perbandingan kebahagiaan dan usia

Melatih Bahagia [Exercise to be Joyful]

Bagi (mantan) pecandu gundah gulana, bersukacita atau berbahagia setiap hari perlu dilatih. Oh iya buat yang bingung dengan istilah saya ‘pecandu gundah gulana’, saya akan jelaskan secara singkat :

orang yang secara rutin membuat dirinya terlihat sebagai korban dari perbuatan orang lain ataupun kondisi sehari-hari dengan berulang kali mengasihani diri sendiri dalam bentuk pernyataan tertulis di media sosial ataupun komentar verbal (Vivi, 2015)

For (former) despondent addict like me, to joy every day is something to be trained. For those who confuse with my term ‘despondent addict’ let me explain briefly what despondent addict is:

people who regularly make themselves visible as a victim of the actions of others or everyday conditions with repeated self-pity in the form of a written statement on social media or verbal comments (Vivi, 2015)

Buat saya pecandu gundah gulana ini setara dengan org yang tidak bisa berhenti menyileti tubuhnya. Dia memang tidak meninggalkan luka di lengan tangannya, tapi dia sedang membentuk pola pikir negatif yang hanya membawa orang sekitarnya ke dalam kekelaman #halah #bahasaPuisiNyalaLagi.

perbandingan kebahagiaan dan usia
perbandingan kebahagiaan dan usia

For me despondent addict is equivalent to a person who could not stop cutting. S/He does not leave scars on her/his arm, but s/he is forming a negative mindset that only brings his/her significant others into the gloomy situation

Awal minggu saya menemukan gambar ini di Twitter, rentang usia saya termasuk dalam fase nyungsep jadi wajar kalau saya sering merasa tidak berbahagia. Sebenarnya saya punya hak untuk tenggelam dalam kecanduan gundah gulana saya dengan membandingkan diri saya sendiri dengan nasib orang lain ataupun membandingkan masa hura-hura manis saya ketika lajang (baca jomblo). Toh memang usianya merana meratapi nasib to ? Namun dalam setiap perkembangan teori Psikologi, saya tidak pernah mau terperangkap dalam label. Bukannya saya penentang teori semacam ekstrovert, introvert, type A, type B personality ya, tapi saya berpikir orang perlu belajar untuk melatih dirinya sendiri dan tidak perlu terkurung dalam label kepribadian atau label rentang usia

Earlier in the week I found this picture on Twitter, my age range included in phase of going down so it is natural that I often feel unhappy. Actually I have the right to sink into my despondent addiction by comparing myself to the fate of others, or to compare my hedonistic past when I was single. After all, it is the age lament the fate to languish? But in every developmental psychology theory, I do not ever want to caught up in any label. Not that I am against the theory sort of extrovert, introvert, type A, type B personality , but I think people need to learn to train themselves and do not need to be confined within the personality or developmental theory

Kalau ada orang yang tergila-gila berlatih agar perutnya rata, mengapa orang tidak berlatih untuk berbahagia ? Sebagai pecandu gundah gulana, hal ini tidak mudah. Saya berlatih tidak lagi memaksakan diri menata lapak sesuai standar saya (yang mana jika dituruti, saya butuh pegawai ISS bekerja supaya standar kebersihan dan penataan terpenuhi). Saya berlatih untuk menikmati hari per hari. Saya belajar untuk tenang ketika gaji saya lenyap di minggu pertama bulan. Konsekuensinya memang saya menghindari untuk melihat status atau postingan teman karena hanya memancing kecanduan gundah gulana saya menyala. Saya menghapus Path saya. Ketika saya mulai ingin melangut, saya sering duduk di teras sekedar menikmati kopi dan memandangi langit (ini memang hobi dari kecil sih.. you know just like Jodie Foster’s movie.. Contact), dan yang baru-baru ini saya lakukan adalah bernyanyi. Karena dibesarkan dalam keluarga yang sangat khusyuk, saya pun hanya cepat hapal stok lagu pujian dan penyembahan. Ketika menyapu pun saya gunakan untuk berdoa. Bukan yang mendayu dayu, tapi mengucapkan iman. Untuk kebiasaan baru ini, saya perlu berterima kasih kepada Pak Glenn, Tante Ratna, dan Pak Josua yang tanpa banyak berkata-kata telah menjadi teladan. Selain itu setiap kali saya ingin mengeluh, saya keluar dari lapak, berinteraksi dengan orang pasar dan menemukan kekuatan baru dari mereka yang nyaris tidak memiliki hari libur

If there are people who are crazy train that flat stomach, why not train to be happy? As a despondent addict, it is not easy. I practice not to force myself to organize every single thing in my house with my standards (which if followed, I need ISS employees to work for me to meet my standard of cleanliness standards). I practice to enjoy the day. I learned to calm down when I lost salary in the first week. I avoid to see the status or post friend because only fishing my despondent addiction to be on fire. I removed my Path. When I begin to feel sappy, I often sat on the porch just enjoy coffee and staring at the sky (this is a hobby since I was young anyway .. you know just like Jodie Foster’s movie .. Contact), and recently what I did is singing. Raised in a solemn family, I just quickly memorized several gospel hymns and worship. Even when I am sweeping, I also sing. Not the mellow one, but utter faith. For this new habit, I have to thank Ps. Glenn, Tante Ratna, and Ps. Josua that without a lot of preaching, they have been exemplary. In addition, every time I want to complain, I came out of the stall, interact with the market and find new strength from those who barely have a day off

I will be 31 y.o next month. When I was 13, I thought I would had a great career, small family and a nice house to be proud of. However, God has different plan for me. At this age, I work remotely as a media monitoring person, a private tutor, servant for my 13 cats, boss for my dog, (annoying) partner for my husband while running tiny mini pick up truck rental. I look at myself as a mediocre person but many people wonder how can I become so multi talented person by juggling in different role every day. No one knows I still have dream to take master degree in Counseling, travelling around the world by train and join senior ballroom dancing competition 🙂

2 thoughts on “Melatih Bahagia [Exercise to be Joyful]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s