Tidak Ada yang Salah dari Menyerah. Semuanya Terserah!

Entah bagaimana orang menggunakan jargon Jangan Menyerah tiada henti seperti seolah-olah menyerah itu salah, menyerah itu kalah, menyerah itu payah. Orang sering lupa ada investasi emosi yang besar untuk bertahan dan tidak menyerah. Tiap individu punya kapasitasnya sendiri mau seberapa jauh bertahan dalam sebuah usaha. Mahluk hidup lain yang tidak menjalani seharusnya cukup bertugas memberi dukungan dan semangat secukupnya tanpa perlu mengucapkan ‘Jangan Menyerah’

Eh ini tulisan bukan untuk nyinyirin siapapun. Ini tulisan refleksi 12 tahun. 2004 menjadi titik tolak saya memandang hidup. Ketika itu saya pernah mengucapkan ‘Jangan Menyerah’ kepada alm bapak yang berjuang melawan stroke. Sekarang saya paham, itu adalah tindakan teregois yang pernah saya lakukan dalam hidup. Saya tidak di posisinya yang terkapar dan bertahan hidup. Saya seharusnya bilang ‘Lakukan apa yang membuatmu paling nyaman dan bahagia’ dan mungkin ketika itu alm bapak meninggal dengan tenang tanpa harus menghabiskan waktu 2 minggu di ICU..

Dua tahun kemudian saya lulus kuliah dan menerima kenyataan hidup bahwa sebesar apapun keinginan saya untuk memperoleh beasiswa, saya lebih sering menerima surat penolakan daripada titik terang. Orang bisa bilang ‘Jangan Menyerah. Tetap nyalakan api semangat‘ ala mantan agen asuransi Singapura yang sekarang kembali ke Indonesia untuk  jadi… motivator pujaan kawula muda. Namun orang lupa, ada banyak hal yang ditaruh untuk kembali mencoba dan meneruskan sesuatu yang tidak menunjukkan titik terang.

Untuk tidak menyerah, orang perlu dengan riang menjalani hidupnya dan dengan santai mengeluarkan biaya untuk memperoleh apa yang ia inginkan. Saya mungkin terlihat gampang menyerah soal lanjut S2 dan masih banyak mimpi lain yang banyak saya tutup rapat. Namun cuma saya sendiri yang tahu kapasitas kewarasan apakah saya mau terus menerus mengusahakan sesuatu atau berhenti saja.

Saya pernah berhenti mengusahakan pernikahan karena pada dasarnya saya merasa peresmian sebuah hubungan di Indonesia buang-buang uang dan semua cuma diisi sebuah upacara pepesan kosong. klise. Ketika akhirnya saya kembali harus memikirkan soal nikah di awal 2014 dengan setengah niat kebanyakan nggak, saya sudah tidak tertarik membuat segala sesuatu sempurna. Ada syukur, batal lagi gue juga ga peduli wek. Saya ingat di tahun 2014 akhirnya saya menyerah membuat gaun pengantin impian saya. Lah wong untuk katering aja ngutang koq ngapain nambah utang dengan pakaian yang dipakai satu kali. Toh solusinya ketika itu saya dapat pakaian dari klien yang buat saya cukup untuk saya pakai pas hari H.

Tidak semuanya memang saya putuskan untuk menyerah. Misalnya hidup di Depok. Saya toh akhirnya bisa menikmati sekalipun di tahun pertama saya merasa jauh dari mana-mana (ya kalau orientasinya Senayan – Pondok Indah memang capek duluan sih). Namun ketika itu saya memilih untuk mengenal lebih dekat kota ini dan di tahun ke-5 saya jauh lebih paham setiap sudut Depok dibanding orang Depok sendiri. Tentu keputusan saya untuk terus melanjutkan hidup di Depok bukan dengan ngoyo luar biasa. Ada naik turun emosinya tapi makin ke sini makin positif (walau bikin saya jadi males sentuh Jakarta kalau ga ada urusan mendesak ahahaa). Justru di tahun ke-5 ini saya paham saya pindah ke Depok untuk merintis steril kucing yang tidak pernah terpikirkan oleh orang Depok sebelumnya.

Akhir kata, tidak ada yang bisa mengukur kapan harus menyerah kapan harus ngeyel maju. Cuma diri kita sendiri yang tahu. Orang lain di luar sana bisa seenaknya komentar ‘ih koq gampang menyerah. doa dong minta kekuatan dari Tuhan. Percaya saja‘. Sayangnya mereka bukan bantal yang malam-malam kita peluk, kita tangisi dan kita ileri ketika kita terkapar pasrah.

Tukang Pet Jek
ini cuma gegayaan. Aslinya bawa kucing ga boleh begini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s