tampilan paket nasi nila bakar sudah termasuk tahu, tempe, nila bakar, es teh tawar dan sayur asam (boleh pilih sayur lodeh) dari Njonja Rasa

Pertama Kali : Njonja Rasa dan Milan Pizzeria Cafe

tampilan paket nasi nila bakar sudah termasuk tahu, tempe, nila bakar, es teh tawar dan sayur asam (boleh pilih sayur lodeh) dari Njonja Rasa
tampilan paket nasi nila bakar sudah termasuk tahu, tempe, nila bakar, es teh tawar dan sayur asam (boleh pilih sayur lodeh) dari Njonja Rasa

pizza pisang milan pizzeria.jpgKedua restoran di atas terletak di jalan Margonda. Kebetulan keduanya menawarkan konsep jadul (vintage bahasa kerennya) dalam dekorasi ruangan. Saya prihatin (terSBY) bahwa tidak ada ulasan yg cukup rinci seputar dua restoran ini sebelum saya meluncur ke dua tempat tersebut (di bulan yang berbeda tentu saja).

Ulasan yang ada paling cuma seputar foto makanan. Ealah. Baiklah mari dimulai dari Njonja Rasa

Njonja Rasa terletak tidak jauh dari Hotel Bumi Wiyata dan seperti saya sebutkan di atas .. di Jalan Margonda. Buat yang belum paham, Jalan Margonda adalah jalan penuh pertumpahan darah dalam bisnis makanan. Banyak orang yang mencoba peruntungan, banyak yang gagal, banyak yang awalnya ramai lalu sepi (Sushi Miya8i, Nakamura), banyak yang tetap ramai walaupun tidak enak (Mie Aceh Pidie 2000), banyak yang ramai karena memang enak dan murah (The Legend.. Mie Ayam Berkat, Soto Ngawi), banyak yang ramai karena enak walaupun harga termasuk mahal (Takarajima).

Saya dan partner terus terang pusing sendiri sebenarnya formula apa yang harus digunakan di Jalan Margonda ini untuk sebuah bisnis (khususnya makanan) berhasil. Dari pengamatan saya yang termasuk ramai dari dulu sampai sekarang adalah Mie Ayam Berkat, Soto Ngawi, Sop Kambing Betawi, Takarajima, Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk. Mungkin ada beberapa yang terlewat dari memori saya. Saya menghitung yang dalam bentuk bangunan permanen ya bukan yang cuma warung tenda ataupun menumpang di depan toko dan jualan waktu malam. Warung tenda Sakura, Roti Bakar Bule, warung tenda Gembira termasuk beberapa di pantauan saya yang ramai. Ada angkringan sego kucing juga sih. Ada yang awalnya ramai lalu kemudian sepi (mungkin tersaingi Roti Bakar Edi), ada yang sampai sekarang masih ramai. Ulasan di bawah ini menghabiskan biaya Rp. 100.000 setiap kali makan untuk dua orang ya. Saya tidak bisa ingat rinciannya berapa

Entah angin apa, partner saya bulan lalu mengajak ke Njonja Rasa. Saya memang dari awal enggan mencoba karena dari pantauan saya selalu sepi. Saya sendiri juga urung mencoba Coffee Toffee karena selalu ramai (njelimet to, terlalu sepi ogah, terlalu ramai malas). Mungkin ada efek trauma akibat kesamaan gaya bangunan antara Njonja Rasa dan Warung Asem Asem. Sama-sama bangunan baru dengan gaya arsitektur Belanda. Warung Asem Asem dari Menara Group jelas mengecewakan buat saya karena saya penikmat garang asem sejati. Ok sudahlah. Kembali ke Njonja Rasa. Ketika kami tiba bahkan pegawai tidak menyadari jika kami sudah masuk. Maklum itu baru awal puasa lalu ada dua orang datang waktu makan siang benar-benar… ajaib. Sambil menunggu pesanan saya pun iseng foto beberapa sudut favorit (lah memang saya sebenarnya suka dengan bangunan Belanda dan sesuatu yang sifatnya jadul). Tempat ini dipersiapkan untuk menampung banyak orang sayang sekali yang datang saat itu cuma saya dan partner. Saya menikmati alunan lagu yang diputar, saya suka dengan penataan makanan yang benar sesuai etiket, lalu saya pun jadi bingung bagaimana membuat tempat ini ramai. Apakah dengan live music keroncong di malam minggu ? Atau memang orang Depok belum siap menikmati makanan Indonesia dengan sedikit sentuhan seni ? Bubar jalan sih ya kalau kemudian membandingkan Njonja Rasa dengan Warung Nasi Uduk Daun Pisang. Njonja Rasa mengingatkan saya kepada Kembang Goela. Sayang memang jika Njonja Rasa yang mana investasinya pasti sangat besar harus tutup karena orang Depok belum siap dengan makanan Indonesia yang disajikan elegan.

This slideshow requires JavaScript.

Berikutnya adalah Milano Pizza. Sama seperti Njonja Rasa, pembangunan Milano Pizza termasuk yang saya pantau secara rutin. Saya memang penikmat bangunan yang dirancang dan dibangun secara seksama. Njonja Rasa dan Milano Pizza termasuk yang rancang bangunnya menarik buat saya (awam secara arsitektur nih ceritanya). Minggu lalu sebenarnya saya sudah pernah mencoba datang ke sini tapi ternyata sudah penuh dibooking karena menjelang waktu buka puasa di akhir pekan pula. Sasaran Milano Pizza memang untuk anak muda dengan membangun suasana romantis. Dimulai dengan memasang jaring kawat agar pasangan yang datang dapat memasang gembok, sampai kursi berbentuk ayunan. Seketika saya merasa uzur.. Pilihan makanan memang belum cukup banyak (dibanding warung pasta loh ya) dan salad lebih banyak kentang dan jagung daripada sayuran (eh matik deh gw, pesen salad kan maksudnya biar banyak makan sayur lah ini ketemu karbo lagi). Memang untuk urusan salad, ga ada yang mengalahkan salad bar Pizza Hut ya.. Pizza pisangnya enak. Pizza Tunanya juga. Suasananya enak dengan alunan musik yang pas. Embel-embel cafe sebenarnya membuat saya ingin bertanya-tanya mana kopi unggulan yang enak ? Atau mungkin menjual cocktail yang enak mungkin ? (ga sadar diri ini jalan Margonda bukan Kemang hahaha). Ah tapi saya perlu berhenti idealis bahwa cafe harus selalu berhubungan dengan minuman kopi.

This slideshow requires JavaScript.

2 thoughts on “Pertama Kali : Njonja Rasa dan Milan Pizzeria Cafe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s