Kilas Balik 2015 : Soal Kucing

Peduli dengan kucing (dan anjing) sebenarnya lebih banyak sisi perih daripada gurih. Tahun ini diisi dengan matinya beberapa kucing yang memiliki kesan khusus dalam hidup. Saya berhenti memiliki kucing kesayangan karena resiko sedih ditinggal mati yang menganga lebar.

Jangan mengharapkan saya akan menangis berurai air mata ketika kucing mati. Saya terlatih menata emosi saya setipis mungkin. Sedih tidak terlalu ringkih, bahagia tidak terlalu gembira. Kematian menjadi hal biasa buat saya. Harus tetap kuat dan tetap menjaga akal sehat untuk terus menyala bagi yang masih sehat.

Saya mengajarkan anak-anak untuk tidak takut kepada binatang dan saya menjadi nyinyir kepada orang dewasa yang mayoritas berada di dua kutub : menakut-nakutin anak untuk takut dengan binatang atau mengajarkan anak bahwa menyiksa binatang itu wajar. Namun negeri ini sedang berjuang tertatih-tatih menjalani roda hidup, manalah sempat mereka memikirkan nasib binatang

Sumber kebahagiaan saya adalah ketika ada yang mengadopsi kucing-kucing.Saya bersama kucing-kucing ini ketika hidup susah, berbagi makanan, berjuang bersama. Saya terharu biru ketika mereka memperoleh orang-orang yang tidak memandang sebelah mata dengan kondisi mereka dan merawatnya dengan layak. Buat saya itu seperti memberi secercah harapan bahwa mereka bisa hidup layak dibanding dengan saya. Begitu pula ketika saya bisa menguatkan orang lain yang seperjuangan seperti saya.

Tentu yang terberat ketika mereka jatuh sakit dan akhirnya mati. Saya sampai berhenti menulis di blog untuk jangka waktu yang cukup lama karena masih terlarut sedih. Upik, Monday, Tabby. Kemudian seminggu ini disusul Karin Jr, Ali dan Leo. Ini bukan soal biaya yang dikeluarkan tapi soal bagaimana waktu dan perhatian yang saya curahkan. Seringkali memang mengurus kucing menyita waktu. Sumber konflik batin sebenarnya kalau partner mengajak saya pergi sampai larut malam lalu pulang mendapati kucing yang melemah. Di satu sisi saya diharapkan untuk ‘mencegah-daripada-mengobati’ di sisi lain saya juga diharapkan untuk tidak nonstop cuma mengurus binatang peliharaan.

Puji Tuhan, Goofy dan Pippo selalu diberkahi kesehatan dari Tuhan. Saya tidak bisa membayangkan kalau mereka juga rutin sakit. Saat ini ada pula Boy yang dititipkan sementara sampai dapat adopter. Cukup menciptakan keributan tapi saya terus komat kamit mantra ‘nothing lasts forever‘ 100-200x sehari *lebay*

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s