ISTRI : Swarga Manut, Neraka Katut

Ramot 2

Pagi ini saya terbangun tepat jam 6 bukan karena saya mau lari pagi tapi semata-mata karena saya tersentak kaget dengan segala mimpi sepanjang malam. Mimpi yang meloncat-loncat ini biasanya terjadi ketika saya terlalu banyak pikiran. Namun untuk kali ini pikiran yang padat tersebut tidak mencederai kesehatan mental saya.

Kemarin sebuah situasi, kondisi, dan toleransi membuat kami sama-sama berhenti menyelesaikan pekerjaan. Kami duduk berbicara dengan kehilangan napsu makan (akibatnya, sekarang perut saya keroncongan. Ketupat sayur & bubur ayam sepertinya bisa saya makan langsung setelah postingan ini mengudara).

Sebuah peristiwa masa lalu yang membuat kami harus klarifikasi satu sama lain ternyata tidaklah semengerikan yang saya kira. Dalam sesi itu saya bisa melihat bahwa saya memperlakukan ramot dengan penuh kasih tanpa tuntutan apapun. Memang peristiwa masa lalu ini sebesar apa? Ini bukan soal besar kecil, ini soal saya tahu dari siapa. Saya tidak pernah suka menemukan fakta dari orang lain.

Ramot tahu persis, cara cepat membuat saya menjadi manusia yang kembali dalam kepahitannya adalah ketika saya menemukan sebuah rahasia terungkap. Ramot tahu saya baru mengalaminya kurang lebih dua minggu yang lalu & Ramot tahu persis berapa kali sehari saya menangis karena hal tersebut. Saya baru saja selesai dari duka tersebut (sekalipun lukanya tetap menganga) ketika saya menemukan sebuah peristiwa di masa lalu yang tidak tersampaikan seperti apa adanya ke saya. Lalu kemarin saya harus menghadapi lagi.

Percayalah, kemarin adalah hari yang menyedot energi. Urusan pekerjaan, merapikan gudang, membelikan hp karyawan, lalu saya harus bertemu seseorang yang membeberkan kenyataan dan ditutup dengan pertemuan bersama Ramot membuat pertanyaan + pernyataan. 3 tugas terakhir diselesaikan di Margo City yang sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 10. Mereka menyetel deretan lagu klasik termasuk Moonlight Sonata dari Mozart dan 1 lagu ciptaan Bach. Lagu-lagu yang suka saya setel ketika saya ingin melangut. Lagu-lagu yang selalu sukses membuat saya terlarut dalam kesedihan. Entah apa yang ada direncanakan alam semesta, bahkan Margo mengiringi peristiwa tersebut dengan lagu-lagu yang menyayat.

Beberapa tahun yang lalu ketika saya mengalami peristiwa dibohongi, saya langsung terserang kondisi tubuh menjadi dingin dengan kaki dan tangan kaku. Ketika itu saya nyaris kehilangan konsentrasi mengajar. Sekarang saya melihat bahwa saya bisa tetap menjaga tekanan darah dan tetap bisa fokus bekerja. Apakah ini tandanya saya telah terbiasa menghadapi rahasia? Yang membedakan antara sikap saya dua minggu yang lalu dengan kemarin adalah saya kehilangan kemarahan.

Saya benar-benar melihat Ramot dengan penuh kasih secara utuh. (Saya kl sudah kesal dengan orang biasanya menolak tatap mata). Kami benar-benar bicara tentang kami. Sesuatu yang telah lama tidak kami lakukan karena kesibukan dan pilihan hiburan (Ramot DOTA, gw Tumblr kelarrr). Di akhir kesimpulan pembicaraan, saya bilang bahwa saya tidak merasa berhak menghakiminya apapun karena toh selama ini ada hal yang saya simpan dari Ramot sejak awal pernikahan kami. Saya bilang kepada Ramot bahwa saya tetap mencintainya. Ramot sendiri tidak puas dengan jawaban saya mengapa saya tetap mencintai Ramot dengan kondisi yang akhirnya saya tahu adalah karena ‘bro emang cinta perlu alasan ya? cinta ya cinta aja sik‘ Namun di bawah rintik hujan akhirnya saya membuat kesimpulan seperti ini:

okelah kl gw bilang mencintai lu krn gw cinta terlalu klise, ini kesimpulan gw : gw mencintai lu secara utuh, tanpa syarat, (& tetap penuh gairah.. baru ditambahin sekarang sik ehehe) karena pada dasarnya kita berdua punya lubang hitam di dalam kepribadian kita yang sama-sama kita selesaikan. Anggap saja kita berdua adalah dua orang pecandu yang masuk rehab dengan candunya masing-masing, maka yang bisa kita buat adalah membentuk support group yang cuma beranggotakan dua orang untuk menjadi tangguh+kompak mengatasi lubang hitam masing-masing. Mungkin lubang hitam itu adalah bagian dari genetik. Mungkin ini. Mungkin itu. Tapi bukankah lebih enak dihadapi bersama. Mungkin gw tetap mencintai lu, sama-sama bertahan di ring komitmen ini karena gw tahu kita bisa menyelesaikan semua ini sampai hidup kita selesai. Mungkin jg karena lu satu-satunya sahabat yang gw miliki. Objek muntah-muntahan gw. Yang gw tahu, tanpa gw paham seperti apa kasih Yesus ke gw..gw akan…

Pembicaraan kami berakhir di situ ketika Mas Rizki tukang grab bike saya datang. Ramot kembali ke pekerjaannya. Mengapa judul postingan ini adalah Ramot 2? karena tentang Ramot pernah saya tuliskan. Langsung masuk ke bagian dua tidak akan membuat pembaca tergagap kebingungan, tapi membaca bagian pertama bisa mendapatkan gambaran utuh hubungan saya dengan Ramot hehe (dasar blogger butuh banyak view)
-.-.-.-
Ada satu momen ketika saya berbicara dengan orang yang memberikan informasi. Dia bilang bahwa seharusnya menjalani hidup dengan mekar seutuhnya. Kata-kata itu membangunkan saya. Saya seperti menemukan diri saya kembali yang optimis. Terlepas bahwa dia merasa dia layak di neraka, saya tahu Tuhan berbicara kepada saya melalui kata-kata yang ia ucapkan. Saya tahu Tuhan lebih banyak berbicara kepada saya justru di luar ruangan ibadah. melalui film, perenungan di atas motor, dan seringkali lewat orang-orang biasa yang saya temui. Bahwasanya saya yang bukan mahluk mall dan bisa kebetulan ada urusan di Margo City, buat saya, itu Tuhan sudah atur. 25 Maret 2016 saya berjalan dengan semangat baru. Saya harus sehat dan saya harus bisa mengatasi lubang hitam saya sendiri sehingga sepanjang waktu yang tersedia untuk saya, saya menyentuh kehidupan banyak orang baru bukan karena kuat dan hebat saya tapi karena saya punya kekurangan, saya punya trauma, saya jauh dari sempurna dan orang lain bisa belajar dari pengalaman saya.
image
image

One thought on “Ramot 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s