Rumah Kasih ?

Berita mengenai Panti Asuhan Samuel sontak membuat saya teringat akan buku yang pernah dipinjamkan Glenda kepada saya. Judulnya White Thorn. Ditulis oleh penulis Australia bernama Bryce Courtenay. Melalui buku tersebut saya bisa merasakan bagaimana menjadi minoritas, nyaris tidak memiliki harapan, dan yang paling memilukan adalah : sendirian. Saya percaya manusia bisa lebih cepat mati karena merasa sendirian dibanding tidak ada air atau minum.

Anak disiksa, apalagi binatang. Kira-kira begitulah gambaran Panti Asuhan Samuel. Panjang lebarnya bukan bagian saya untuk menjabarkan. Namun dari situ saya jadi memiliki khayalan. Bagaimana jika saya memiliki rumah dengan halaman yang luas dengan dapur yang lapang untuk tempat anak-anak yatim piatu, orang-orang usia lanjut dan binatang terlantar memiliki tempat untuk pulang ? Saya membayangkan jika rumah tersebut (mari kita namai Rumah Kasih) menjadi tempat yang nyaman untuk beberapa anak tanpa orang tua dan orang usia tua yang butuh rumah.

Selama ini saya melihat panti asuhan dan panti jompo hanya berdiri terpisah. Apakah segitunya anak-anak dan manula tidak bisa saling mengisi dan mengasihi ? Atau mungkin terlalu merepotkan jika mereka digabungkan ? Saya membayangkan bahwa konsepnya seperti rumah. Tinggal di rumah ada peraturan, toleransi, tenggang rasa, dan kerjasama. Saya membayangkan jika anak-anak dan manula yang tinggal ini memang tidak dalam jumlah banyak sampai seperti sekolah berasrama. Hanya berdasarkan kesanggupan saya sebagai gembala di rumah ini.

Sebenarnya ide soal rumah kasih ini semacam pematangan konsep dari ide yang pernah tercetus sebelumnya. Saya pernah punya ide soal Day Care. Bagaimana jika ada anak-anak yang juga dititip orang tuanya dan beraktivitas bersama dengan anak-anak yang tidak punya orang tua ini. Bukankah lebih lagi melatih anak untuk berempati satu sama lain.

Saya membayangkan jika dalam rutinitas yang saya bentuk, di petang hari mereka bisa berkolaborasi : Orang tua suka bercerita masa lalunya, anak-anak membutuhkan dongeng. Binatang terlantar juga akan menjadi tanggung jawab bersama karena dari hasil penelitian yang saya baca ketika kuliah, orang yang memiliki tanggung jawab binatang / tumbuhan lebih memiliki semangat hidup. Lagipula anak-anak juga belajar untuk menjadi peka kepada alam sekitar kan.

Saya jadi berpikir bagaimana jika anak-anak ini juga akan menjadi anak didik saya. Saya mau mereka belajar bukan cuma bersekolah. Jadi mengapa mereka menjadi murid di sekolah impian saya ? Mereka menjadi anak didik di Home Schooling yang mana garis besar pendidikannya pernah saya tulis terpisah :

ada yg punya dan bersedia meminjamkan ?
ada yg punya dan bersedia meminjamkan ?

Uangnya dari mana ? Apakah mimpi juga harus menggunakan logika hitung-hitungan finansial ? Baiklah kalau begitu.

|Begini : Setiap kali partner saya bilang ‘ya kalau uang kita nanti kaya air.. ga perlu mikir uang lagi kenapa nggak beli ini, beli itu’ |

dalam hati sebenarnya saya merasa ada ganjalan, mungkin karena efek pelit kelamaan pas-pasan, atau memang suara hati, saya tidak pernah bisa setuju dengan ide partner sekalipun sudah dengan kata kunci ‘kalau uang nanti kaya air’ alias uang bukan masalah.

Bahkan saya masih merasa untuk mempertimbangkan segalanya sekalipun uang bukan menjadi masalah lagi dan SEBENARNYA saya lebih suka mengalokasikan ‘beli ini beli itu’ untuk kegiatan sosial saya tapi siapa saya mau menguasai seluruh arus uang sih ? lagian kan uang itu belum ada masa iya sekarang sudah dijadikan bahan perdebatan atau sanggah-sanggahan. Akhirnya saya tidak menyahuti partner (cuma iya iya doang) dan saya berpikir semua ide saya tentang mengkombinasikan panti asuhan-panti jompo-dan tempat penampungan binatang terlantar dengan sekolah komunitas ditulis saja dulu. Duit pikirin entar cynnn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s