gambar hasil karya : http://aikaterynne.tumblr.com/image/88995452375

Maleficent – Frozen

gambar hasil karya : http://aikaterynne.tumblr.com/image/88995452375
gambar hasil karya : http://aikaterynne.tumblr.com/image/88995452375

Dua minggu yang lalu dan kemarin secara berturut-turut saya menonton Frozen dan Maleficent. Saya sebenarnya penasaran mengapa murid-murid saya yang usia TK tidak bosan-bosannya menyanyi lagu Frozen. Lagu ini terus terang membuat saya sakit kepala karena irama di luar selera saya (yang seusia saya juga cuma mengelus dada mendengar selera lagu saya yang dari era… 60-70an). Saya harus akui film animasi saat ini sudah sangat berkembang dan lebih hidup dibanding dulu.

Disney juga mengambil langkah perubahan menghadapi kritik bagaimana cerita Disney terlalu melemahkan perempuan. Sehingga muncullah Frozen yang mana dapat mengendalikan kekuatannya karena adik yang mau berkorban dan Maleficent yang sebenarnya tidak sejahat yang digambarkan cerita Putri Tidur Disney selama puluhan tahun ini. Namun ada yang terlewat. Disney lupa manusia tidak melulu jahat dan tidak melulu baik. Kalau memang niatnya untuk menunjukkan bahwa cinta sejati tidak selalu datang dari pangeran yang baru pertama kali bertemu, sebenarnya sekalian saja Disney membuat Aurora menempeleng bapaknya yang tega-teganya menaruh di hutan. Mengapa dibuat Raja Stefan menjadi begitu gelap sampai yang dipikirkan cuma balas dendam. Mengapa tidak dibuat setelah memperoleh tahta Raja Stefan mengembalikan sayap Maleficent dan disemprot-semprot Maleficent. Mengapa dibuat tiga peri yang baik hati itu begitu teledor sehingga seolah-olah Maleficent yang dingin tapi selalu tepat mengambil keputusan.

Untuk kasus Frozen, mengapa Elsa tidak diceritakan memberikan pengampunan kepada kerajaan yang sebenarnya memata-matai dia atau mengapa … ah sudahlah kan ini film anak-anak ya. Jangan mentang-mentang karena masa kecil saya dicekoki cerita haru biru atau spionase lalu saya harus mengharapkan seluruh anak-anak menghadapi tontonan yang sama dengan saya. Ada bagian dari Maleficent yang saya suka yaitu ketika di akhir cerita dia tetap memakai baju hitam. Seperti ingin bilang ‘TPID : Tapi Perihnya Itu Di Sini’ (sambil nunjuk dada). Ya sekarang mikir aja, udah bagian tubuh dipotong, ditinggal kawin, diserang, dijadikan target utama pembunuhan eh toh ya yang membesarkan anak mantan pacar lu. Tuh kemarin cipokan apa artinya ? cuma penyaluran libido ? Cih! Saya koq sangat menghayati peran Maleficent ya ? Mungkin karena sama seperti karakter Maleficent sejak kecil saya tidak pernah diharapkan berlama-lama bertingkah kekanak-kanakan. Saya terbiasa memimpin sampai saya akhirnya menyadari saya sebenarnya sendiri di sebuah menara sunyi. Ketika segala sesuatu berjalan di luar harapan, saya meluapkan kekesalan ke sasaran tembak paling dekat (coba perhatikan tuh burung gagak diubah apa aja sama Maleficent) baru kemudian saya segera menyelesaikan masalah. *okeh ini koq isinya jadi membanggakan diri seperti Maleficent ya*

Akhir kata, selama saya membaca buku cerita Disney : Pilih Sendiri Ceritamu, saya tidak pernah tahu kalau penyihir jahat itu punya nama tapi berulang kali saya membaca buku cerita tersebut sambil mengkhayal bahwa si penyihir jahat itu juga sedikit menyiksa putri-putri tersebut bukan cuma membuat mereka tertidur tapi mati keracunan, kakinya luka-luka kemasukan beling atau tercekik.. Tuh kan dari kecil saya sudah segelap dan seapatis itu terhadap putri-putri cantik.. Jadi saya menunggu cerita berikutnya dari Disney yang mana si pangeran lah yang harus ditolong oleh Putri untuk bersama-sama menemukan segitiga bermuda (misalnya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s