vivi juga beraksi

Kisah Guru : Passion(s) || Renjana

click to see larger image

Ini adalah tulisan saya yang paling awal soal Passion (ditulis 3 Juni 2010)

Dari mind map terlihat yang mana passion saya yang terkuat. Bahkan software mind map ini khusus saya install ketika awal saya menjadi guru karena keinginan saya utk total dalam mengajar. Saya suka mengajar bukan cuma mengajar pelajaran atau social skills utk murid-murid, tapi juga untuk orang lain yang masih mencari passionnya ataupun sekedar ingin menjadi pribadi yang lebih baik dengan mengucap syukur (BE GRATEFUL) & menyadari penuh apa itu sukacita (JOY). Sejak dua minggu ini, saya menyerahkan 1 hari saya penuh untuk mengajar sekolah minggu di Boanerges Kids Balai Sarbini. Tanpa bayaran, saya malah perlu keluar uang setiap kali kesana. Namun tidak ada yang menggantikan rasa sukacita yang saya dapat selama bersama mereka.

Saya tahu sampai saat ini profesi saya hanya guru untuk anak-anak special needs, tapi dengan kecintaan saya pada mengajar saya mau nantinya saya bukan cuma mengajar murid tapi mengajar guru-guru, sehingga semakin banyak orang yang bisa mengambil manfaat dari pengalaman yang saya miliki. Selain itu, saya ingin sekali hasil obrolan akan menjadi sebuah materi saya untuk berbicara di depan banyak perempuan. Tidak puas rasanya jika hanya saya dan beberapa perempuan yang ada di dekat saya yang berkembang. Saya mau nanti saya memberi sebuah pengajaran tentang perempuan, dari seorang perempuan, untuk semua perempuan yang ingin menjadi lebih baik.

Di cabang-cabang yang kecil aku senang merekam orang dalam keadaan yang paling natural tanpa ada yang dibuat-buat entah itu di video ataupun foto. Kamera saku adalah yang paling sesuai untukku karena aku bisa melakukannya dimana saja kapan saja. Benda ini sama pentingnya dengan dompet utk selalu berada di tasku.

Aku suka segala hal detail pernikahan tapi bukan berarti menjadi wedding organizer karena sekalipun aku orang yang aktif, aku tidak tahan dengan jam kerja dunia pernikahan. Aku suka dengan segala pakaian untuk pria. Memang untuk pria, tidak banyak pilihan yang ada, tapi dengan komposisi warna yang tepat & cutting yang pas, semua pria bisa jadi pangeran tampan sesaat. Aku menikmati jalan-jalan dan perencanaannya (lengkap dengan detail apa yang harus dikunjungi, berapa budget, akomodasi), tapi lagi-lagi aku tidak bekerja di travel. Aku lebih suka melakukannya untukku sendiri.

Terakhir, aku suka membuat makanan! Aku tidak suka masak dalam arti membuat makanan besar (nasi, sayur, dan lauk pauknya). Aku ingin tahu membuat berbagai snack, dari cuma tahu goreng, lumpur, pastel, sampai cake dengan metode penghiasan yang terbaru. Sampai saat ini belum total kulakukan & aku tidak tahu kapan waktuku nanti tiba membuat berbagai makanan untuk sekedar menemaniku minum kopi di sore hari ataupun membuat cake untuk kado. Selama ibuku masih bisa ditelpon, aku rasa tidak ada yang sulit untuk itu 😉

enak nih 😀

Dan sekarang 3 tahun 9 bulan kemudian ini yang saya ingin bilang :

Jalani saja kehidupanmu dengan gembira & tekun 😀 lupakan soal renjana. Maafkan Saya.

Sekali lagi maafkan saya jika saya sempat mengelus dada kepada orang-orang yang dengan tekun menjalani pekerjaannya tanpa peduli renjana mereka apa. (Buat yang masih bingung, Bahasa Indonesia menerjemahkan passion menjadi RENJANA. Indah ya ? Menarik sekali jika punya anak bernama RENJANA). Setelah tulisan di atas saya yang ketika itu masih berusia 26 tahun terlalu berapi-api bahwa seseorang yang ingin hidup dengan saya seharusnya menerima apa yang menjadi renjana saya, saya pun melanjutkan hitam-putih pemikiran saya dengan menyatakan bahwa seorang pria yang akan menjadi kepala keluarga seharusnya menjalani apa yang menjadi renjananya. Padahal pada kenyataannya renjana tak melulu menghasilkan uang yang cukup. Kenyataan berbicara. Untuk menyekolahkan anak di sekolah yang menurut si bapak tersebut pas (misalnya sekolah Katolik), bekerja menjadi auditor sampai ke ujung bumi di Liberia lah yang membuat dia mampu membayar cicilan rumah, mobil, dan sebagainya.

Saya bersyukur bahwa saya menjalani apa yang saya suka. Sekalipun ada masa saya merasa kelelahan dan terpuruk sehingga luapan emosi saya berceceran di blog ini. Satu hal yang saya temukan KETEKUNAN mengalahkan segalanya. Anda bisa bilang anda sedang menjalani renjana anda tapi ketika ketekunan itu cuma tergantung dari suasana hati, maka bisa dipastikan anda akan terbalap dengan orang yang bertekun menjalani hal yang sama dan menyingkirkan suasana hati. Soal hal ini sudah pernah saya tulis juga di blog. Senior saya, Paramita Mohamad, menulisnya lebih rapi lagi. 

Saya belajar ketekunan ini dari orang-orang di Pasar Kemiri Muka. Mereka memilih berjualan beras, kelontong, telur atau apapun itu tanpa pemikiran rumit bertanya ke hati soal renjana tapi saya tidak pernah melihat mereka yang menjadi besar adalah orang-orang yang berjalan berdasarkan suasana hati mereka. Setiap hari mereka bangun pagi dan tutup hingga larut malam. Hari per hari 100% energi dicurahkan. Pemikiran mereka yang sederhana ‘kalau ndak dagang ndak makan‘ membuat mereka semakin baik dalam setiap hal yang mereka pegang. Memang ada saja pedagang yang sudah ramai lalu mendadak bangkrut. Faktor pengelolaan keuangan menjadi hal lain yang memang mesti dipelajari dan dibahas terpisah.

Singkat kata dimanapun anda terlempar dalam situasi yang sudah anda pilih, jalani saja dengan tekun. Anda bisa kapan saja menyerah dan angkat tangan. Itu hidup anda & hidup selalu memberi pilihan-pilihan. Selamat menjalani hidup dengan gembira!

4 thoughts on “Kisah Guru : Passion(s) || Renjana

  1. hai.i.i…..kira-kira bisa ikutan ngajar ga yah setiap minggu? tertarik membaca tulisan tentang anak-anak spesial needs…

    ingin ikutan jadi volunteer, bisa ga yah?

    thanks…
    tyas

    1. setiap hari minggu? aku mengajar di sekolah dan minggu libur. aku mengajar hari minggu di gereja 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s