Nostalgia Kompas

Ketika saya masih dalam tahap belajar membaca seperti murid saya ini, sumber bacaan saya adalah Majalah Bobo dan buku cerita Tini. Namun saya selalu ingat pelajaran membaca saya dengan almarhum Bapak : membaca judul koran Kompas. Saya masih ingat membaca KOM-PAS : A-ma-nat Ha-Ti Nu-Ra-Ni Rak-Yat. Saya pusing sekali selesai membaca kalimat tersebut. Apa sih maksudnya amanat hati nurani rakyat? Beberapa tahun kemudian saya tidak mempedulikan dengan moto Kompas tersebut. Yang saya ingat setiap kali menerima Kompas saya selalu membaca ‘Sosok’ dan “Tokoh dan Peristiwa”, baru kemudian saya membaca beragam berita yang saya suka, entah itu tentang tata surya (saya niat banget menggunting foto planet dari NASA yang tayang di Kompas), puisi (saya ingat betul Apartemen Pakubuwono Residence di awal kemunculannya menayangkan puisi di pojok kiri bawah halaman depan Kompas), atau informasi sederhana lainnya.

Saya ingat suatu masa di tahun 90an ibu saya bosan dengan Kompas yang menyampaikan berita kurang berani. Bapak saya ketika itu menjelaskan bahwa itu karena Kompas mencoba netral. Bapak pernah bilang, ‘Katolik dan Cina mana bisa makan kalau berkoar-koar’. Kami sempat pindah ke Media Indonesia tapi hanya buat alm Bapak uring-uringan. Entah mengapa Bapak tidak suka dengan Surya Paloh. Dia begitu percaya Surya Paloh itu GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Entah dari mana Bapak mendapat pemikiran seperti itu. Saya sendiri kurang suka Media Indonesia, tidak ada berita luar angkasa, puisi, cerpen, ulasan sastra dan tokoh (bahkan dari sejak kecil saya ini beraroma humaniora yak..). Sebenarnya setiap kali ditanya buku favorit sebenarnya saya ingin menjawab Kompas. Cuma kurang asyik aja, anak kecil koq bacaan favoritnya Kompas

This slideshow requires JavaScript.

Saya juga ingat ketika kami perlu berhenti berlangganan karena menekan pengeluaran dan hanya membeli Kompas hari Sabtu dan Minggu. Setelah Bapak meninggal, rumah dijual, saya pun berhenti sama sekali membaca Kompas. Namun kerinduan saya dengan tulisan yang terangkai rapi dan liputan yang menarik membuat saya mendaftar kembali melalui e-paper Kompas. Saat itu saya kost di rumah saya sendiri jadi tidak memungkinkan memiliki koran fisik karena tidak ada tempat. Di sore yang sepi saya menelusi halaman per halaman sama ketika saya kecil menjelang tidur siang.

Ternyata e-paper tidak selamanya gratis. Saya sejujurnya miris karena ketika itu (sampai sekarang sih) belum bisa memiliki budget untuk berlangganan e-paper Kompas. Lalu di tahun ini saya menyimak dari twitter @arbainrambey dan @beginu kalau Kompas merayakan 50 tahun. Ternyata sudah sekian lama Kompas berdiri. Kompas pun menggratiskan e-papernya. Saya bahagia. Saya bahkan dengan niat mencari Kompas edisi 50 tahun di Minggu sore setelah dari gereja. Bagaimana Kompas bisa bertahan padahal sudah beberapa kali dibekukan ? ngono yo ngono ning ojo ngono 😉 (hanya bisa dipahami oleh orang yang membaca Kompas edisi 50 tahun 🙂 )

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s