Senang dapat bonus poster :P

Ulasan Anak Bukan Kertas Kosong – Bukik

Buku pertama hasil karya Bukik ‘Anak Bukan Kertas Kosong’ semacam penyegaran buat saya. Ide-ide soal pendidikan kini terangkum dalam satu buku. Tentu ide pendidikan yang saya setujui, yang mana ide tersebut terlalu sulit dipahami untuk orang Indonesia yang sekalipun menganut Bhineka Tunggal Ika toh sebenarnya ketika urusan pendidikan lebih mengharapkan keseragaman. Mengapa menyeragamkan pendidikan diminati di Indonesia ? Tentu saja untuk memudahkan semua pihak (guru, orang tua, pemerintah). Jangan menyalahkan orang tua dan guru di Indonesia. Mereka hasil didikan penyeragaman. Itu yang mereka alami selama bertahun-tahun dan itu sudah mereka anggap yang terbaik. Mereka tidak sempat terpikir apakah sebenarnya ada pendidikan yang lebih baik daripada cuma mengulang hal yang sama yang dilakukan guru-guru di era Hindia Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru.

The first book from Bukik ‘A Child is not an Empty Paper’ sort of a refreshment for me. Ideas about education are now summarized in one book. Of course the idea of education I agree with, in which this idea was too elusive for Indonesian people who eventhough embrace national unity but when it is about education matters, most of us expect uniformity. Why uniformity is something expected in Indonesian education? Of course, to ease all parties (teachers, parents, government). Do not blame parents and teachers in Indonesia. They nurtured in uniformity. they experienced it for years and maybe for them this is the best education. They do not even revoke whether there is a better education than just repeating the same thing that has been applied during Dutch East Indies era, the Old Order, New Order.

This slideshow requires JavaScript.

Orang Indonesia tahu siapa itu Ki Hadjar Dewantara dengan ide sekolahnya Taman Siswa. Namun apakah orang Indonesia tahu buah pikiran Ki Hadjar Dewantara ? Tentu tidak. Saya saja sebagai guru tidak tahu koq selain Tut Wuri Handayani dan 2 jargon lainnya. Melalui buku Anak Bukan Kertas Kosong, saya jadi bisa menikmati ide Ki Hadjar Dewantara. Penetapan Pemerintah Indonesia menjadikan Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional sudah paling benar. Ide-idenya benar-benar sangat indah jika diterapkan di masa sekarang. Di masa yang mana segala sesuatunya berubah dengan cepat dan 10 tahun yang akan datang akan ada banyak puluhan profesi baru sementara anak Indonesia cuma tahu sebatas dokter dan insinyur. Salah anak-anak Indonesia kah ? Tentu tidak. Kan mereka sebatas masuk ke pabrik (yang bernama sekolah) untuk dibentuk menjadi seragam dan diukur oleh pemerintah (melalui Ujian Nasional).

Indonesian people know who was Ki Hajar Dewantara with the idea of school Taman Siswa (Garden of Pupil). But do Indonesian people know the thoughts of Ki Hajar Dewantara? Certainly not. I even only know Tut Wuri Handayani and 2 other jargon. Through ‘A Child is not an Empty Paper’, I can enjoy the idea of Ki Hajar Dewantara. The decision of Indonesian Government to make Ki Hajar Dewantara as National Hero was the best decision. Moreover, his ideas will be awesome if those can be applied in Indonesia nowadays. At a time where everything is changing rapidly, and 10 years from now there will be dozens of new professions, Indonesian children only know doctors and engineers as a dream job. Do we blame these kids? Certainly not. They are limited to enter the factory (which we call it school) to be formed into typical template and measured by the government (through the National Exam).

Salah satu kutipan dari buku Anak Bukan Kertas Kosong yang ingin saya bagikan di sini :

Kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu disuruh mengakui buah pikiran orang lain, tetapi biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri  – Ki Hadjar Dewantara

1 of the quote from ‘A Child is not an Empty Paper’ I want to share :

Independence should be imposed on how children think, that is not always asked to acknowledge the ideas of others, but let children find all knowledge using their own thoughts – Ki Hajar Dewantara

Masih banyak lagi kutipan dari Ki Hadjar Dewantara ada di dalam buku ini yang dapat digunakan sebagai penyegaran bagi kaum terdidik. Saya, terinspirasi Anies Baswedan, percaya mendidik adalah tugas kaum terdidik. Kaum terdidik tak melulu guru. Orang tua justru sebenarnya berperan besar dalam mendidik anak. Tentu anak menjadi terlunta-lunta ketika orang tua yang diharapkan adalah kaum terdidik ternyata tidak bisa menjalani perannya sebagai pendidik. terkesan mbulet ? Di sinilah nikmatnya tulisan Bukik. Dengan ringan, Bukik dapat menjabarkan peran orang tua tanpa bermaksud menggurui dan membuat segala sesuatu menjadi rumit.

There are many other quotations of Ki Hajar Dewantara in this book that can be used as a refreshment for the educated one. I, inspired by Anies Baswedan, believe educating is the duty of the educated one. The educated people are not merely teachers. Parents actually play a major role in educating children. Of course children will be stranded when their parents are expected to be the educated one but unable to take a role as an educator. Quite complicated? This is where the joy of reading Bukik’s book. With smooth writing, Bukik can describe the role of parents without intending to patronize and make everything complicated.

Sebenarnya judul buku ini cukup menantang opini masyarakat pada umumnya. Banyak orang melihat anak-anak sebagai kertas kosong. Orang dewasa berperan untuk mengisinya dengan berbagai hal dengan harapan anak-anak tersebut akan menjadi seperti harapan orang-orang dewasa tersebut. Orang seringkali lupa, anak-anak telah membawa talentanya sendiri. Mungkin talenta tersebut menurun dari orang tuanya : seorang penyanyi memiliki anak pemain musik misalnya. Tapi juga bukan hal yang mustahil, seorang anak petani menjadi programmer untuk aplikasi Android.

Actually the title of this book is quite challenge public mindset in general. Many people see children as blank paper. Adult role is to fill it with a variety of things with a great hope that the children will grow as expected. People often forget that children have brought their own talents. Perhaps their talents are inherited from their parents: a child of singer become a music player for example. But also not impossible, a farmer child became a programmer for Android.

Bukik di dalam bukunya bukan cuma berteori namun juga memaparkan secara gamblang langkah per langkah apa saja yang dapat dilakukan orang tua untuk mendorong anak-anak melihat talenta mereka. Dengan sistem pendidikan Indonesia yang masih memuja Matematika sebagai tolak ukur apakah anak cerdas atau tidak, maka orang tua perlu kreatif untuk menjadi fasilitator dalam pencarian potensi anak. Langkah – langkah yang dibagikan Bukik sangat mungkin dilakukan di mana saja.Tinggal ada kemauan dari orang tua atau tidak.

Bukik in his book not only gives theories, but also clearly explained a step by step way for parents to encourage children to see their talents. With Indonesian education system that still worships Mathematics as a benchmark of intelligence, parents need to be creative to be a facilitator in the search for children’s potential. All these steps explained by Bukik is feasible depends on parents willingness to make something different.

Oh ya bagian dari buku Bukik ini justru yang saya suka adalah tentang berbagai sekolah dengan metode yang menarik seperti Sugata Mitra, Sergio Correa (duh nih orang Meksiko perlu tahu raspberry pi.. dan sayang sekali partner saya urung mengulas di blognya manfaat penggunaan raspberry pi ini untuk membantu pendidikan di daerah pelosok entah di Kalimantan ataupun Meksiko saya jadi mengalami kesulitan untuk memaparkan soal buah beri yg satu ini) dan tentu cerita Bukik sendiri ketika masih di Unair. Saya juga menyukai bagian yang mana Bukik menjabarkan bahwa belajar seharusnya seasyik bermain entah itu minecraft ataupun congklak. Buat yang penasaran memang lebih enak membeli buku ini dan membacanya sendiri. Banyak hal yang disampaikan Bukik secara menarik dan bisa membuat kita tertawa sendiri.

Through this book, you can also see other innovative teaching method that has been done by Sugata Mitra, Sergio Correa, and Bukik himself when he taught in University of Airlangga. I love the part when Bukik explains that learning supposed to be fun like playing a Minecraft or even Congklak. For those who curious enough with this book, I suggest you to buy and read it by yourself. I guarantee you will end up smile or even laugh as teaching a child will teach you about life too. 

One thought on “Ulasan Anak Bukan Kertas Kosong – Bukik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s