content writer

uneg-uneg pekerja lepas

Bulan Desember adalah Bulan paling romantis buat saya. Bulan yang dalam perjalanan hidup saya selalu menjadi bulan pencatatan affair-affair saya dari satu oknum ke oknum lainnya. Yup I never be someone’s plan A or someone’s first choice. A man needs to use his faith to walk with me : A bittersweet person who still believe she is 99 % romantic lady.  *ngomongApaSeeh*

Mari kembali ke tujuan penulisan artikel ini. Saya bersyukur memiliki hari ini. Kembali menjadi saya. Memiliki waktu menulis di malam hari. Selain di sini, secara paralel saya menggarap tulisan tentang teh dan memperbarui website les private saya yang sudah 4 bulan terbengkalai. Saya sangat menikmati waktu saya menulis selain mengajar. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam menata blog (pribadi maupun promosi), memikirkan ide menulis, sambil membaca berita terbaru (baca : pantau linimasa twitter). Setara dengan mempersiapkan sajian mengajar yang menarik untuk dikunyah oleh murid-murid. Apakah dua hal tersebut membuat saya kaya ? BElum

Selama beberapa hari ini saya memang asyik berkontemplasi dengan diri saya sendiri. Yup I am strong in intrapersonal intelligence. Something that most wise people have *ok ini ngaco*. For those who are just too lazy to look for this intelligence, feel free to check this out (promo mas @bukik). Do not dare talking about intelligence score with me (skor IQ bahasa awamnya), if I remain silent to you means … #ahsudahlah

Akhirnya saya menyadari, ada satu peran dalam hidup saya yang harus saya pensiunkan. Talenta dan kapasitas saya bukanlah menjadi wirausahawan. Setiap hembusan nafas, saya lebih merasa menjadi pekerja lepas. Saya bangga koq menyebutkan diri sebagai pekerja lepas. Apa saja yang saya kerjakan ? SERABUTAN. survey, menulis artikel, distributor obat herbal, mengajar, membuat verbatim rekaman, menjadi admin jejaring sosial. Apapun yang membuat wawasan saya bertambah lebar, luas, lentur.

Memang saya harus akui ada masa lalu saya mau jadi sok pahlawan dengan mendukung partner saya untuk menjalani passionnya dalam kewirausahaan. Lalu kami berada pada kesimpulan bahwa partner saya konsentrasi di dunia mengajar (yang jelas ada duitnya) dan usaha kami menggelinding dengan saya turun tangan di pagi hari untuk menjalani operasional, malam mengajar. Alasan saya sepele ketika 1,5 tahun yang lalu saya akhirnya berhenti mengajar lalu memilih jadi pengajar lepas demi konsentrasi mengurus usaha: DUIT-YG-SUDAH-DIINVESTASIKAN. Ini harus saya akui sebuah pemikiran yang salah bikin guling-guling. Mungkin juga saya terlalu naif berpikiran bahwa saya bisa koq mengelola usaha. Ternyata sejatinya mengelola usaha panggilan jiwa saya. Ketika itu saya tidak sekonyong-konyong meninggalkan karena pendapatan saya sendiri cukup kuat untuk menutupi lubang-lubang usaha. Apa perlunya menjalani usaha kalau cuma dapet capek doang ? Dapet pelajaran bahwa saya sebenarnya bukan di dunia ini. Koq lama banget menyadarinya ? cos life begins at 30 *ngeles*

Tidak selamanya pendapatan mengajar saya dapat diandalkan dan tidak selamanya usaha saya berjalan sesuai yang diprediksikan. Ketika hal tersebut berjalan bersamaan maka saya cukup megap-megap menjalani hidup dua bulan ini. Untuk semua tagihan pengeluaran, saya berdiri dengan iman bahwa semua akan terbayar. Untuk kejujuran diri, saya menghapus ‘entrepeneur’ sebagai bagian dari label diri saya. Saya pekerja lepas. Saya mulai menyusun hidup dari nol. Tentu saya tidak begitu saja pergi dari usaha yang telah dirintis. Saya punya tanggung jawab melunasi aset yang dicicil selama empat tahun. Saya tidak akan pernah memecat pegawai saya. Saya menetapkan target dalam empat tahun, usaha ini akan saya serahkan kepada siapapun yang siap keciprak kecipruk berurusan dengan klien dan menawarkan harga. Setelah itu saya hanya ingin menulis dan mengajar. Saya yang memutuskan untuk mencoba maka saya juga harus mengakhiri tanpa membuat seluruh orang kecewa karena apapun terjadi ada orang-orang yang bergantung kepada saya.

Emang bisa kaya dengan cuma menulis dan mengajar ? Emang ga kepingin berbuat banyak dengan menolong kucing di jalanan kalau cuma hidup cukup untuk kebutuhan sehari-hari doang ? 2 kalimat tersebut adalah kalimat pengikat supaya saya tetap bertahan di dunia ini. Saya tidak memiliki kalimat penyanggah untuk hal tersebut karena saya memang tidak ingin berbantah. Yang saya tahu hari per hari saya jalani dengan tekun & tahun yang saya serahkan untuk mencoba bergelut sudah saya tetapkan. 4 tahun ke depan saya akan pergi. Life begins at 30. When I am 34 years old, I am going to set a new path. I am done with keciprak kecipruk struggling looking for close deal etc etc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s