situ gunung (9)

Liburan 2015 : Sadar Diri Sama yang Kasi Pinjaman

Saya dan partner memutuskan untuk bersikap realistis terhadap bulan madu. Kami memutuskan untuk pengganti bulan madu tersebut dengan liburan-liburan singkat. Saya pribadi memasuki pernikahan dengan rasa terpukul karena seperti menelan ludah sendiri. Saya seperti anak perempuan lainnya telah memiliki hari pernikahan impian bahkan ketika saya kelas 2 SD. Dari yang membayangkan resepsi di gedung Departemen Pertanian (karena semua tetangga saya menikah di situ) lalu semakin dewasa berubah menjadi resepsi pernikahan kecil dengan detail yang indah. Pasangan yang justru berhasil mewujudkannya adalah Kiat dan Ditta yang menikah 1 minggu sebelum saya.

Saya yang hanya menginginkan sesuatu yang kecil tapi mewah diperhadapkan dengan suatu acara ADAT (yg buat saya itu sunah bukan wajib) dengan biaya besar, dihadiri oleh orang-orang yg 99% tidak saya kenal (begitupun sebaliknya), hasil tata rias terburuk yang pernah saya lihat, hasil foto yang jelek, dan berakhir dengan hutang.  Bayangkan keluar biaya untuk sesuatu yang bukan saya ingin jalani, hasil buruk, lalu dapat salam dari cicilan. Yah untunglah acara wajibnya yang di Pare tidak ada hutang. Kecil, meriah, nol utang 🙂

Pinjaman kami dapat 4 orang terbaik yang pernah saya kenal. 3 orang sangat mengenal Ramot dengan baik. 1 orang baru saya kenal setahun belakangan tapi kami seperti sudah seperti saudara lama. 1 hutang berupa cicilan kartu kredit. Tahu kan kartu kredit cuma baik jika tagihan dibayar lunas dan berubah menjadi menjemukan ketika diubah menjadi cicilan (loh koq penghitungan bunga jadi begini ? koq jadi ada biaya itu?). Saat ini bulan Maret 2015. 4 bulan saya sudah kewalahan. Cicilan dipastikan terus dilaksanakan tapi saya bingung mengingat berbagai tanggal jatuh tempo dengan setoran ke bank berbeda.

Saya ingat, pendeta kami, Pak Josua Tumakaka, di awal Desember 2014 memanggil kami dan mendoakan kami agar cicilan kami selesai dalam 1 tahun. Saya menangis ketika itu karena memang itu yang saya butuhkan. Jika dulu ketika saya punya hutang bisa diselesaikan dengan menjual rumah di Damarsari, saat ini saya tidak punya aset untuk dijual tapi di sisi lain saya hanya ingin badai hutang ini berlalu atau setidaknya saya cukup berhutang kepada satu pihak sehingga tidak perlu memikirkan berbagai lubang yang saya buat.

Nah karena soal ini lah kami tidak memiliki bulan madu dan menggantinya dengan liburan yang sanggup kami bayar tanpa mengganggu kas. Ini persis seperti yang pernah saya ucapkan ketika dulu kami pergi berlibur ke Pulau Tidung. Ramot masih dengan pacarnya. Saya sendiri ketika itu lajang foya foya. Haha.

Soal liburan hemat ini dari dalam hati saya sama sekali tidak merasa terpukul. Saya bersyukur masih memiliki waktu beberapa jam untuk keluar dari rutinitas melihat pemandangan bersama Ramot.

Bagian 1 : Situ Gunung – Januari 2015

Hari itu mendung diselingi hujan. Kami tetap memutuskan tetap berangkat. Rencana untuk menginap di Vila Cemara – Situ Gunung dibatalkan. Bukan cuma karena biaya yang terbatas tapi juga karena kami perlu mengurus beberapa binatang peliharaan yang sedang sakit. Perjalanan melalui jalur Sukabumi bukanlah pilihan yang tepat. Jalur ini melintasi banyak pasar, jalanan berlubang, dan puluhan truk besar milik perusahaan air mineral. Tiba di tempat saya dengan sembrono memilih jalur trekking. Becek, kehujanan, kena lintah. Semua jadi satu. Benar-benar menggambarkan kehidupan kami saat ini #halah. Akhirnya kami dapat menemukan situ gunung, naik perahu untuk memutari danau lalu pulang. Kurang lebih kami berada di situ selama 2 jam. Memang situ gunung lebih baik difoto ketika matahari terbit sehingga permainan warnanya lebih indah. Namun diperlukan waktu lebih untuk mewujudkan hal tersebut. Kami kali ini memutuskan ke Depok melalui jalur puncak. Tidak melalui Sukabumi. Saya terpukau sekali karena saya akhirnya bisa melintas di daerah Cianjur. Selama ini saya penasaran kemanakah jalur puncak akan berakhir ternyata di Cianjur. Sepanjang perjalanan jauh lebih lancar, jalan lebih bagus dan saya jadi tahu situs Gunung Padang. Hore!!! Penting banget ya. Hehehe. Walau cuma lihat jalan masuknya saja tapi cukuplah jadi lain waktu kalau mau ke sini ga kesasar.

Kami (baca saya) memutuskan untuk membeli oleh-oleh di Cimory. Dari yang hanya beli coklat berakhir duduk makan malam di restorannya. Menarik, nyaman, coklatnya enak. Yang terpenting kami selalu menikmati momen ketika kami mengamati sebuah bisnis keluarga yang berhasil. Tiba di Depok jam 11 malam. Meleset dua jam dari target tapi cukup mengembalikan semangat kami.

This slideshow requires JavaScript.

Bagian 2 : Gunung Padang – Maret 2015

Ketika kami mengambil jalan pulang yang berbeda dari jalan kami berangkat, kami sempat melihat plang yang menunjukkan ke arah situs megalitikum Gunung Padang. Kami pun memutuskan untuk ke Gunung Padang saja menggunakan kereta api. Kebetulan sedang diskon sehingga kami hanya membayar Rp. 20.000 per orang. Bolak balik jadi Rp. 40.000 per orang. Makanan kami bawa sendiri karena di daerah yang kami lalui belum ada tempat makanan yang memadai. Kami membawa sarapan sereal (Rp. 10.000), belimbing dan rambutan hasil panen orang di Depok (Rp. 20.000), dan 2 nasi goreng depan lapak (Rp. 20.000). Naik kereta jalur ini sudah lama saya rindukan. Saya memang sangat suka naik kereta api sampai ingin menjajal semua jalur kereta api di dunia hehe. Perjalanan tentu dimulai dari stasiun Pondok Cina sampai tiba di Stasiun Bogor. Menyebrang jembatan lalu berjalan ke Stasiun Bogor Paledang yang sudah ramai orang menukar tiket. Rombongan bapak ibu usia lima puluhan ternyata satu gerbong dengan kami. Mereka turun di Sukabumi, sementara kami masih melanjutkan perjalanan. Sama seperti kami, mereka memutuskan untuk liburan sejenak sehingga kami kembali satu gerbong ketika pulang.

Sebagai penikmat stasiun tua tentu sepanjang jalan saya sibuk memotret dengan model kamera hp.

This slideshow requires JavaScript.

Turun di stasiun Lampegan ternyata cuma kami berdua yang melanjutkan ke Gunung Padang. Menurut tukang ojek, wisatawan memang baru ramai datang di hari Sabtu dan Minggu. sempat foto sebentar, ke toilet stasiun lalu baru naik ojek (Rp. 70.000 per orang pp). Tadinya juga ingin ke sebuah air terjun yang sudah tercemar karena pertambangan emas tapi kami ragu apakah waktunya cukup atau tidak. Tiba di Gunung Padang dan membayar tiket masuk 4000 rupiah. Dua jalan yang tersedia dan kami memilih yang landai (itu pun saya sudah tersengal-sengal). Tiba di atas dan petugas sedang memotongi rumput. Pemandangannya memang menarik. Dari kejauhan bisa melihat rumah-rumah penduduk. Area situs sendiri sebenarnya tidak terlalu luas dan mungkin karena masih dalam penelitian, belum ada papan informasi yang bisa dibaca mengenai situs ini. Batu-batu tersusun rapi dan padat di ketinggian area seperti itu, yang buat memang sangat niat.

This slideshow requires JavaScript.

Begitu sampai di atas malas turun ke bawah hahaha soalnya masih ngos-ngosan plus angin yang cepoy cepoy. Cuma karena tidak ada lagi yang dapat kami lakukan selain foto-foto kami pun meluncur kembali ke stasiun dengan mampir ke kebun teh untuk sekedar foto. Ternyata daerah ini masih termasuk perkebunan teh untuk Teh Sosro. Ketika kembali di Lampegan kami sebenarnya masih memiliki waktu 1,5 jam sebelum kereta datang. Para petugas stasiun pun belum ada yang tiba. Loket ditutup tapi penumpang tetap bisa masuk. Saya jadi membayangkan beginilah kira-kira kegiatan stasiun Pare dulu kala sebelum Soeharto mematisurikan kereta dan fokus dengan jalan tol : dinamis dengan hilir mudik kereta tapi masih meluangkan waktu untuk pegawainya untuk makan siang di rumah masing-masing.

Kami sempat makan buah dan memutuskan berkeliling kampung di Lampegan. Detik bergulir dengan lambat sekali di sini. Suara pun lebih banyak hening. Cocok lah dengan saya. Sebagian besar penduduk bekerja di pengolahan teh. Ketika kami berjalan-jalan, pemetik teh baru saja selesai dari mengumpulkan teh, para bapak baru selesai bekerja di mesin pengolahan daun teh. Selebihnya kembali ke keheningan..

– bersambung … karena target kami 5 liburan di 2015 ini –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s