GPIB Immanuel Depok.. nama sama dengan yang di Gambir

Kota Tua Depok

Depok sebenarnya memiliki potensi wisata menarik asal digarap dengan apik. Depok memiliki wilayah kota tua yang sayang jika rumah di situ dijual satu per satu ke tangan pengembang hanya karena walikota Depok tidak terlalu minat terhadap pelestarian sejarah. Di Depok juga masih bisa kita temui perkebunan belimbing yang berbuah rutin dan bisa kita beli langsung dari pemilik di sepanjang jalan RTM Kelapa Dua Depok. Lebaran 2012 saya menghabiskan waktu berjalan-jalan di perkebunan Belimbing di bantaran sungai Ciliwung – Margonda. Bahkan menu Gabus Pucung yang menggugah selera juga ada di Depok. Sayang sekali walikota Depok saat ini lebih sibuk mengurusi citra kota Depok yang religius dan menutup mata tata kota yang carut marut akibat ambisi tiap pengembang membangun apartemen

Depok Lama memiliki banyak rumah tua peninggalan Belanda. Pernah satu kali saya menemukan rumah ini ketika saya sendirian menyusuri gang per gang. Saya memberanikan diri mendekati dan memotretnya. Saya suka sekali dengan desain rumah ini yang meletakkan piring-piring sebagai dekorasi pilar. Rumah ini tampak dihuni hanya tidak mendapat perawatan optimal.

ingin kembali menemukan rumah ini
ingin kembali menemukan rumah ini
iseng cek lokasi dari beri hitam
iseng cek lokasi dari beri hitam dua tahun kemudian setelah foto diambil. Sepertinya koordinat BBM salah

Ini sebagai bagian usaha saya mencintai Depok dan melihat sisi lain Depok.. Tidak seperti daerah Menteng ataupun Kota Tua Jakarta, pemukiman rumah tua ini dikepung oleh bangunan baru. Yang menarik adalah puluhan gereja yang berdiri di pemukiman ini. Rata-rata rumah mereka memiliki pekarangan yang luas dengan ukuran rumah yang bersahaja. Tentu bukan gambaran hunian di Depok saat ini. Menyenangkan sekali bisa menemukan oase di tengah kota yang membangun tanpa tata kota.

Rumah-rumah tua ini tentunya dirawat oleh ahli waris masing-masing pemilik. Ada 12 kepala keluarga yang dulunya budak dan mendapatkan nama keluarga oleh seorang tuan tanah Belanda. Mereka datang dari berbagai sudut Indonesia itu dan kemudian sepertinya mendapat pengajaran Kristen sehingga banyak gereja di daerah ini. Saya tidak tahu apakah pemerintah Depok terpikir untuk mengolah wilayah ini sebagai daya tarik wisata sejarah mengingat sang walikota adalah orang yang sama sibuk berkampanye makan dengan tangan kanan dan satu hari tanpa nasi.

Oh iya untuk yang terpikir ke daerah ini, saya menyarankan untuk menggunakan sepeda / motor karena lebih leluasa bermanuver putar balik. Bagi warga Jakarta yang ingin ke daerah ini, lokasi sebenarnya ada di pertigaan Margonda – Kartini – Tole Iskandar. Permasalahannya cuma 1 : macet. Kemacetan tentu saja bisa dihindari asalkan ke tempat ini di jam kerja (namanya juga wilayah suburban ya nggak ?? jam kantor ya ditinggal penghuninya). Sabtu pastinya daerah ini padat kendaraan. Minggu lumayan sepi tapi mungkin bisa melihat semaraknya daerah ini ketika warga setempat selesai ibadah

Bangunan tua ini ada yang digunakan sebagai gereja, sekolah maupun rumah sakit. Namun karena tidak ada dukungan pemerintah, tentu pemilik rumah memilih menjual rumah mereka dan diubah menjadi ruko ketika mereka membutuhkan uang. Sayang memang

One thought on “Kota Tua Depok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s