Ajann4vniJonJsWIGy81xJJkSwczZt8Ij4CGvB_dfJXV

Dan Anda Bangga Meneruskan Ketakutan Anda ke Anak Anda?

Kurang lebih itu kalimat yang nyaris keluar dari mulut saya ketika saya menjaga lapak bensin di depan saya berteduh. Lapak bensin ini bukan milik saya tapi toh rutin saya keluar dan masukkan demi kemaslahatan rakyat Kedondong dan sekitarnya.

Pertamini di Kedondong
Pertamini di Kedondong

KusKus, kucing jalanan yang kami steril menyebrang mendekati saya lalu sempat mendekati seorang anak pembeli. Anak itu takut dan menendang KusKus.

Saya berkata dengan tenang “Kuskus kan ga nyerang kamu?”

anak tersebut memasang wajah takut kepada saya.

Ibunya menyahut dengan suara tinggi “Oh anak saya takut banget sama kucing sama kaya saya”.

Saya bisa melihat bahwa ibu ini tidak memiliki merasa bersalah meneruskan ketakutannya terhadap kucing kepada anak-anaknya.

Harusnya saya menyahut ibu itu dengan bilang “Wah beda ya sama Nabi Muhammad ga takut sama kucing”, saya malah menghentikan menuang bensin, memasukkan Kuskus ke lapak baru melanjutkan menuang bensin kepada ibu itu. Pembeli adalah raja tapi KusKus adalah anak berkaki empat saya. Apa lo? Apa Lo? Apa Lo?

Indahnya hidup di #PinggirPasar mereka tidak terlalu memperhitungkan tindakan saya tersebut sebagai kepuasan pelanggan dan menuliskannya di media sosial seperti beli I phone dapat Nuvo. Ibu itu meluncur saja padahal saya tidak mengucapkan terima kasih, sebuah lip service yang selalu saya lakukan setelah transaksi bensin selesai sekalipun ini transaksinya cuma receh di pinggir pasar pulak.

Namun satu hal yang sering terlewat dari orang dewasa terdidik adalah MENERUSKAN KETAKUTAN.

Orang tua yang anti Yahudi meneruskan ketidaksukaannya kepada anak

Orang tua yang tidak suka makan ini itu meneruskan kebiasaan itu kepada anak

Orang tua yang mudah melabel kelompok A,B,C sesat berdiri menjadi teladan untuk anak

Apakah memang begitu satu-satunya cara mendidik anak menghadapi dunia? Takut ini takut itu? Ga suka ini ga suka itu? Anti ini anti itu? Tanpa menelaah lebih lanjut? Tanpa berpikir kritis terlebih dahulu? Tanpa mencoba dulu dan belajar menyukai sebelum memutuskan benar-benar tidak suka?

Ini adalah beberapa anak yang saya didik untuk tidak takut. Tidak takut terhadap anjing. Tidak takut terhadap kucing. Tidak takut berbuat kesalahan. Tidak takut mencoba 😀

One thought on “Dan Anda Bangga Meneruskan Ketakutan Anda ke Anak Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s