Pertama Kali : Luxo Barber Shop

[KabarTerbaru2016]: Sekalipun ada Bronze, saya tetap kembali ke Luxo tuh. Ini hasil potongan Ramot Januari 2016. Oh ya sekalian beli pomade nya Rp.120.000 yang medium. Ternyata Ramot maunya yang soft saja. Oh well dipakai saja dulu yang medium ya. Saya sendiri ada rencana mengadakan percobaan dengan pomade ini untuk menata rambut hahaha. percobaan menyusul

[KabarTerbaru2015] :

Sesuai tebakan, konsep Luxo ditiru beberapa tempat. Burger & Grill membuka pangkas. Daniel mengubah tampilan luarnya menjadi desain retro ala Luxo. Dan yang terbesar adalah Bronze Barber Shop terletak di sebelah Depok Town Square.

Luxo Barber Shop ini sudah ada di pantauan radar

saya sebenarnya sejak setahun yang lalu. Saya adalah pengamat aktif pergerakan bisnis di jalan Margonda Depok. Orang datang dan pergi. Lokasi Luxo ini sendiri dulunya bekas tempat cuci motor yang akhirnya tutup. Sebenarnya usaha salon di jalan Margonda ini juga banyak. Ada yang bertahan. Ada yang tutup dan Luxo memang muncul dengan memanfaatkan ceruk yang kosong. Seperti yang saya pernah bilang, saya bingung dengan gaya berbelanja kaum menengah ngehe Depok, saya terus memantau Luxo apakah dia berhasil atau tidak. Membuka ruko di Margonda Depok itu harganya benar-benar mahal karena efek gelembung belum lagi biaya operasional yang harus ditanggung. Ya pokoknya gitu lah.

Cuma karena namanya saja Barber Shop alias pangkas rambut tentu saja saya tidak mungkin mencoba (walaupun sebenarnya saya ingin mencoba begitu saya punya kesempatan untuk kembali berambut pendek. Sekarang sih dipertahankan gondrong demi jadi Badut November). Partner saya pun beberapa kali potong rambut hanya ala tentara potong rambut di bawah pohon (sorry dude, but this is my opinion since hundred weeks ago) jadi saya pikir buat apa mengajak partner untuk mencoba ke Luxo. Nanti dia riwil lagi soal tarifnya.

Mengapa saya tertarik Luxo ? Sederhana, saya suka desain kunonya. Mengingatkan saya pada pangkas rambut almarhum Bapak di apotik Satiti Pasar Minggu yang sekarang sudah rata dengan tanah karena dijual (reality bites for senior people in Pasar Minggu. trust me..) dan mengingatkan saya pada pelem-pelem yang saya tonton (ini nih saya suka dengan printil-printil kuno hanya karena saya melihatnya di film). Sayangnya referensi film yang saya tonton sepertinya kebanyakan Quantum Leap, Friday the 13th, Gone with the Wind, dan 007. Belum lagi yang saya dengar di radio hanya dari rentang masa muda bapak ibu saya. Jadilah saya lebih tahu yang kuno daripada yang cukup populer di masanya.

Lalu partner saya ingin mencoba potongan rambut di luar kebiasaannya tapi kali ini di pangkas rambut dekat ruko. Faktor kelelahan atau memang tidak teliti, hasilnya tidak rapi. Akhirnya sore ini kami cobalah ke Luxo. Mengantri. Saya sampai punya waktu untuk berselancar di dunia maya mencari informasi soal Luxo ini  dan menemukan beberapa cerita di sini (gile ye owner Luxo.. gw baek banget nih ngasi backlink buat SEO web lu #halah #lebay), di situ dan di sana. Partner saya ? dia malah ngobrol soal bisnis sama pelanggan lain. Saya lihat di website bahwasanya Luxo bukan cuma potong rambut, tapi tato, dan tindik plus baju juga. Cuma mungkin baru ide belum eksekusi karena mungkin mencari seniman tato / tindik profesional sama seperti playboy mencari wanita baik-baik. Susah susah gampang. *teringat tukang tato sepupu gw di bilangan Depok yang juga drunken master*

Saya pun sempat mencari model rambut yang diingini partner saya. Beneran saya bingung. Kepala cuma satu, rambut secuprit aja banyak amat permintaannya. Dengan modal kata kunci ‘rambut garis samping’ ketemulah contoh gambar. Itu pun partner meminta saya bertanya dulu ke kasir merangkap pemilik untuk memastikan tukang cukurnya bisa melaksanakan dengan baik karena partner sudah mengeluarkan uang 4x lipat dari harga yang biasa ia keluarkan (yup my man is as stingy as me. Ntah bagaimana kami berdua sama-sama boros di bidang yang sama misalnya : makan).

Begitu giliran tiba, saya pun menunjukkan gambar yang cukup mirip dengan apa yang ada di benak partner sambil bilang ‘ini loh mas ada garisnya gini kaya zebra cross. bisa ga ?’ ternyata bisa. Fiyuh. Selamat saya di bumi dan akhirat. Saya perhatikan memang proses pengerjaan per kepala lebih lama daripada pangkas rambut biasa. Tidak pakai pijit menyeluruh memang cuma kan memang tujuannya memangkas rambut bukan ke tukang pijit. Itu yang justru membuat saya jadi ingin potong rambut pendek ala Demi Moore di Luxo. Namun pemegang akun twitter Luxo bilang : ga boleh. FINEEEE, I will bring Goofy to barber shop then. Goofy juga sudah gondrong dan belum ada salon kecantikan untuk anjing jantan di Depok.

Akhir kata, baru pertama kali ini saya puas dengan potongan rambut partner. Memfasilitasi kebutuhan partner untuk rambut puendek sekaligus mengakomodasi kebutuhan saya untuk melihat partner gawul dikit ga monoton rambut ala tentara siap baris berbaris 17an. Akankah kami kembali ? Iya dengan kemungkinan besar di hari kerja. wuahahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s