Justin Bieber Mogok Konser: Tinjauan Psikologis

Justin Bieber kembali membuat geger dengan berhenti di tengah konser beberapa minggu yang lalu. Apakah ini bentuk sikap Justin Bieber yang arogan? atau ini lebih karena tekanan psikologis sebagai seorang idola?

Beberapa hari yang lalu netizen kembali dikejutkan dengan berita Justin Bieber berhenti di acara konsernya sendiri karena penonton di Manchester tidak berhenti berteriak. Sebagian fans merasa kecewa dengan tindakan ini sekalipun Bieber telah menjelaskan bahwa dia merasa tidak dihargai dengan teriakan-teriakan tersebut.

Sebelumnya Justin Bieber menghapus akun Instagramnya karena komentar negatif fansnya terhadap pacarnya saat ini. Orang awam mungkin melihat Justin Bieber sebagai orang yang arogan atau pemarah. Namun ada hal-hal yang dia alami, yang belum tentu kita orang awam kuat menghadapi. Orang biasanya ingin menjadi terkenal tapi sebenarnya ada konsekuensi yang harus dihadapi apalagi ketika menjadi idola remaja.

Ketika Justin Bieber mengawali video cover Youtubenya, tentu dia tidak menduga bahwa sambutan yang dia peroleh bagai pedang bermata dua. Banyak remaja histeris melihatnya, tapi banyak pula orang-orang dewasa yang mem-bully nya ketika ia baru berusia 15 tahun. Usia remaja dalam tahap perkembangan psikologis adalah usia yang membutuhkan identitas dan kebingungan peran. Ketika di satu sisi dia dipuja dan di sisi lain dicela sebagai banci. Justin Bieber sendiri berusaha mengubah citra diri dari remaja pria yang manis menjadi remaja yang memberontak. Sindiran, celaan dan kekaguman datang bersamaan. Di tengah kejaran paparazi, jadwal latihan (orang yang paham olah vokal paham, pubertas mengubah suara sehingga penyanyi yang tenar ketika remaja perlu berlatih keras untuk vokal yang prima) dan tuntutan pekerjaan, tidak heran jika kemudian Justin Bieber sempat beberapa kali melakukan tindakan melanggar hukum

Saat ini Justin Bieber sudah memasuki usia dewasa muda. Orang sering beranggapan bahwa di usia ini orang bisa lebih bijak bertindak. Padahal di tahap usia ini, Erikson menyatakan seorang individu berada di tahap eksplorasi dalam sebuah hubungan. Dengan ketenaran yang ia miliki saat ini, hampir sulit buatnya menjalin hubungan karena dia tidak bisa membedakan apakah orang yang saat ini dekat dengannya sedang menumpang ketenaran atau sungguh peduli dengan dirinya.

Kesimpulannya? Ketenaran selalu datang dengan konsekuensi dan tidak semua orang (maupun keluarga yang mendampingi) siap menghadapinya. Justin Bieber sendiri sempat pernah menyatakan ingin mengundurkan diri dari dunia musik. Siapkah dia menjadi orang biasa saja? siapkah dia tidak lagi menerima tawaran iklan dan menikmati keistimewaan sebagai seorang idola? Mari kita simak bersama. Kamu sendiri apa yang kamu lakukan jika berada di posisi Justin Bieber?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s