Pertama Kali : Dapoe Aceh Melayu

 

Saya cukup familiar dengan restoran ini karena saya sempat bertahun-tahun bergereja di Plasa Sentral lantai 11 cuma karena keterbatasan dana hidup saya tak jauh-jauh dari makan di Mc D atau.. Bakmi Gang Kelinci.. hehehe. Kebetulan karena partner akan menunaikan ibadah makan siang di sana, saya sekalian saja ikut untuk icip-icip.

Prinsipnya sih saya mau mencoba masakan Aceh di luar Mie Aceh dan nasi lemak (kalau ga salah ya maapkeun kalau salah penamaan) yang pernah disajikan teman saya ketika Lebaran 2015. Secara umum makanan di Dapoe Aceh Melayu memang enak. Perkara originalitas saya tidak tahu apakah rasanya sama persis dengan yang di Aceh sana atau sudah di-jawa-kan.

Saya celap celup ke :

  • Tahu Sutra: oalah sapo tahu jepang dikasi kuah kari ama telur. Kuahnya enak
  • Mie Aceh Spesial Kepiting. Pedas ladanya terasa tapi dari segi aroma semerbak bumbu lebih lezat mie aceh Bang Har. Mungkin penilaian saya subjektif karena cara masak Bang Har yang penuh ambisi. Namun beneran deh, yang sudah pernah makan Bang Har tahu Mie Aceh Bang Har ini lebih aceh daripada Dapoe Aceh Melayu *mbulet*. Segala bumbu yang sengak dengan rasa yang tajam dimenangkan oleh Bang Har. Kalau kepiting mah, tinggal pesen mbak-mbak Madura di Pasar Kemiri Muka ceburin deh ke Mie Aceh Bang Har. Ditemani dengan Pu Tauw dingin tibalah kita di surga dunia..
  • Ayam Tangkap Tsunami. Saya yakin di negeri asalnya ga pake tsunami-tsunamian cuma mungkin ini kembali ke nostalgia. Bumbunya berasa dan banyak. Enak. Bahkan daun karinya saya makan juga. Iya ulasan gw se-klise ini. apa lo apa lo apa lo
  • Udang Sambalado. Kecewa. Huh. Menang merah doang. kurang bumbu. Sebenarnya kalau saya disuruh memperbaiki juga bingung harus nambah-nambahi apa cuma ada yang kurang aja *merenung*
  • Bebek Masak Kurma layak coba banget. Ga keliatan sih kurma yang berenang-renang tapi untuk yang suka kombinasi manis, gurih seperti saya menu ini layak coba
  • Ikan Nila Tim Melayu Goreng direkomendasikan cuma saya agak kurang suka. Bumbunya enak tapi entah mengapa kurang berasa sampai di ikannya. Apa mungkin efek ikan Nila ya? Saya sendiri pernah coba Tim Patin (kalau ga salah) di Pempek Pak Raden Margonda dan itu enak banget. Bumbunya juga menembus ke ikan. Gurih, manis, pedas, asamnya pass.

Kegelisahan saya sepanjang makan mungkin tentang menu unggulan mereka yang mana adalah gulai bayi hiu. Sekalipun mereka mencantumkan di kotak tisu bahwa hiu yang mereka masak adalah hiu budidaya, saya tidak dengan mudah percaya dengan gimmick marketing 🙂 Ini setara dengan saya tidak ke Lapo yang menyajikan daging anjing 🙂 Namun toh ya saya sudah sampai di situ dan tidak tahu sebelumnya, semua harus ditelan.

Oh ya kelupaan, mereka menyajikan kopi tarik tapi tidak terlalu berasa. Mending minum kopi di MUG Margonda loh. MUG ini memposisikan diri sebagai penyaji kopi aceh. Pas sedap pokoknya. Antara MUG dan Kimung sejujurnya saya bimbang memilih (hhmmm, sepertinya pembahasan soal warung kopi trendi di sepanjang Margonda Depok bisa jadi penulisan tersendiri ya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s