#LoveWins : Karena Syarat Nikah Harusnya Ga Pake Ribet

Kemarin dunia maya menjadi lebih hidup dengan warna warni pelangi. Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis di 50 negara bagian. Buat saya itu sebuah langkah hebat setara dengan Amerika menghapuskan diskriminasi orang kulit hitam beberapa puluh tahun yang lalu. Saya pun menikmati warna pelangi itu ketika membuka wordpress dan menulis soal ini.

LoveWins
LoveWins

Saya mengerti hal ini tidak akan sampai di Indonesia. Buat orang Indonesia hubungan sesama jenis adalah dosa tak lupa diembel-embeli bahwa Indonesia adalah negara muslim terbesar di Indonesia dan menjunjung tinggi budaya timur (iyak orang Indonesia mendadak lupa peran transgender di budaya Bugis dan di Ponorogo.. yo wis lah suka suka bangsa ini). Sulit untuk orang Indonesia memisahkan antara agama dengan hak asasi.

Di Indonesia jangankan nikah dengan sesama jenis, nikah beda agama saja susah. Satu-satunya yang dimudahkan di negara ini untuk urusan kawin adalah Kredit Bank untuk bikin resepsi 1 hari meriah demi membahagiakan mamak,bapak, dan melestarikan adat budaya. Utang KONSUMTIF di negeri ini mudah kawan. Ealah, nerusin adat budaya koq sampai bayar utang termehek-mehek bertahun-tahun padahal acaranya cuma sehari. Lalu orang-orang yang dengan optimisnya utang buat acara adat ini merasa berhak mencibir pernikahan sesama jenis ataupun pernikahan beda agama. Mereka menganggap itu sebuah kesalahan. Mereka menganggap itu dosa.

Baru-baru ini Mahkamah Konstitusi tidak mengubah batas usia pernikahan untuk wanita. Masih saja 16 tahun dengan alasan itu kan hak manusia. **ler! Jika anda sering berurusan dengan remaja baik itu pra remaja sampai remaja akhir maka anda tahu synaps di kepala mereka memang belum seutuhnya saling nyetrum, jadi jangan salahkan mereka yang bergonta ganti kemauan. Lalu di usia seperti itu diminta berkomitmen ? Milih jurusan kuliah aja  masih banyak yg ‘disuruh mamah‘. Helooooo ini udah masuk abad 21 dan remaja Indonesia masih banyak yang seperti itu. Pantesan Indonesia tak kunjung terbang ke bulan.

Syarat pernikahan memang seharusnya dibuat mudah : KOMITMEN. Yang mana ada syarat basal age yang harus dipenuhi (tentu saja usia remaja bukan usia diajak berkomitmen). Mau dengan sesama jenis atau sama agama, mau beda agama atau beda warga negara, komitmen seharusnya menjadi syarat. Seorang teman saya yang berpacaran beda agama belum juga kunjung menikah karena orang tuanya tidak setuju, ‘kalau beda agama siapa yg jadi imam‘. Lah padahal teman saya ini dalam kesehariannya ga segitu perlunya imam untuk menjalankan kehidupan beragama. Dia bisa sidi, katekisasi, ikut persekutuan doa sendiri. Kalau ternyata dia merasa sanggup berkomitmen dengan orang yang ga segitunya solat 5 waktu ngapain juga kita yang di luar arena rewot (repot dan sewot) kan ? Ada amin saudara-saudara?

Begitupun mengenai sesama jenis, saya tidak melihat ada yang salah dengan mereka. Tidak ada yang bisa memilih terlahir dengan golongan darah A atau B. Begitu juga mereka. You might want to bring up Sodom and Gomora history to give opinion regarding this case but can’t we just stop adding our belief in making moral standard for others ?

Tagar #LoveWins memang lebih cocok diganti jadi #EqualityWins or #CommitmentWins tapi mungkin kepanjangan untuk merayakan sebuah kemerdekaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s