DSC_0087

Ada Perih dalam Konsekuensi

Saya masih manusia biasa yang punya rasa iri dan miris. Saya sebagai guru bukanlah bagian dari sekelompok guru yang dibayar sebesar guru-guru di sekolah Nasional Plus atau guru yang menjadi Pegawai Negeri Sipil. Rasa miris itu terasa mak-jleb banget ketika partner sendiri yang mengutarakan hal tersebut. Memang benar, latar belakang saya yang bukan di bidang IT dan Ilmu Pasti membuat saya sebenarnya tidak memiliki posisi tawar di sekolah – sekolah Nasional Plus

 

Di posisi sekolah negeri lebih lagi. Mereka tetap mengutamakan latar belakang sarjana kependidikan atau setidaknya dari Ilmu Pasti. Tidak perlu membandingkan dengan pegawai swasta atau pegawai bank, sesama guru pun saya memprihatinkan. Seorang guru yang sebenarnya hanya sekedar mengajar untuk mendapatkan gaji bulanan bisa mencicil rumah dengan mengurus 2 anak balita karena latar belakang pendidikan komputer, sementara saya.. ya sudahlah..

Guru di sekolah negeri ataupun di sekolah nasional plus sebenarnya tidak perlu lagi dengan getir mengatakan bahwa mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa karena tunjangan yang diberikan sudah memberikan kehidupan layak untuk para guru tersebut. Selalu ada konsekuensi untuk menjalani apa yang saya sudah putuskan di masa lalu. Tidak ada di bagian masa lalu yang ingin saya perbaiki karena saya terlalu gengsi untuk bilang ‘coba dulu ga jual rumah ya‘ atau ‘coba dulu ga beli franchise ya‘. Saya pantang untuk berlama-lama hidup dalam penyesalan. Saya berjalan maju antara terseok atau (pura-pura) tegar. Satu yang pasti setiap kali saya dalam titik nadir seperti ini, saya menangis beberapa detik dan belum berhasil mengontrol makan saya yang lebih karena alasan emosi.

-*-*-
MINGGU, 30 Maret 2014
Rasa sakit di perut & mata yg gatal karena terlalu dekat dengan bulu kucing telah menjadi pemantik rasa mengasihani diri saya sendiri (lagi). Sebenarnya rasa ngenes ini bukan sudah ada di dalam saya baik ketika masih menjadi lajang ataupun dengan partner. Istilah kate : my natural alarm is dwelling in my self-pity. Baiklah mari melanjutkan cerita. Saya akhirnya curhat kepada partner bahwa saya iri dengan orang lain (yang menurut pandangan mata saya) bisa menikmati hidup : ambil kelas internasional guru yoga, liburan di setiap kali ada akhir pekan +++, ataupun mendapat kesempatan ke luar negeri mengandalkan beasiswa S2 ataupun ngintil partner hidup masing-masing.

Saya jarang mewek ke partner selain karena jaim, saya takut diberi komentar yang cuma bikin saya tertohok. please don’t get me wrong. He is the best partner I ve ever got from God. Saya bersyukur dan berterimakasih banyak kepada Tuhan memiliki Ramot sebagai partner saya (well, actually in my past,no one chose me.. haha) cuma memang saya yang tidak bisa beradu pendapat. Jadi ketika saya mewek sore tadi saya sudah siap dengan konsekuensi dengan mendengar apapun komentar dari partner.

Soal keinginan saya berlibur, partner saya benar. Kalau mau libur ya sudah berangkat saja tanpa perlu khawatir bahwa usaha akan berantakan. Lagian kan yang terpanggil wirausaha buman saya #eh. Saya juga jadi ingat bahwa saya ingin melakukan perjalanan solo sebelum saya menceburkan ke dalam era komitmen. Akhirnya saya menemukan tawaran perjalanan yang terjangkau dengan keuangan saya yaitu ke Baduy.

Saya jelas menolak mentah-mentah ide bahwa ke Pekanbaru dan Pare bulan November nanti dipersepsi saya sebagai liburan. Hari-hari itu buat saya akan cuma melaksanakan kewajiban kepada manusia-manusia yang masih membutuhkan selembar kertas dan rangkaian upacara mendengarkan orang berbicara dalam bahasa yang tidak dipahami untuk bukti sebuah komitmen. Mau dibentuk pola pikir sepositif apapun, mengikuti sebuah rangkaian acara dalam ruang tertutup dengan bahasa yang bertele-tele (belum lagi berhadapan dengan kumpulan manusia yang tidak pernah tahu etiket makan) sangat menjemukan buat saya. Sangat sulit membayangkan bahwa tembok-tembok tersebut adalah samudera Hindia dan orang-orang yang sibuk berpetuah adalah burung berkicau atau pecahan air yang menghantam batu.

Jadi perih dalam sebuah konsekuensi selalu bisa diatasi bukan cuma sebatas menulis tapi melangkah melakukan sesuatu yang terbaik buat kesehatan mental kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s