hasil kameranya bagus yak

Perenungan Bahagia & Sukses di Pinggir Danau UI

Di tengah kepadatan jadwal saya sebagai mahluk PALUGADA (apa lu minta gw ada), Tuhan dan alam semesta mendukung saya bersepeda bersama sahabat saya sejak SMA. Saya selalu ingin bersepeda secara rutin di UI sejak saya memutuskan berhenti dari pekerjaan tetap saya.. 3 tahun yang lalu. Namun jadwal saya tidak semudah itu dikutak-katik sekalipun radius pergerakan saya cuma 1 km (beda tipis sama radius kucing kabur kan ?)

Kami berdua sama-sama tidak memiliki sepeda. Kebetulan ada dua pegawai kebanggaan UI yang bersedia meminjamkan sepeda mereka selama mereka bekerja tak jemu-jemu. Terima kasih om Rudi Airlangga dan Junior Pastor Jan Pieter Sinaga xixi. Sepeda dikayuh dan kami mengambil rute yang tidak terlalu jauh.

Kesempatan bisa jalan-jalan dengan teman saya di pagi hari adalah kesempatan langka sekaligus kemewahan. Sohib saya biasanya sibuk bekerja. Saya sibuk membersihkan kotak pasir kucing.. Untuk bisa bersepeda seperti ini saya harus memastikan pasukan saya sudah ada makanan. Untungnya sudah ada staf khusus untuk membersihkan kotak pasir sehingga kesibukan pagi antara membersihkan lapak, membantu jual bensin dan mengurus bocah-bocah tidak sepadat sebelumnya.

Kami pun berhenti di danau UI untuk sekedar beristirahat sampai kemudian seorang bapak pensiunan datang menghampiri kami. Dia menanyakan apakah kami ingin bahagia atau senang. Percakapan ini sebenarnya lebih banyak didominasi oleh bapak tersebut. Tipikal bapak pensiunan yang butuh teman bicara seperti almarhum bapak saya dulu.

Dia menjelaskan bahwa bahagia itu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang sedangkan senang adalah sesuatu yang bisa dibeli dengan uang.

Kebanggaannya karena sang anak S3 di Belanda buat dia adalah kebahagiaan. Saya dalam hati berpikir apa yang menjadi kebahagiaan saya ? Sebagai mahluk yang suka berkubang dalam keterpurukan berlarut-larut, bahagia adalah sebuah latihan kebiasaan dan saya lebih sering jatuh bangun untuk urusan berbahagia. Apakah saya bahagia? Tidak tahu.

Yang saya tahu pasti saya berusaha untuk tetap dalam damai sekalipun sesekali saya menertawakan diri saya dengan getir karena menjilat ludah sendiri.

Yang saya tahu pasti saya selalu bangun di pagi hari memastikan detik per detik yang Tuhan berikan buat saya untuk melakukan sesuatu yang bermakna. Itu sebabnya saya dengan sukacita berjalan kaki sendirian mempromosikan nasi goreng Warung Sahabat ke ruko keramik di Margonda sekalipun dipandang sebelah mata oleh salah satu Koko pemilik toko, saya pun tetap bersamangat bersepeda dengan sepeda pinjaman tetangga untuk pergi ke pasar karena motor dijual ibu. Tentu ada efek samping dari kebiasaan saya yang tidak suka bengong ini : saya frustasi berurusan dengan orang yang hanya bergerak karena mood atau menunggu disuruh.

Selanjutnya bapak ini bertanya apakah saya dan sahabat jika punya anak satu waktu nanti ingin anak saya sukses dan seperti apa kesuksesan yang ingin saya tanamkan. Saya terus terang bilang saya tidak mengharapkan anak saya lebih baik daripada saya dalam segala aspek karena saya tahu setiap individu lahir dengan kelebihan dan kekurangan. Nikmati saja semua kekurangan dan kelebihan tanpa harus terpatri dalam hati untuk menjadi lebih baik daripada saya, si orang tua. Tentu saja saya tidak menyampaikan hal tersebut karena buat saya ini seperti dialog saya dengan almarhum bapak saya dulu : mangguk-mangguk-ABS

Bapak tersebut mendefinisikan kesuksesan sebagai : melakukan yang kamu suka dan menyukai apa yang kamu lakukan lalu mendapat apresiasi dari apa yang telah kamu lakukan.

Jika memang mengandalkan definisi tersebut saya bisa dinilai cukup sukses untuk segelintir orang. Saya sukses jadi tukang promosi (entah apa saja produknya selama produk tersebut saya minati xixi) dan apresiasi tersebut datang dari penjual pasar, tidak dalam bentuk piagam penghargaan di kalangan netizen. Saya masih berlatih untuk tidak membandingkan orang lain yang bisa berlibur menyeberang pulau Jawa, saya berlatih untuk tidak membandingkan gaji dari pegawai instansi lain. Untuk memudahkan saya menjalani hidup, saya berhenti berkhayal soal rumah impian, saya berhenti berkhayal soal mengambil S2 apalagi memperoleh beasiswa, saya memutuskan untuk liburan panjang dari menggapai cita-cita.

This slideshow requires JavaScript.

2 thoughts on “Perenungan Bahagia & Sukses di Pinggir Danau UI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s