Bakat Bukan Takdir. Loh Kog Gitu @bukik ?

Bakat Bukan Takdir ini mengingatkan saya dengan buku self-assessment, buku pelatihan dan buklet konseling semasa kuliah. Saya suka sekali dengan bagian-bagian yang mana pembaca perlu menuliskan kondisi mereka dan target yang ingin dicapai. Harap maklum, salah satu penulis buku ini, Andrie, memang telah malang melintang dalam dunia pelatihan. Bukik sendiri dikenal sebagai aktivis pendidikan. Buku ini seperti berbicara dua arah. Bukik dan Andrie menyampaikan sesuatu, lalu pembaca mencoba menerapkan atau menuliskan kondisinya saat ini.

Intinya buku ini soal mempersiapkan karier anak sejak dini. Ketika berbicara persiapan karier, harap tidak melihat sebagai sesuatu program ambisius yang menjemukan. Orang tua bertugas sebagai fasilitator yang membangkitkan keingintahuan anak sehingga anak memiliki kemerdekaan untuk belajar. Ada perbedaan antara belajar karena disuruh dengan belajar karena penasaran ingin mengetahui sesuatu. Yang ingin dijabarkan Bukik dan Andrie adalah yang kedua.

Kesalahan umum yang sebenarnya fatal tapi jadi lumrah di masyarakat era pendidikan pabrikan adalah:

  1. mempersiapkan karier anak dengan hanya melihat sebatas lulus ujian. Anak belajar hanya untuk tes. Orang tua memastikan anak lulus UN SD tinggi supaya bisa diterima di SMP terbaik, lulus UN SMP supaya bisa diterima di SMA terbaik. Menjelang SMA, anak baru gelagapan memikirkan jurusan apa yang dipilih karena tidak ada satu pun keahlian hidup yang mereka kuasai secara optimal. Taruhlah mereka menguasai bermain musik, orang tuanya tidak cukup punya keberanian investasi di pendidikan musik apalagi mendorong anak-anak mulai menyusun portfolio dalam bentuk video di Youtube misalnya.
  2. Berpikir bahwa bakat yang akan menjadi karier mereka cuma satu padahal 1 manusia bisa memiliki beberapa bakat yang diasah dan dipertajam sepanjang seorang manusia itu hidup. Itu berarti terlambat jika baru memikirkannya ketika anak sudah SMA.

bakat bukan takdir hal 44

Seringkali orang tua saat ini yang mana adalah hasil pendidikan pabrikan (baca: pendidikan yang bersifat satu arah untuk mempersiapkan lulusan jadi karyawan dengan tugas rutin) tidak cukup mau mengubah pola pikirnya bahwa BELAJAR untuk LULUS UJIAN sudah usang untuk abad 21. Potensi yang dimiliki setiap individu yang dilahirkan ke dunia seharusnya diasah sedemikian rupa karena 10-20 tahun yang akan datang begitu banyak profesi kreatif yang muncul.

bakat bukan takdir hal 40

Orang tua mengeluhkan pendidikan Indonesia yang masih semakin sulit dan sibuk memastikan anaknya lulus di setiap ujian tapi di sisi lain melupakan bahwa anak-anak mereka melihat potensi yang bisa menjadi bakat dan mendukung karier mereka. Di sini lah Bukik dan Andrie ingin memberi tahu, bakat bukan takdir. Bakat perlu terus dilatih dengan konsisten belajar. Tentu saja belajar ini tidak akan menjadi menjemukan karena anak tahu ia ingin potensi yang ia miliki terus tumbuh dan berkembang.

Banyak sekali lembar kerja yang bisa digarap oleh orang tua di buku ini. Untuk yang masih percaya bahwa kecerdasan diukur dengan angka dan dijadikan topik pembicaraan dalam ajang acara keluarga, siap untuk menerima kenyataan bahwa kecerdasan itu majemuk. Bingung? silakan baca buku ini dan yang lebih seru lagi hanya dengan mendaftarkan surat elektronik ke Bakat.TemanTakita.com, anda bisa mendapat berita terbaru seputar pelatihan pengembangan bakat anak dari Takita.

bakat bukan takdir af

Last but not least,dear parents, you are facilitator. Your kids are not responsible to accomplish your broken dreams.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s