik dari orang tua mereka.

Buka Matamu untuk Sejarah

Di sini saya merasa gregetan dengan pendidikan di Indonesia. Lihatlah buku ajar Sejarah siswa. Yang diajar hanya sejarah kerajaan secara klise dan sekedarnya. Guru yang menyampaikan pun sekedar mencekokkan dengan hapalan-hapalan sampah sehingga anak-anak tidak pernah tahu untuk belajar kearifan lokal dari Majapahit, tidak pernah merasakan getirnya 1998 (apalagi 1965). Sebagian besar orang-orang terdidik di Indonesia lupa untuk mengajarkan generasi muda bahkan yang masih usia SD sekalipun untuk belajar dari Sejarah.

Kalau hanya menjalani apa yang ada saat ini tanpa mau ikut urun rembug membuat perubahan secara aktif, cuma masalah waktu 1965 ataupun 1998 akan terulang lagi.

Buka Matamu untuk Belajar Atur Uang

Masa remaja SMP saya adalah masa yang paling berat buat saya. Keinginan untuk menjadi ‘gaul’ dengan memiliki barang bermerek terbentur dengan keuangan orang tua yang pas-pasan. Niat ibu saya membelikan barang asli KW1 tentu saja tidak berhasil. Ibu saya tidak paham bahwa saya malu memakai barang merek aspal yang ia belikan karena teman-teman saya bisa membedakan mana asli mana palsu. Namun di sisi yang lain saya ingin menjaga perasaan ibu saya yang sudah susah payah membelikan. Akhirnya saya berusaha mengatur jadwal dengan baik sehingga saya masih terlihat barang tersebut sekaligus teman – teman saya tidak ngeh kalau barang yang saya pakai aspal. Lalu satu hari ibu saya memberitahukan sesuatu yang sampai saat ini masih saya ingat dan jadikan pegangan hidup.

Kalau selalu melihat ke atas, kalau standar keren cuma dari barang bermerek dan yang sedang trend sekarang ini, kamu akan capek ngikutinnya. Berani ciptakan gayamu sendiri dari yang murah dan lihat ke bawah : masih banyak yang melarat mencukupkan apa yang ada.

Ibu saya sendiri akhirnya bisa menangkap bahwa saya ingin sekali setidaknya memiliki barang bermerek. Saya ingat ketika SMP saya membeli sepatu Nike paling murah, kaos dan tas Esprit paling murah di PIM. Saya terkaget-kaget dengan nominal harganya yang (buat saya) mahal sekali tapi sekaligus saya sangat senang karena saya seperti memiliki emblem kebanggaan menjadi remaja Jakarta. Sepatu dan kaos saya pertahankan sampai SMP. Tas bertahan sampai KULIAH!!

Masa remaja ternyata menjadi masa pendidikan pengelolaan keuangan saya. Diskusi dengan orang tua dan bagaimana saya melihat keseharian orang tua saya jadi meniru cara pengelolaan keuangan. Sempat boros seperti Ibu lalu saya banting setir menjadi perhitungan seperti almarhum Bapak (..dua polar yang sama tidak baiknya..). Saya belajar dari sejarah keluarga saya itu sebabnya sebagai manusia saya berusaha memperbaiki cara pengaturan keuangan saya.

Akibat enggan belajar dari masa lalu dalam hal ini sejarah, berapa banyak dari kaum terdidik yang menggadang-gadang IP nyaris cum laudenya mengulangi kesalahan yang sama dengan orang tua mereka yang (rata-rata) cuma lulus SMA atau akademi. Kaum terdidik ini ada yang menjadi generasi sandwich. Mereka menghidupi diri sekaligus orang tua yang tidak memiliki cukup dana pensiun. Ada juga yang melilitkan diri dengan gaya hidup besar-pasak-daripada-tiang. Yang lebih seru adalah kaum terdidik yang tidak cukup berpikir kritis tentang menabung. Terlatah-latah ikut kebun emas, asuransi unit link, ketakutan dengan saham dan reksadana sudah cukup bukti bahwa banyak orang Indonesia yang masih belum (mau) melek untuk kelola uang. Kalau anda hanya sebatas mengulangi pola bisnis/menabung ala orang tua anda, sejatinya anda adalah kaum terdidik dari abad 20. Bukan abad 21 🙂

Buka Matamu untuk Politik

Kaum terdididik di Indonesia lupa enggan belajar politik dan tidak mau tahu politik beresiko dengan kondisi mereka sendiri. Jika kita menutup mata ada ormas atas nama agama mayoritas bisa seenaknya bertindak dan enggan membongkar bahwa sebenarnya ormas ini didukung militer, maka jangan kaget bila di masa yang akan datang 1998 akan terulang.

silakan cari tahu sendiri apa yang terjadi dengan semua ini
silakan cari tahu sendiri apa yang terjadi dengan semua ini

Saya jujur muak dengan pernyataan kaum terdidik (terutama yang pegang ijazah ui) bilang ‘aduh gw ga ngerti politik‘. Lah kalau ga ngerti ya belajar. Baca. Cari tahu apa yang bisa dilakukan untuk membuat perubahan. Silakan anda mengejar karir di perusahaan-perusahaan besar yang memarkir dananya di Singapura. Namun baca, simak, cari tahu, bagaimana perusahaan yang begitu besar menggaji anda berperilaku kepada masyarakat di sekitar pabrik perusahaan anda, pahami lobi dan sogokan apa saja yang dilakukan perusahaan anda kepada pemerintah. Setelah anda tahu bagikan itu kepada anak, keponakan, dan semua generasi muda yang anda kenal. Begitu juga jika anda pegawai negeri sipil ataupun pedagang. Ceritakan kepada anak-anak itu, kepada remaja-remaja yang anda sayangi, idealisme apa yang anda letakkan demi posisi anda sekarang. Tugas mengajar itu bukan cuma guru jenderal! Itu tugas semua orang terdidik! 

Dengan begitu tiap anak-anak dan remaja mendapatkan wajah utuh tentang Indonesia. Kita memberikan pencerahan kepada mereka, sehingga satu saat nanti mereka harus jadi pemimpin mereka tahu harus berbuat apa. Cuma meniru kita-kita ini atau belajar dari kekonyolan yang sudah kita buat.

2 thoughts on “Pendidikan : Buka Matamu untuk Politik, Sejarah & Pengelolaan Uang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s