R V_0170

Dan Semua Terbayar Lunas

2014 sudah menjelang selesai. Tahun yang saya lalui dengan segala terang gelapnya. Saya tidak ingin terlihat sebagai manusia yang sempurna. Di tahun ini saya penuh sumpah serapah, penuh kekecewaan, penuh tawa, penuh harap, dan penuh keteguhan selalu bilang ke diri saya sendiri THIS-TOO-SHALL-PASS.

Ada hal-hal yang memang tidak bisa saya tulis secara detil apa sumber kemarahan saya karena sekarang saya tidak dihitung satu tapi ada Ramot. Saya tidak mau tulisan saya menjadi bulan-bulanan kepada Ramot hanya karena orang-orang tersebut tidak tertarik membahasnya dengan saya langsung melalui komentar di bawah. Yang jelas, ini adalah tahun di mana harga diri saya dibanting karena saya dulu selalu bilang ‘pantang-ngutang-buat-nikah’ dan suka ngetawain hasil makeup pernikahan adat batak. Makan tuh kejumawaan.  Hahahahaha.

Tahun ini adalah tahun pelengkap sekaligus penutup dari 4 tahun kehidupan saya yang unik. Sampai-sampai saya menghitung bahwa 4 tahun ini saya tidak pernah terbang untuk berlibur. Semuanya hanya untuk kewajiban. Namun sungguh saya bersyukur Tuhan meletakkan saya di tengah-tengah orang Pasar ini. Mereka tidak pernah termewek-mewek mengemis liburan. Setiap paginya mereka bangun, membereskan semua urusan mereka, tidur larut malam, membayar tagihan dan terus begitu. Saya pun terpacu melakukan hal yang sama. Bisa libur syukur, ga bisa libur ga masalah. Saya belajar untuk selalu pasang senyum ketika saya harus menyelesaikan rutinitas bebersih yang menyita waktu dan energi.

Malam minggu 20 Desember sepulang dari Natal Sekolah Minggu di Hotel Aston Bekasi, saya berpikir apa yang kurang pas sehingga saya tidak bisa mengimani bahwa semua biaya pernikahan, sewa ruko terbayar lunas tanpa hutang ? Mengapa saya tidak punya iman besar bahwa saya bisa terbang liburan setidaknya untuk ke Bali ? Mengapa tanpa ampun setengah dari kucing yang saya tolong mati karena virus ? Saya sebagai orang yang kompetitif bahkan urusan iman bingung melihat Pak Josua, mengapa apa yang ia imani terjadi, sementara saya ?? Hari Minggunya 21 Desember 2014, setelah ibadah sekolah Minggu, saya cukup kaget ketika dipanggil Pak Josua. Ah paling urusan mama saya. Mama saya memang sedang sibuk urusan Natal GCCC Pare 16 Januari 2015. Entah ada angin apa, Pak Josua bertanya soal berapa uang yang harus dilunasi untuk membayar biaya pernikahan. I was confused to be honest. Ramot yang jawab sejumlah nominal karena saya memang tidak pernah mau hitung. Lalu dengan yakin, Pak Josua berdoa bersama kami bahwa 2015 selesai terbayar. Saya pun kembali semangat. Saya memang sering melihat doa saya tidak terjawab tapi saya tidak pernah patah semangat untuk terus mengimani hal-hal baru. Sama seperti saya tidak pernah patah semangat membuat arsir wajah, berani untuk mengimani sesuatu yang besar terjadi di depan tidak perlu harus terbayang-bayangi oleh semua kegagalan di masa lalu 🙂

Halo 2015 ! Mari membuat sesuatu yang besar untuk orang-orang banyak. Listrik untuk semua bahkan mereka yang dianggap penduduk liar. Semua tagihan terbayar lunas di 2015. 4 tahun lebih cepat dari target. Urusan Kartu Keluarga dan Catatan Sipil Jakarta selesai sehingga bisa mendaftar BPJS di Januari 2015.  Mengajak anak-anak bisa 50 lagu penyembahan di Sekolah Minggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s